Semarak Iduladha 1447 H di Kampung Salam 1: Ratusan Warga Ikuti Salat Jemaah dan Donasi Masjid Capai Rp678 Juta

Ratusan warga Kampung Salam 1, Desa Cibunar, Kecamatan Cibatu secara khidmat melaksanakan ibadah salat sunah Iduladha 1447 Hijriah di Lapangan Perguruan Al-Madinah pada Rabu (27/05/2026). Selain menjadi momentum peningkatan ketakwaan melalui penyembelihan puluhan hewan kurban, amanah besar juga terekam lewat laporan panitia yang mencatat total donasi pembangunan Masjid Jami As-Salam yang kini telah menembus angka Rp678 juta.
Seiring dengan hal itu, Ketua Panitia H. Arip Rahman Salam dalam sambutannya menyampaikan laporan terkait pelaksanaan ibadah kurban tahun ini. Ia menyebutkan ada 39 warga yang menunaikan ibadah kurban, dengan total hewan yang dihimpun sebanyak 5 ekor sapi dan 4 ekor domba.
Selain melaporkan kegiatan kurban, H. Arip yang juga menjabat sebagai Ketua Panitia Pembangunan Masjid Jami As-Salam memaparkan perkembangan fisik masjid yang kini telah mencapai 90 persen. Dalam laporan keuangannya, panitia mencatat total dana yang masuk telah mencapai Rp678.068.000, dengan sisa saldo saat ini sekitar Rp38 juta.
Dana tersebut diantaranya bersumber dari infak Hj. Titin sebesar Rp250 juta dan Mang Arben sebesar Rp25 juta. Panitia pun mengajak seluruh jemaah mendoakan para donatur agar amal jariah mereka diterima oleh Allah SWT.
Menutup laporannya, H. Arip mengajak warga yang hadir untuk bersama-sama mendoakan sesepuh dan warga yang telah meninggal dunia agar diampuni segala dosanya dan dilapangkan kuburnya. Doa bersama juga dipanjatkan untuk kesembuhan warga yang saat ini sedang diuji dengan sakit.
Sementara itu, Ustadz Moch. Supriadi dalam pelaksanaan salat Iduladha didaulat sebagai khatib. Dalam khutbahnya, ia mengajak jemaah mendoakan umat Islam sedunia yang tengah menunaikan ibadah haji di tanah suci agar diberikan kelancaran, kekuatan, dan menjadi haji yang mabrur.
Ustadz Moch. Supriadi juga menguraikan makna mendalam dari mengenang Nabi Ibrahim AS saat diperintahkan menyembih putranya, Nabi Ismail AS. Menurutnya, kisah tersebut merupakan bentuk ujian agar manusia mampu mengorbankan ego, jabatan, kekuasaan, atau harta demi ketaatan kepada Sang Pencipta.
Nabi Ibrahim adalah teladan pemimpin yang sangat demokratis. Beliau tidak otoriter dalam mengambil keputusan, melainkan mengajak putra-putranya, Ismail, berdialog dan berdiskusi terlebih dahulu hingga keduanya ikhlas menjalankan perintah Allah, tutur khatib.
Ia menegaskan bahwa tujuan utama kurban adalah membersihkan hati manusia dari unsur kemusyrikan. Tokoh Ismail dalam konteks modern diposisikan sebagai simbol dari hal-hal duniawi yang dicintai manusia, yang harus siap dikorbankan sesuai dengan profesi dan jabatan masing-masing.
Selepas rangkaian ibadah salat dan khutbah selesai, kegiatan langsung dilanjutkan dengan proses penyembelihan hewan kurban. Proses pemotongan 5 ekor sapi dan 4 ekor domba tersebut berjalan lancar dengan dikoordinasikan oleh 12 petugas perwakilan dari masing-masing RT. (AS).
✦ Tanya AI