Mang Ajat Menyeka Air Mata Korban, Kini Kita Menangisi Kepergiannya
Mang Ajat Menyeka Air Mata Korban, Kini Kita Menangisi Kepergiannya
Oleh : H. Nanang, SH.
Pimpinan Daerah Muhammadiyah Garut
Ada kabar yang datang begitu cepat, namun terasa seperti petir yang membelah dada. Kabar itu singkat, hanya beberapa kalimat di grup WhatsApp Pimpinan Daerah Muhammadiyah Garut. Sekitar pukul 18.30 WIB, pesan itu masuk: Mang Ajat, relawan MDMC Muhammadiyah Garut, meninggal dunia.
Seketika waktu seperti berhenti.
Saya membaca pesan itu berkali-kali, berharap ada yang salah. Berharap mata saya salah membaca. Berharap itu hanya kabar yang tertukar. Tetapi kenyataannya tetap keras: seorang sahabat kemanusiaan, seorang pejuang yang tenteram, seorang lelaki yang selama ini datang saat orang lain tertimpa musibah, kini telah dipanggil pulang.
Yang pertama datang bukan kata-kata, melainkan kenangan. Kenangan yang membawa saya mundur 34 tahun ke belakang. Saat itu, ia masih menjadi pelajar di SMA Nusa Indah Garut. Saya adalah gurunya. Ia duduk di bangku sekolah, seperti banyak siswa lainnya. Tetapi ada sesuatu yang berbeda dari dirinya.
Mang Ajat Muda adalah anak yang humanis. Tidak banyak tingkah, namun kehadirannya selalu terasa. Ia mudah bergaul, akrab dengan teman, dekat dengan guru. Ia bukan murid yang mencari perhatian, tetapi justru menjadi perhatian karena ketulusannya. Banyak siswa yang menyukainya, guru-guru pun merasa dekat dengannya. Ia sering mendatangi saya, bertanya tentang banyak hal: tentang hidup, tentang pergaulan remaja, tentang cara menghadapi dunia yang semakin rumit. Obrolan kami terkadang sederhana, terkadang panjang, tetapi selalu terasa hangat.
Siapa sangka, murid yang dulu duduk di kelas itu, kelak tumbuh menjadi orang yang mengabdikan hidupnya untuk membantu sesama di saat paling sulit.
Tahun-tahun berlalu. Kami terpisah oleh kesibukan hidup. Sampai akhirnya Allah mempertemukan kami kembali, bukan di ruang kelas, bukan di halaman sekolah, tetapi di tengah lumpur, hujan, jerit tangis, dan puing-puing bencana.
Saat banjir bandang melanda Garut, saya mendapat amanah sebagai koordinator MDMC Muhammadiyah Garut untuk penanggulangan bencana hingga tahun 2022. Di sanalah saya bertemu kembali dengan Mang Ajat. Ia bukan lagi siswa saya. Ia telah menjadi relawan tangguh. Dan di medan itu, saya melihat wajah kemanusiaannya tumbuh jauh lebih besar dari yang pernah saya bayangkan.
Ia datang tanpa banyak bicara. Ia bekerja tanpa menunggu diperintah. Ia bergerak ketika orang lain masih menimbang-nimbang. Jika ada kabar banjir, longsor, atau orang hilang, sering kali justru dialah yang pertama menghubungi saya.
“Pak, ada kejadian. Kita berangkat?”
Kalimat itu sederhana. Tapi dibalik kalimat itu ada panggilan jiwa. Ia tidak pernah bertanya, “Ada kehormatan?” Saya tidak pernah bertanya, “Siapa yang menanggung biayanya?” Ia tidak bertanya, “Jauh atau dekat?” Yang ia tahu hanya satu: ada manusia yang membutuhkan pertolongan.
Mang Ajat seperti memiliki kompas batin yang selalu menunjuk ke arah duka orang lain.
Ia rela menembus hujan deras, malam yang gelap, jalan yang terjal, hanya untuk sampai ke lokasi bencana. Ketika banyak orang berteduh, ia justru memakai jas hujan dan berangkat. Ketika banyak orang memilih menunggu pagi, ia memilih bergerak malam itu juga. Baginya, membantu orang bukan pekerjaan. Itu panggilan hidup.
Ada satu hal yang membuat namanya sangat dikenal di kalangan relawan, BPBD, dan tim SAR: keberaniannya dalam pencarian korban di sungai. Banyak orang yang gemetar menghadapi derasnya arus. Banyak yang ragu ketika harus menyusuri sungai untuk mencari jasad korban. Tetapi Mang Ajat justru maju.
