• Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh
Hari

Your cart

Price
SUBTOTAL:
Rp.0

Wanoja Garut Utara, Penjaga Peradaban Sunda

img


Oleh: 

Aep Saepudin, S.Ag. (Wakil Ketua Umum PM GATRA Bidang Pendidikan, Sosial dan Budaya) 


70aef722-b9c8-4cad-84d7-56c7ad467e2e.jpg


Di tengah derasnya arus globalisasi dan perubahan sosial yang begitu cepat, pelestarian budaya daerah menjadi tanggung jawab bersama. Kemajuan suatu daerah tidak hanya diukur dari pembangunan jalan, gedung, atau pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kemampuannya menjaga identitas, nilai, dan jati diri masyarakat yang diwariskan oleh para leluhur.


Dalam khazanah budaya Sunda, perempuan atau wanoja menempati posisi yang sangat terhormat. Sejak dahulu kala, perempuan Sunda bukan sekadar pendamping dalam kehidupan keluarga, melainkan pendidik pertama bagi anak-anaknya, penjaga akhlak, pelestari bahasa ibu, serta pewaris adat istiadat yang membentuk karakter masyarakat. Dari tangan seorang ibu lahir generasi yang mengenal tata krama, menghormati sesama, mencintai tanah kelahirannya, dan memahami akar budayanya. Kesuksesan seorang pria yang telah berhasil menjadi pemimpin bangsa/negara/pemimpin umat dibelakangnya ada seorang wanita/perempuan dan perhiasan sejati dunia yang paling indah adalah seorang istri shalehah. 


Atas dasar itulah, keberadaan Wanoja Gatra memiliki makna yang jauh lebih besar dari sebuah organisasi perempuan. Wanoja Gatra adalah ruang pengabdian yang diharapkan mampu menjadi motor penggerak pelestarian budaya Sunda di Garut Utara. Perannya bukan sekadar mendukung kegiatan organisasi, tetapi menjadi pelaku utama dalam menjaga nilai-nilai luhur yang menjadi landasan kehidupan masyarakat.


Rencana penyelenggaraan Sawala Budaya Sunda merupakan langkah yang sangat strategis. Kegiatan ini bukan sekedar seremoni budaya, melainkan media pendidikan karakter, ruang silaturahmi antargenerasi, sekaligus upaya memperkuat kecintaan masyarakat terhadap sejarah dan warisan para karuhun.


Prosesi Melungsurkan Tujuh Pusaka Indung, Sungkeuman Indung, serta penggunaan Kebaya Lasminingrat bukan sekadar simbol atau pertunjukan budaya. Di dalamnya terkandung pesan moral tentang penghormatan kepada orang tua, penghargaan terhadap perempuan sebagai sumber kehidupan, serta komitmen menjaga nilai-nilai yang telah membentuk peradaban Sunda selama berabad-abad.


Namun pelestarian budaya tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial. Budaya harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Bahasa Sunda harus tetap digunakan dengan bangga. Nilai silih asih, silih asah, dan silih asuh harus terus dipraktikkan dalam keluarga maupun kehidupan bermasyarakat. Gotong royong, musyawarah, dan rasa hormat kepada orang tua harus tetap menjadi karakter masyarakat Garut Utara.


Oleh karena itu, saya mengajak seluruh elemen masyarakat, tokoh adat, tokoh agama, insan pendidikan, pemerintah, dan terutama generasi muda untuk memberikan dukungan terhadap gerakan pelestarian budaya yang digagas PM GATRA. Membangun Garut Utara bukan hanya membangun wilayahnya, tetapi juga membangun manusianya. Dan membangun manusia berarti memperkuat pendidikan, moral, budaya, serta jati diri bangsanya.


Kita ingin Garut Utara tumbuh menjadi daerah yang maju secara ekonomi, kuat secara sosial, dan kokoh dalam mempertahankan identitas budayanya. Sebab masyarakat yang kehilangan budayanya akan kehilangan arahnya, sedangkan masyarakat yang menjaga budayanya akan memiliki pijakan yang kuat dalam menghadapi perubahan zaman.


Semoga Wanoja Gatra menjadi inspirasi lahirnya generasi perempuan Sunda yang cerdas, berakhlak, berbudaya, serta mampu menjadi penjaga warisan leluhur bagi anak cucu di masa depan. Melestarikan budaya bukan berarti hidup di masa lalu, melainkan membawa nilai-nilai luhur masa lalu untuk mencapai masa depan.


Karena sesungguhnya, menjaga budaya adalah menjaga martabat. Tradisi Merawat adalah merawat peradaban. Dan memuliakan perempuan berarti memuliakan masa depan bangsa.


Aep Saepudin, S.Ag. 

(Wakil Ketua Umum PM GATRA Bidang Pendidikan, Sosial dan Budaya) 

© Copyright 2024 - Mahkotaindonesia.com
Added Successfully

Type above and press Enter to search.