Kalender Sunda Menuju Kalender Sunda Digital dan Pusat Pengetahuan Waktu Nusantara

BANDUNG, Sabtu, 20 Juni 2026 Masehi, Bertempat di Ruang Savoy 3, Hotel Savoy Homann, Jalan Asia Afrika No. 112, Bandung, telah diselenggarakan acara "Ritual Pengetahuan Cerdas Berbudaya". Acara ini bertepatan dengan Tumpek Kliwon Kartika 1963 Caka Sunda. Berdasarkan perhitungan Kalender Sunda, momen tersebut jatuh pada Tumpek Kliwon, 12 Kresnapaksa, sasih Kartika 1963 Caka Sunda. Sementara itu, dalam penanggalan Saka Sunda, hari tersebut jatuh pada Tumpek Kliwon, 30 Kanem 1948 Saka Sunda, Wuku (21) Maktal.
Yayasan Bestdaya rutin menyelenggarakan Ritual Tumpek Kliwon setiap bulan berdasarkan penaggalan Caka Sunda. Namun Tumpek Kliwon kali ini terasa berbeda dari biasanya karena menjadi momen bersejarah dalam proses sosialisasi dan pengenalan kalender Sunda kepada masyarakat.
Momen bersejarah tersebut ditandai dengan proses penandatanganan nota kesepakatan kerja sama (Memorandum of Understanding) antara Yayasan Bestdaya dan Bandung Fe Institute. Kerja sama ini mengusung tema dan tujuan: "Pengembangan, Pengelolaan, dan Pemanfaatan Sistem Informasi Pengetahuan Budaya, Kalender Sunda Digital Sukra Kala, dan Pusat Pengetahuan Waktu Nusantara."
Dalam acara tumpek Kliwon menghadirkan beberapa tamu undangan dari beberapa lembaga budaya ungsur dan beberapa praktisi budaya Jawa Barat, diantaranya Dr. Ir. Hj. Eni Sumarni, M.Kes (Ketua umum Pasundan Istri), Ir.Rd. Roza R.Mintraedja, Ars (Lembaga Adat Keraton Pajajaran), Abah Enjom (Bumi Ageng Saketi), Abah Engkus Rusmana (Presidium Majelis Luhur Kepercayaan Indonesia Pusat), Abah Dodi (pengiat musik tradisional), Ambu Rita Laraswati (ketua Yayasan Sunda13 Buhun, yayasan Budaya Sunda Buhun). Selain tokoh-tokoh tersebut, acara ini menampilkan sejumlah tamu undangan lainnya.
Acara ini diselenggarakan oleh Bestdaya (Bengkel Studi Budaya) dan Institut Fe Bandung. Saat ditemui di lokasi, Miranda selaku pendiri Yayasan Bestdaya menjelaskan makna, tujuan, serta rangkaian kegiatan yang ada.
Acara yang diadakan pada hari Tumpek Kliwon ini turut menghadirkan tradisi Paraketan. Tumpek Kliwon dipilih sebagai momentum refleksi atas hubungan antara manusia, pengetahuan, dan waktu. Dalam sistem penanggalan Sunda, Tumpek merupakan puncak siklus Saptawara yang berpadanan dengan hari Sabtu, sedangkan Kliwon merupakan salah satu unsur Pancawara. Pertemuan Tumpek dan Kliwon membentuk momentum simbolis sebagai titik keseimbangan antara dimensi lahiriah dan batiniah, serta antara tindakan manusia dan hukum kosmik yang menaunginya.
Sementara itu, Paraketan dihadirkan sebagai suguhan simbol energi untuk saling mendekatkan dan mempererat niat serta gerakan yang baik. Tujuannya adalah agar semua pihak dapat bersatu dan saling mendukung dalam menghidupkan kembali nilai-nilai warisan leluhur.
Miranda juga menyampaikan pada tahun 1963 Caka Sunda, yang berada pada Tahun Hurang Tembey, Tumpek Kliwon pada bulan Kartika memiliki makna yang sangat istimewa, karena Kartika merupakan bulan pertama dalam siklus Candra Kala Sunda. Nama Kartika berasal dari gugusan bintang-bintang Kartika (Pleiades) yang sejak masa kuno menjadi penanda pergantian musim dan awal berbagai aktivitas kehidupan di masyarakat agraris Nusantara. Oleh karena itu, Tumpek Kliwon Kartika bermakna "Pengbalikan Kana wiwitan" yaitu kembali kepada asa usul, kepada niat, kepada dasar pengetahuan yang akan memandu perjalanan satu siklus waktu ke depan. Makna Tumpek Kliwon Kartika juga merupakan ajakan kembali kita manusia untuk menata kembali hubungan manusia dengan waktu, alam, ilmu pengetahuan dan kebudayaan.