Bukan karena dia tidak takut. Tetapi karena dia tahu, di balik arus itu ada keluarga yang menunggu kepastian. Ada ibu yang menunggu anaknya ditemukan. Ada anak yang menunggu ayahnya pulang, meski hanya jasad.
Sudah tak terhitung berapa banyak jenazah yang ia bantu evakuasi. Korban tenggelam. Korban hanyut. Korban kecelakaan sungai. Mungkin ratusan. Mungkin lebih. Angka itu bahkan tak sempat dicatat. Yang tercatat hanya doa-doa yang mengalir diam-diam dari keluarga korban.
Ia tidak dikenal karena jabatannya. Tidak pula karena pangkat. Ia dikenal karena kesediaannya masuk ke tempat yang membuat orang lain mundur.
Di situlah saya sering merenung: ada orang yang hidup panjang tetapi tidak meninggalkan jejak. Ada pula orang seperti Mang Ajat, yang mungkin hidup sederhana, tetapi jejak baktinya melampaui usia.
Ia pernah berangkat ke longsor di Bandung Barat. Ia juga bergerak ke bencana di Cianjur. Dengan alat seadanya. Dengan kendaraan yang kadang tak pasti. Dengan bekal yang sangat terbatas. Tapi semangatnya selalu utuh.
Yang mengharukan, ia justru tampak bahagia saat bisa terlibat. Seolah membantu korban adalah kehormatan tertinggi. Ia bangga bila bisa sampai lebih dulu. Ia lega jika bisa mengevakuasi. Ia senang jika bisa meringankan duka.
Di dunia yang semakin sibuk mengejar pengakuan, Mang Ajat justru memilih menjadi penolong tanpa panggung.
Malam ini, ketika kabar kepergiannya datang, semua kenangan itu seperti banjir yang tak terbendung. Saya teringat wajahnya yang selalu tenang. Suaranya yang akrab. Langkahnya yang cepat ketika menerima kabar bencana. Bahkan panggilan telepon mendadak yang sering membuat saya tahu: ada musibah di suatu tempat, dan kami harus berangkat.
Kini telepon itu tak akan datang lagi.
Tak ada lagi suara sederhana yang berkata, “Pak, kita ke lokasi.”
Tak ada lagi sosok yang berdiri paling depan saat arus sungai menelan korban.
Tak ada lagi lelaki sederhana yang rela meninggalkan rumah saat orang lain sedang tertidur nyenyak.
Kini, orang yang biasa mengevakuasi korban, justru telah lebih dulu dievakuasi oleh takdir menuju rumah abadinya. Dan kami, yang sering menyaksikan ketegarannya, malam ini tak berdaya menahan air mata.
Selamat jalan, Mang Ajat.
Engkau telah mengajarkan bahwa kemanusiaan tidak perlu panggung. Bahwa membantu orang tidak memerlukan seragam kebesaran. Bahwa pengabdian bisa lahir dari hati yang diam. Engkau menunjukkan bahwa menjadi relawan bukan soal organisasi, tetapi soal jiwa yang tak tahan melihat orang lain menderita.
Mungkin tubuhmu kini terbujur diam. Tapi di setiap sungai yang pernah kauselami, di setiap lokasi longsor yang pernah kaudatangi, di setiap rumah korban yang pernah kauhibur, namamu masih hidup. Langkahmu masih terasa. Doamu masih menggema.
Semoga Allah menerima iman dan Islammu. Mengampuni segala dosamu. Menempatkanmu di tempat terbaik di sisi-Nya. Karena kami yakin, tangan yang dulu mengangkat korban dari air, hari ini sedang diangkat malaikat menuju kemuliaan.
Dan malam ini, kami baru sadar: selama ini engkau menyeka air mata korban.
Kini, saat kau pergi, air mata itu jatuh dari mata kami.
Ada orang yang wafat lalu dilupakan. Ada orang yang wafat lalu dikenang. Tetapi ada orang seperti Mang Ajat: ketika ia pergi, yang kehilangan bukan hanya keluarga, melainkan setiap duka yang pernah ia datangi. Karena sejak hari ini, setiap sirene bencana akan terdengar berbeda—sebab satu langkah paling setia, tak akan pernah datang lagi.
H. Nanang, SH.
Pimpinan Daerah Muhammadiyah Garut
✦ Tanya AI