Menjaga Tradisi di Lembah Sunyi: Harmoni Kehidupan Masyarakat Kampung Naga
Oleh: IIrvan Tibed Jlb AL:

Di tengah derap modernisasi Kabupaten Tasikmalaya, terdapat sebuah oase peradaban yang tetap kokoh menampung amanat leluhur. Kampung Naga bukan sekedar destinasi wisata, melainkan simbol konsistensi masyarakat dalam menjaga keseimbangan antara perumahan, alam, dan spiritualitas. Dengan arsitektur yang seragam dan aturan adat yang tak lekang oleh waktu, kampung ini menjadi bukti hidup bagaimana nilai-nilai masa lalu masih relevan menuntun kehidupan di masa kini.
Begitu kokoh di atas lahan seluas 1,5 hektar di Desa Neglasari, Kecamatan Salawu, Kampung Naga terus mempertahankan eksistensinya sebagai kampung adat yang religius dan bersahaja. Hingga Jumat, 24 April 2026, tercatat sebanyak 102 Kepala Keluarga (KK) dengan total 287 jiwa mendiami lembah pinggiran ini, hidup berdampingan dalam harmoni yang terjaga.

Nampak secara alami Lanskap (Tata wilayah) Kampung Naga menampilkan estetika yang unik dan sangat teratur. Terdapat 109 bangunan yang berdiri di sana, termasuk fasilitas umum seperti masjid, balai kampung, dan lumbung padi (leuit).
Salah satu ciri khas yang paling menonjol adalah keseragaman arsitekturnya. Seluruh rumah berbentuk persegi panjang dan wajib menghadap ke dua arah saja, yakni Utara atau Selatan.
Secara teknis, bangunan di Kampung Naga merupakan mahakarya kearifan lokal. Lantainya menggunakan palupuh (bilah bambu), dinding dari bilik bambu dengan anyaman sasag, serta pondasi batu pegunungan. Bahan alami ini dipilih bukan tanpa alasan, melainkan sebagai bentuk adaptasi terhadap lingkungan dan simbol kemudahan.
Untuk menyambung hidup, sebagian besar masyarakat setempat menggantungkan nasib pada sektor pertanian dan berwiraswasta. Meski terbuka terhadap pendatang, masyarakat Kampung Naga sangat ketat menjaga rahasia adat mereka. Terdapat pantangan atau larangan unik: setiap hari Selasa, Rabu, dan Sabtu, warga dilarang keras membicarakan soal adat istiadat maupun asal-usul kampung kepada pihak luar.
Seluruh tatanan hidup ini bermuara pada penghormatan mendalam terhadap hikayat Eyang Sembah Singaparna. Beliau adalah sosok cikal bakal sekaligus leluhur agung yang meletakkan landasan moral dan aturan di Kampung Naga. Bagi masyarakat setempat, menjaga tradisi ini bukan sekedar kewajiban, melainkan cara mereka menghargai akar sejarah yang telah membentuk jati diri mereka hingga hari ini.

IIrvan Tibed Jlb AL
✦ Tanya AI