Kemanakah Sebaiknya Program Peningkatan Daya beli dan Kesejahteraan Masyarakat Garut di Desa-Desa Diarahkan?
Oleh: H. DEDEN SOPIAN, S.H.I
(Ketum Forum Ketahanan dan Kemandirian Pangan Masyarakat Desa, Penasehat DEPICAB SOKSI Kab. Garut & Penasehat ABPEDNAS Kab. Garut)

H. Deden Sopian, Wakil Ketua III PM GATRA
Kita tentunya harus memahami dan mengetahui dulu apa saja potensi yang ada di wilayah desa.
Yang biasa ada di desa diantaranya :
1. Lahan pertanian sawah/kebun
2. Ternak Domba, Sapi, Ayam
3. Kolam ikan
4. Warung – warung kecil dilingkungan RW
Mata pencaharian masyarakatnya adalah petani gurem yang menggarap lahan rata-rata 200 tumbak / 0,2 Hektar dan buruh tani hampir 70 persen.
Potensi pasar / penduduk rata - rata 6.000 jiwa atau 1.000 KK. Kebutuhan biaya hidup 6.000 jiwa x Rp. 400.000 per bulan = Rp. 2,4 Milyar.
Dengan uang Rp. 2.400.000.000 perbulan pengeluaran warga satu desa (itulah potensi pasarnya).
Adapun kebutuhan pokok sehari - hari mereka yang bisa diberdayakan oleh masyarakat desa adalah :
1. Telor ayam : kebutuhan 3.000 butir per hari atau 90.000 butir per bulan.
2. Daging Ayam : 200 kg per hari atau 6.000 kg per bulan.
3. Ikan : 60 kg per hari atau 1.800 kg per bulan.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut BUMDesa dan KDMP bisa berkolaborasi untuk membuka peternakan Ayam petelur dan pedaging juga Ikan air tawar bersama masyarakat dengan populasi :
1. Ayam petelor 5.000 ekor (Keuntungan per bulan Rp. 25.000.000 )
2. Ayam pedaging 5.000 ekor, (Keuntungan per bulan Rp. 18.000.000)
3. Ikan 5 x 7 cm 90.000 ekor, (Keuntungan per bulan Rp. 5.000.000 )
Jumlah keuntungan per bulan untuk BUMDesa 25.000.000 + 18.000.000 + 5.000.000
= Rp. 48.000.000
Keuntungan per tahun sekitar Rp. 576.000.000,-
Dengan jumlah dan kebutuhan masyarakat desa yang dijelaskan diatas tentunya pemda harus mendorong agar uang yang ada dimasyarakat bisa berputar membeli barang di wilayah desanya masing-masing.
Untuk bisa berbelanja di warung - warung dibawah binaan KDMP dan BUMDesa.
Pemda harus membantu agar produksi hasil panen petani yang hanya 200 tumbak itu bisa meningkat melalui program intensifikasi pertanian dengan memanfaatkan tanah dan lahan yang ada.
Jika lahan sawah di dorong pola intensifikasi maka 200 tumbak lahan akan menghasilkan 2.000 kg gabah dan jika diuangkan dengan harga Rp. 6.500 per kg = Rp. 13.000.000 per musim, dikurangi biaya garap Rp.2.000.000 = Rp 11.000.000 atau Rp. 2.750.000 per bulan.
Kebutuhan rata rata-rata 5 jiwa anggota keluarga dikali Rp. 400.000 = Rp. 2.000.000 berarti mereka masih punya sisa belanja untuk kebutuhan rumah tangga Rp. 750.000 (bisa untuk jajanan anak dan lainnya ). Dengan langkah seperti itu maka keluarga tersebut akan hidup mandiri.
Jika pemerintah membiarkan masyarakat petani dengan kebiasaan bertani konvensional seperti saat ini maka dari lahan 200 tumbak yang di garap konvensional hanya akan menghasilkan 1.500 kg gabah jika harga gabah Rp. 6.500 per kg = Rp. 9.750.000 per musim dipotong biaya garap Rp. 2.000.000 = Rp 7.750.000 atau Rp. 1.800.000 per bulan.
Dengan kebutuhan rata rata Rp. 400.000 x 5 anggota keluarga = Rp. 2.000.000 maka tiap bulannya akan dikurangi Rp. 200.000 belum kebutuhan uang jajan anak sekolah, bayar litrik dll, kalau saja Rp. 500.000 maka akan kekurangan sekitar Rp. 700.000 per bulan.
Disinilah dimulainya permasalahan masyarakat muncul karena mereka harus memenuhi kebutuhan, maka akan meminta bantuan untuk pinjam bank emok buat menutup kekurangan yang Rp. 700.000 per bulan. Maka akhirnya terlilit utang dan jatuh MISKIN.
Bagi pengusaha warung jika penghasilan petani Rp. 2.750.000 per bulan maka dia akan belanja Rp. 2.500.000 per KK per bulan dan kalau punya pelanggan 20 kk maka dia akan mendapat omset bulanannya Rp. 50.000.000 dengan keuntungan 10 % pedagang akan berbohong Rp. 5.000.000 per bulan.
Jumlah warung rata rata per RW 5 unit dan per desa 50 unit (50 kk atau 250 jiwa yang bermata pencaharian pedagang warung) akan hidup sejahtera.
Namun, jika tingkat pendapatan masyarakat masih berada di tingkat konvensional (rata-rata), warung tersebut dapat bertahan saja sudah merupakan pencapaian yang bagus.
H. DEDEN SOPIAN, S.H.I.
✦ Tanya AI