• Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh
Hari

Your cart

Price
SUBTOTAL:
Rp.0

Sugesti Burung Pembawa Berita Kematian

img

Menulis 1.jpg

Sugesti Burung Pembawa Berita Kematian 

Di abad ini, meskipun sudah tergilas oleh kemajuan zaman modern, paham animisme, dinamisme dan totemisme masih ada saja melekat disebagian masyarakat. Misalnya, tak sedikit satwa liar dari kelas aves (burung) yang disakralkan.  Antara lain, apabila melihat atau mendengar burung pembawa malapetaka, seperti burung Kedasih atau wiwik,  segera diusirnya dengan membaca mantra-mantra. Lantaran dikhawatirkan mendatangkan berita duka terhadap keluarganya.

 

Biasanya di suatu daerah yang masih mempercayainya burung pembawa kabar duka, yakni burung kedasih atau burung wiwik jenis Kedasih hitam, atau Drongo Cuckoo (Surniculus lugubris)  ketika mendengar suaranya, tak segan-segan mengusirnya sambil membaca do’a. Bahkan apabila terus bersuara, burung itu lalu dikejar dan dilemparinya. Pasalnya burung tersebut diyakininya sebagai pertanda kabar duka tentang kematian.

 

Salahsatunya  di Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut terutama di daerah perkampungannya, burung pembawa kematian itu disebutnya burung kedasih (wiwik uncuing) atau lebih terkenal dengan nama Sirit Uncuing (manuk Uncuing). Salah satu buktinya, bila suatu saat mereka yang percaya terhadap mitos dari burung itu mendengar suaranya, mereka langsung tersugesti dengan mitos burung pembawa kabar duka. Kemudian indera pendengarannya selalu dipasangnya, untuk menerima berita duka yang diumumkan via speaker toa dari masjid jami.

 

Berdasarkan orang-orang yang masih tersugesti dengan suara Manuk Uncuing (burung Kedasih) di wilayah perkampungan tersebut, mereka menjelaskan, Burung pembawa kematian itu tidak sembarang bersuara. Biasanya, bertengger dan bersiul,  seperti pada pohon-pohon di lokasi pemakaman, atau tempat yang dianggap angker ada penghuni bangsa dedemit (Jurig).


Sirit Uncuing.webp

Manuk Uncuing (burung Kedasih)


Konon, jikalau burung itu sudah mengumandangkan suaranya, akan  terasa membangkitkan bulu roma menjadi merinding. Bahkan sampai saat ini burung itu dipercayainya suka mengabarkan kabar duka mengenai orang yang akan meninggal dunia.

 

Seperti kata masyarakat yang rumahnya berdekatan dengan pemakaman Astana Salam di Kampung Panyosogan Desa Wanakerta. Warga tersebut bercerita, apabila ada burung uncuing bersuara di tempat tersebut, kemudian malam harinya di pemakaman tersebut ada suara bunyi benda berbeban berat jatuh ke tanah, tidak disangsikan lagi, esok harinya bakal ada orang yang meninggal dunia. 

Menurut salah seorang tokoh masyarakat dari kampung tersebut, Sutansa (48) menjelaskan,  memang sampai saat ini masyarakat mempercayainya tentang mitos burung uncuing sebagai pembawa kabar duka. Namun, kabar dari suara  burung uncuing yang masih dipercaya membawa kabar duka mengenai kematian seseorang, bisa jadi, ketika burung uncuing mengumandangkan suaranya, pas secara kebetulan ada orang yang sudah ditakdirkan Allah SWT  meninggal dunia. (DM).

© Copyright 2024 - Mahkotaindonesia.com
Added Successfully

Type above and press Enter to search.