• Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh
Hari

Your cart

Price
SUBTOTAL:
Rp.0

Jalan Panjang Perjuangan Garut Utara

img

Jalan Panjang Perjuangan Garut Utara

Sebuah Refleksi tentang Pengabdian, Politik, dan Ketulusan

Bandung, 13 Juni 2026 

Oleh: Rd. H. Holil Aksan Umarzen


Banyak yang bertanya-tanya mengapa perjuangan pembentukan Kabupaten Garut Utara tidak dimulai sejak dulu sebagaimana Pangandaran, Bandung Barat, dan beberapa daerah otonom baru lainnya di Jawa Barat. Padahal, jika melihat luas wilayah, jumlah penduduk, posisi strategis, serta potensi ekonomi dan sejarahnya, Garut Utara sejatinya memiliki modal yang sangat besar untuk menjadi daerah otonom baru.


Jawabannya tidak sederhana atau tidak terlambat. Setiap daerah memiliki perjalanan, tantangan, dan momentum sejarahnya masing-masing.


Ketika gelombang perjuangan pembentukan daerah otonom baru berkembang pesat pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), saya pribadi justru tidak berada dan tidak beraktivitas penuh di Garut. Pada masa itu, aktivitas dan pengabdian saya lebih banyak berlangsung di Bandung, Jakarta, dan berbagai kota lainnya, termasuk menjalankan amanah dan kegiatan di Timur Tengah. Oleh karena itu, saya tidak berada dalam posisi untuk ikut membangun konsolidasi perjuangan Garut Utara sebagaimana yang kemudian dilakukan pada tahun-tahun berikutnya.


Ketika akhirnya kembali dan mendapat amanah dari para sesepuh, ulama, dan tokoh masyarakat untuk ikut mengawal perjuangan ini, saya memandangnya sebagai pengabdian kepada tanah kelahiran. Apa yang mungkin belum dapat dilakukan pada masa lalu, harus diikhtiarkan pada masa sekarang agar generasi mendatang tidak kehilangan kesempatan yang sama.


Dari semangat itulah lahir dan berkembang PM GATRA sebagai wadah bersama untuk menghimpun dan mengonsolidasikan perjuangan masyarakat Garut Utara. Sejak awal, PM GATRA tidak dibentuk sebagai organisasi sosial atau organisasi yang bergerak di banyak bidang, melainkan sebagai induk perjuangan pembentukan Calon Daerah Otonom Baru (CDOB) Kabupaten Garut Utara.


Oleh karena itu, PM GATRA tentu tidak dapat dibandingkan dengan organisasi-organisasi besar yang telah mapan. Organisasi ini tidak memiliki sumber daya besar maupun dukungan operasional yang tetap. Hampir seluruh aktivitas perjuangan dijalankan dengan semangat gotong royong dan kesukarelaan. Para pengurus dan relawan menyumbangkan waktu di sela-sela profesi dan tanggung jawabnya masing-masing, bahkan tidak sedikit yang harus mengorbankan tenaga, pikiran, dan biaya pribadi demi menjaga agar perjuangan ini tetap berjalan.


Perjalanan ini juga tidak selalu mudah. Perjuangan daerah otonom baru membutuhkan kesabaran, wawasan, kemampuan membangun jejaring, serta konsistensi yang panjang. Tidak sedikit energi yang terserap untuk menjaga kebersamaan, membangun konsolidasi, dan menyatukan langkah-langkah di tengah berbagai perbedaan pandangan dan kepentingan.


Dalam perjalanan itu, saya pernah berpandangan bahwa perjuangan melalui jalur organisasi saja belum tentu cukup. Saya yakin bahwa perjuangan Garut Utara juga memerlukan dukungan dan akses melalui jalur politik yang konstitusional. Atas dasar pemikiran itu, saya ikut mengambil bagian dalam kontestasi Bupati/Wakil Bupati Garut. Kemudian, ketika usulan Garut Utara telah sampai dan diperjuangkan di tingkat pusat, saya juga mencoba memperkuat ikhtiar tersebut melalui pencalonan sebagai anggota DPR RI.


Bagi saya, langkah tersebut bukan semata-mata untuk mencari jabatan, melainkan sebagai bagian dari strategi perjuangan agar aspirasi Garut Utara memiliki ruang komunikasi dan advokasi yang lebih kuat di tingkat pengambil kebijakan.


Namun kenyataannya tidak selalu berjalan seperti yang diharapkan. Dalam dinamika politik yang penuh dengan berbagai kepentingan, tidak semua orang melihat langkah tersebut dari sudut pandang yang sama. Sebagian masyarakat dan bahkan sebagian tokoh memandang keterlibatan saya dalam politik sebagai kepentingan pribadi, bukan sebagai bagian dari strategi memperjuangkan Garut Utara. Akibatnya, dukungan yang diharapkan untuk memperkuat perjuangan melalui jalur politik tidak sesuai dengan yang diharapkan.