Sedangkan makna Hurang Tembey berarti masanya memperkuat akar, pondasi dan membangun struktur yaitu "Mangsa nyusun tatapakan pikeun kahareup" (Masa menyusun landasan untuk masa depan). Jadi sangat tepat bila di Tahun Hurang Tembey dalam gerakan penguatan kelembagaan, kerjasama, pembangunan sistim pengetahuan, dan penyusunan fondasi peradaban digital sesuai amanat leluhur kita harus bisa "Ngigelan Zaman" (Mengikuti Zaman) tapi dasar berpijak tetap pada nilai luhur warisan nenek moyang kita.
Tak kalah penting dalam momentum Tumpek Kliwon Kartika adalah Prosesi Penandatangan Kesepakatan Kerja sama yang merupakan deklarasi peradaban pengetahuan yang menghubungkan Kalender Sunda Digital, Sukra Kala Dan Pusat Pengetahuan Waktu Nusantara, ini merupakan ikhtiar bersama dalam menjaga, mengembangkan, dan memanfaatkan warisan pengetahuan Nusantara untuk masa depan. Tumpek Kaliwon Kartika 1963 Caka Sunda, Hurang Tembey menjadi simbol pertemuan tiga elemen besar yaitu warisan karuhun, ilmu pengetahuan dan teknologi masa depan atau "warisan elmu karuhun ngajadikeun elmu pangaweruh ngigelan zaman ku tehnologi pikeun kahareup" (warisan ilmu inovatif menjadikan pengetahuan untuk zaman untuk hidup mendatang).
Prosesi Penandatanganan Nota Kesepakatan Kerja Sama antara Bestdaya (Bengkel Studi Budaya) dan Bandung Fe Institut dengan tema " Pengembangan, Pengetahuan, Pemanfaatan Sistim Informasi Pengetahuan Budaya, Kalender Sunda Digital, Sukra Kala, dan Pusat Pengetahuan Waktu Nusantara", dengan rangkaian acara di buka dengan Bubuka adat Sunda untuk tujuan mendapat berkah dan kebaikan, Sambutan ketua Bestdaya, Sambutan Perwakilan Bandung Fe Institut, Pemaparan Nota Kesepakatan Kerja Sama dan isi Pokok kerja sama, lalu Prosesi Penandatanganan Nota kesepakatan Kerja Sama, Proses Penyerahan Cendramata dan Publikasi. Dalam Prosesi Penandatangan Nota Kesepakatan Kerja Sama rangkaian prosesi adalah Pembacaan Pokok Nota Kesepakatan, Penandatangan oleh ketua Bestdaya, Penandatangan oleh Perwakilan Bandung Fe Institute, Penyerahan Dokumen Kerjasama dan Dokumentasi di lebih lanjut Penyerahan Karya Publikasi budaya, Penyerahan Kalender dan Dokumentasi Pengembangan Kalender Sunda Digital dan Pertukaran cendramata antara kedua kelembagaan.
Waktu bukan hanya menghitung melainkan pengetahuan yang membentuk karakter manusia dan cara manusia memanfaatkan waktu untuk mencapai tujuan menjadi manusia yang berkemanusiaan. Sudah waktunya kita:
“Ngerikasa Pangaweruh Karuhun, Ngariksa Mangsa Kiwari, Ngawanin Mangsa Hareup” (Melestarikan Ilmu nenek moyang, Melestarikan pada zaman ini, Mewangikan Masa Depan”.

Ambu Rita Laraswati
Di akhir acara penulis melantunkan "Kidung Sunda". Kidung sakral ini dikumandangkan untuk mengawal nilai-nilai budaya Sunda agar kembali hidup dalam diri manusia, sekaligus menjadi energi pendukung demi melestarikan pengetahuan leluhur Sunda.
Penulis berharap kehadiran Kalender Sunda Digital dapat memperluas ruang sosialisasi yang adaptif terhadap zaman modern dan teknologi. Langkah ini menjadi cara untuk membuka kembali pengetahuan masa lalu yang sarat nilai dan spiritualitas. Dengan begitu, kita dapat menjemput kembali peradaban yang beradab, hidup selaras dengan zaman, serta menjadikannya kompas dalam menata kehidupan.
YAYASAN SUNDA13BUHUN
Bandung, 21 Juni 2026
Radite manis, 13 Kresnapaksa, Kartika, 1963 Caka Sunda

✦ Tanya AI