• Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh
Hari

Your cart

Price
SUBTOTAL:
Rp.0

Pesona Kebaya Mojang Wahegar Pukau Pendopo Garut di Hari Jadi ke-4

img

Kop Penulis.jpg


Komunitas Wanita Hebat Garut (Wahegar) sukses menggelar perayaan hari jadi (milad) ke-4 di Gedung Pendopo Kabupaten Garut, Kamis (4/6/2026) dengan menghadirkan lomba fashion show bertajuk "Kebaya Mojang Wahegar". Acara ini mengusung slogan “Wahegar Berkebaya untuk Dunia” sebagai langkah konkret melestarikan sekaligus menyosialisasikan kembali pakaian tradisional khas Jawa Barat.


Kegiatan ini mengusung tema pemanfaatan semangat perjuangan melalui perebutan Trofi Lasminingrat. Melalui kompetisi ini, Wahegar berupaya menghidupkan kembali semangat perjuangan tokoh perempuan legendaris Garut. Tokoh pahlawan lokal tersebut dinilai memiliki andil besar dalam meletakkan fondasi emansipasi, kesetaraan gender, dan hak pendidikan bagi perempuan. 


Peserta Lomba Kebaya Wahegar.jpg

Ketua Komunitas Wahegar, Susi Sabion, dalam sambutannya menjelaskan bahwa rangkaian acara milad ke-4 ini dirancang untuk membakar semangat kaum hawa. “Tujuannya untuk memberi stimulasi bagi perempuan agar bisa lebih aktif dan berdaya disegala bidang,” singkatnya.


Senada dengan hal itu, Ketua Pelaksana Acara, Ani Suhartini, M.Pd., menuturkan bahwa esensi dari lomba kebaya ini adalah untuk menegaskan kembali identitas bangsa. Menurutnya, kebaya bukan sekadar pakaian tradisional, melainkan jati diri perempuan Indonesia. “Lomba kebaya ini diikuti oleh peserta perempuan yang tidak hanya datang dari Garut, tetapi juga dari Bandung dan kota-kota lainnya,” ucap Ani penuh semangat.


Talk Show.jpg

Dalam rangkaian acara milad Wahegar ke-4 dilaksanakan juga acara Talk Show yang bertema "Perempuan menjaga Bangsa" dengan mengangkat nilai-nilai budi pekerti "Dasa Daya Waluya" yang menghadirkan Narasumber: Bunda Dr. Dra. Eni Sumarni ST.M.Kes sebagai Ketua Umum Pasundan Istri (PASI) dan Ambu Rita Laraswati (Budayawati Jawa Barat dan Pendiri Ketua Yayasan Sunda Tigabelas Buhun).


Bunda Eni selaku Ketua umum PASI menerangkan apa arti dari Dasa Daya Waluya, beliau menyampaikan, bahwa Dasa Daya Waluya adalah sepuluh nilai budi pekerti untuk membawa manusia sehat lahir batin. Sepuluh Dasa Daya Waluya yaitu Cageur, Bageur, Bener, Pinter, Singer, Junun, Akur, Jujur, Ludeung, Tuneung. Dasa daya Waluya merupakan warisan dari Emma Poeradirdja sosok perempuan pelopor yang memiliki banyak kiprah untuk perempuan.


“Harapan kedepannya Dasa Daya Waluya dapat dijadikan kunci membentuk perempuan yang dapat menjadi penjaga bangsa. Dengan berdasar pada agama, moral yang baik maka perempuan akan mencetak anak-anak yang memiliki karakter Dasa Daya Waluya,” tandasnya.


8ac0c9a9-b057-4edd-9cd3-33556a064a02.jpg

Ambu Rita Laraswati 

Sementara itu, Budayawati Ambu Rita Laraswati menjelaskan, bahwa kondisi zaman saat ini dengan semakin majunya teknologi dan media membuat mudahnya budaya bangsa lain masuk dikehidupan anak kita, sehingga budaya tanah air kita berupa nilai-nilai budi pekerti tradisi yang pernah diajarkan oleh nenek kakek kita semakin langka diperdengarkan dan dilaksanakan. Dengan Dasa Daya Waluya warisan dari seorang tokoh perempuan yang kiprahnya nasional dan internasional melalui pergerakan perempuan dalam wadah organisasi Pasundan Istri dapat menjadi ilmu oleh para perempuan dalam mendidik anak-anak generasi saat ini dan generasi mendatang. 


Selanjutnya Ambu Rita Laraswati menegaskan bahwa Dasa Daya Waluya dari warisan Pasundan Istri berasal dari nilai-nilai kearifan lokal tanah Sunda yang terdapat dalam Naskah Sanghyang Siksakandang Keresian sebagai pedoman hidup untuk mencapai kemulian dan kesejahteran yang terkandung dalam ajaran "Dasa Pasanta" yaitu Bijaksana, Ramah, Sayang, Memikat hati, Penuh kasih, Iba kepuasan, Memuji, Membesarkan hati, menyambut hati dan gembira. 


Dalam naskah kuno Amanat Galunggung disebut "Mungku kahaja urang miprangkeun si tepet benar, si duga, si tuarasi, Sida drung kulakadang, mulai mulah munuh tanpa dewasa, mulah". (Janganlah dengan sengaja kita merebutkan yang lurus, yang benar, yang jujur, dan murah hati).


“Dasa Daya Waluya sangat relevan untuk dihidupkan kembali dan dijadikan pedoman moral pada zaman sekarang. Nilai ini menjadi benteng untuk menjaga generasi muda tetap berpijak pada budi pekerti luhur tanah air yang berakar dari falsafah Sunda,” ujarnya. 


Ia menambahkan, bukti nyata perempuan berperan sebagai penjaga bangsa tercermin dari kiprah Emma Poeradirdja. Tokoh perempuan ini mendirikan Organisasi Pasundan Istri (PASI) pada tahun 1930. Gerakan tersebut lahir dari kesadaran mendalam Emma akan pentingnya keterlibatan aktif perempuan dalam perjuangan kemerdekaan. "Artinya, sejak masa pergerakan, Emma Poeradirdja telah mengambil peran nyata sebagai perempuan penjaga bangsa," imbuhnya. 


Menutup pembicaraannya, ia berharap seluruh anggota Wahegar dapat meneladani ketangguhan para tokoh perempuan masa lalu. Nilai-nilai historis tersebut diharapkan mampu memotivasi generasi masa kini untuk menjaga keutuhan bangsa melalui pelestarian budaya. “Mari jadikan falsafah Dasa Daya Waluya sebagai pegangan utama dalam membentuk kepribadian wanita yang hebat dan mandiri,” tutupnya. (AS).











© Copyright 2024 - Mahkotaindonesia.com
Added Successfully

Type above and press Enter to search.