Saya memahami bahwa setiap orang memiliki pandangan dan pilihan politiknya masing-masing. Tetapi dari pengalaman itu saya belajar bahwa perjuangan Garut Utara harus ditempatkan di atas semua kepentingan politik praktis. Garut Utara tidak boleh menjadi milik satu orang, satu kelompok, atau satu partai politik. Garut Utara harus menjadi cita-cita dan perjuangan bersama seluruh masyarakat.


Oleh karena itu, ketika jalur politik belum mampu menghadirkan dukungan yang luas, saya tidak pernah meninggalkan perjuangan ini. Saya memilih kembali memperkuatnya melalui jalur organisasi dan jejaring antardaerah. Saya mendapat amanah sebagai Ketua Umum FORKODETADA Jawa Barat (Forum Komunikasi Desain Penataan Daerah Jawa Barat), sebuah forum komunikasi yang menghimpun berbagai elemen perjuangan penataan daerah dan pembentukan daerah otonom baru di Jawa Barat.


Seiring perkembangan organisasi dan kebutuhan konsolidasi yang lebih luas, saya kemudian kembali dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Dewan Paripurna FORKODA PPDOB Jawa Barat (Forum Komunikasi Percepatan Pembentukan Daerah Otonom Baru Jawa Barat). Bagi saya, amanah tersebut bukanlah sebuah kehormatan pribadi, melainkan tanggung jawab untuk terus mengawal dan menyuarakan aspirasi masyarakat Garut Utara serta daerah-daerah lain yang memiliki cita-cita yang sama.


Boleh jadi jalan perjuangan berubah. Kadang melalui organisasi, kadang melalui jalur politik, dan kadang melalui jaringan antarwilayah. Namun tujuan besarnya tidak pernah berubah, yaitu memperjuangkan pemerataan pembangunan dan menghadirkan masa depan yang lebih baik bagi masyarakat Garut Utara.


Hari berganti hari, tahun berganti tahun, dan dinamika perjuangan terus silih berganti. Ada yang datang, ada yang pergi, ada yang terhalang usia dan kesehatan, dan ada pula yang telah lebih dulu berpulang sebelum menyaksikan cita-cita besar itu terwujud.


Kita mengenang almarhum KH Usep Romli HM, almarhum Sesep Kohar, almarhum KH Cecep Mutaqin, almarhum Imat Ruhimat, almarhum Uu Amrullah, almarhum Dede Nurohim, dan para pejuang lainnya yang telah menjadi bagian dari fondasi sejarah perjuangan Garut Utara. Sebagian besar dari mereka tidak pernah menikmati jabatannya, tidak memperoleh fasilitas, bahkan tidak mendapatkan keuntungan apa pun dari perjuangan ini. Mereka justru menghabiskan waktu, tenaga, pikiran, dan kemampuan yang mereka miliki demi sebuah cita-cita yang diyakini akan membawa manfaat bagi generasi yang akan datang.


Mungkin di sinilah letak makna sesungguhnya dari sebuah perjuangan. Ia bukan tentang siapa yang paling berjasa, siapa yang paling berpengaruh, atau siapa yang paling berkorban. Perjuangan adalah tentang bagaimana setiap orang mengambil bagian sesuai kemampuan dan keikhlasannya untuk mewariskan masa depan yang lebih baik bagi daerah yang dicintainya.


Oleh karena itu, daripada menghabiskan energi untuk saling memaafkan atau niat satu sama lain, akan jauh lebih bermanfaat jika kita terus menguatkan dan bertanya kepada diri sendiri: apa yang sudah dan apa yang bisa kita lakukan untuk membantu perjuangan ini?


Sebab pada akhirnya, jabatan hanyalah sarana dan memiliki batas waktu. Sementara pengabdian adalah pilihan hidup yang nilainya jauh lebih panjang dari satu periode kekuasaan. Sejarah mungkin akan mencatat siapa yang memulai, namun sejarah juga akan mencatat siapa yang tetap bertahan, siapa yang terus mengawal, dan siapa yang tidak membiarkan perjuangan ini berhenti di tengah jalan.


“Perjuangan yang besar bukan hanya tentang mereka yang berhasil memetik buahnya, tetapi juga tentang mereka yang dengan tulus menanam dan merawat pohonnya, meskipun sadar mungkin tidak akan pernah menikmati hasilnya.”


Semoga Allah SWT menerima seluruh amal pengabdian dan pengorbanan para pejuang Garut Utara, baik yang masih membersamai perjuangan ini maupun yang telah mendahului kita. Dan semoga kita semua diberi kekuatan dan keikhlasan untuk menyempurnakan ikhtiar yang telah mereka titipkan, hingga cita-cita lahirnya Kabupaten Garut Utara benar-benar terwujud demi kemaslahatan masyarakat dan generasi yang akan datang.


Aamiin Yaa Rabbal 'Alamiin.

© Copyright 2024 - Mahkotaindonesia.com
Added Successfully

Type above and press Enter to search.