Keamanan Jiwa Jadi Alasan Rencana Relokasi SLB-C Tarogong Kidul

Pendidikan bagi anak berkebutuhan khusus memerlukan lingkungan yang tidak hanya inklusif, tetapi juga aman dan stabil. Namun, bagi SLB-C Yayasan Karya Bhakti di Tarogong Kidul, bayang-bayang bencana masa lalu menjadi alarm bagi masa depan pembangunan infrastrukturnya. Di tengah rencana penambahan ruang kelas baru, Pemerintah Kabupaten Garut kini dihadapkan pada pilihan sulit, yakni melanjutkan pembangunan di lokasi yang rawan, atau memindahkan sejarah panjang sekolah ini demi keselamatan jiwa.
Wakil Bupati Garut, Putri Karlina, mengisyaratkan kemungkinan relokasi bagi Sekolah Luar Biasa (SLB) C Yayasan Karya Bhakti yang berlokasi di Jalan RSU, Kecamatan Tarogong Kidul. Langkah ini menyusul status lahan sekolah yang dinilai rawan bencana, sehingga pembangunan fasilitas baru di lokasi tersebut memerlukan kajian mendalam.
Hal tersebut disampaikan Putri saat meninjau langsung lokasi sekolah pada Kamis (26/2/2026). Kunjungan ini merupakan tindak lanjut atas rencana bantuan pembangunan Ruang Kelas Baru (RKB) dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Meski dukungan anggaran tersedia, realisasinya terganjal isu peruntukan lahan sebagai hutan kota serta catatan merah dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).
"Saya coba cross-check, jika kegiatannya memang tidak berbenturan dengan aturan lain, tentu tidak akan kami halangi. Namun, ada satu pertimbangan krusial dari BPBD mengenai masalah rawan bencana," ungkap Putri.

Putri menegaskan, bahwa Pemkab Garut sangat mendukung peningkatan infrastruktur pendidikan bagi anak-anak berkebutuhan khusus. Namun, ia mengingatkan, keselamatan siswa adalah prioritas yang tidak bisa ditawar, terutama karena rencana yang diajukan adalah pembangunan gedung baru, bukan sekadar renovasi ringan.
"Makanya tadi saya tawarkan, lebih baik cari lokasi lain yang memang sudah ada gedungnya, bukan lahan kosong. Kebetulan ada opsi lokasi yang akan kami survei lagi. Ini menyangkut Keselamatan Prioritas Utama: Pemkab Garut Pertimbangkan Relokasi SLB-C Karya Bhakti untuk aspek kemanusiaan, apalagi ini bukan sekolah biasa," imbuhnya.
Kekhawatiran ini bukan tanpa alasan. Pada tahun 2016, saat banjir bandang Sungai Cimanuk melanda, bangunan sekolah ini terendam air hingga ketinggian 3 meter. Jika hasil kajian BPBD menyatakan risiko serupa masih tinggi, Putri menawarkan solusi relokasi ke aset bangunan milik pemerintah yang lebih aman.
"Jika bicara bencana, kita bicara soal nyawa manusia, terlebih ini anak-anak. Jangan sampai terjadi hal yang tidak diinginkan saat kegiatan belajar mengajar berlangsung," tegasnya.
Menanggapi hal tersebut, Kepala Sekolah SLB-C Yayasan Karya Bhakti, Tintin Nurnaeni, menjelaskan bahwa bantuan RKB tersebut rencananya akan dibangun di atas lahan kosong milik Pemerintah Daerah (Pemda) yang berada di area sekolah saat ini.
Ketua Harian Yayasan Karya Bhakti, Sidi Pramono, membenarkan sejarah panjang sekolah tersebut yang telah berdiri sejak tahun 1975 di atas lahan milik Pemkab Garut. Sekolah ini sempat berpindah-pindah sebelum akhirnya menetap di lokasi Jalan RSU sejak 1991.
"Baru sekali terkena banjir bandang besar pada 2016. Saat itu dampaknya sangat parah, terendam sampai 3 meter dan dokumen-dokumen sekolah hancur semua," kenang Sidi.
Sebagai langkah lanjutan, Pemerintah Kabupaten Garut akan segera berkoordinasi dengan BPBD dan dinas terkait untuk memutuskan kelayakan lokasi. Keputusan ini akan menjadi penentu demi menjamin keamanan, kenyamanan, dan keberlangsungan pendidikan bagi para siswa di SLB-C Karya Bhakti. (Jay).
✦ Tanya AI