• Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh
Hari

Your cart

Price
SUBTOTAL:
Rp.0

Sebongkah Batu Besar Misterius di Sungai Cimanuk Garut Kaya Prasasti Buaya

img

Menulis 1.jpg

Jika di sekitar sungai-sungai yang ada di Provinsi Jawa Barat sudah terbukti banyak ditemukan prasasti-prasasti peninggalan nenek moyang kita, seperti  Prasasti Jayabupati bertuliskan huruf berbahasa Jawa Kuno pada empat batu yang ditemukan di aliran Sungai Cicatih di daerah Cibadak Kabupaten Sukabumi. Siapa tahu di aliran sungai lainnya, diantaranya di aliran sungai Cimanuk Kabupaten Garut ada prasasti peninggalan para leluhur orang Garut sebagaimana yang pernah dilihat oleh Asep Suhendi dari Kampung Cigalumpit, Desa Sindangsuka, Kecamatan Cibatu Garut. Ia pernah melihat sebongkah batu besar seperti dihiasi relief-relief buaya dan tulisan unik yang berlokasi di pinggir Daerah Aliran Sungai (DAS) Desa Cibiuk Kaler, Kecamatan Cibiuk, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.

Asep Suhendi yang pertama melihat Batu bertulis yang menduga Prassasti (1).jpg
Asep Suhendi yang pertama melihat sebongkah batu bertulis

Waktu itu Jum’at pagi tanggal, 6 Juni 2013 bertepatan dengan Isra Mi’raj Nabi Muhammad SAW (27 Rajab 1434 H), saya bermain ke tempat Pasiripis bersama  Dadang Sujana yang membuka lokasi untuk membangun Fila saudaranya di tempat tersebut. Kemudian saya turun ke pantai Sungai Cimanuk untuk melihat suasana di sekitar bongkahan-bongkahan  batu.  

Batu bertulis diakiran sungai Cimanuk yang diduga Prasasti (1).JPG

Subhanallah, ucapnya, ketika Ia melihat batu besar yang tampak seperti bertulis. “Beberapa menit saya terpaku kaget melihatnya. Akhirnya, saya naik lagi ke Pasiripis untuk memberi tahu kepada Dadang Sujana. Apa benar, batu tersebut bertulis? Jangan-jangan,   mata saya salah penglihatan. Kemudian saya dan Dadang turun lagi ke pantai Sungai Cimanuk untuk melihatnya kembali. Dadang pun setelah melihat dengan kasat matanya langsung membenarkan, bahwa batu itu seperti bertulis,” papar Asep Suhendi yang mengaku penuh dengan rasa heran tatkala melihat sebongkah batu besar di Sungai Cimanuk.

Padahal menurut pria kelahiran tahun 1964 itu, dirinya sering menginjak bongkahan batu besar tersebut tatkala beraktivitas memancing dan menjaring ikan di Sungai Cimanuk. “Mungkin pada waktu memancing atau menjaring ikan, konsentrasi saya hanya memikirkan titik-tik medan yang akan dilalui, dan lokasi tempat menjaring maupun memancing saja yang tersirat di benak saya. Waktu itu tak pernah terpikirkan, bahwa di sekitar tempat tersebut ada batu bertulis,” tutur Asep Suhendi sewaktu bersua dengan penulis di tempat kediamannya di Kampung Cigalumpit RT.03 RW.07 Desa Sindangsuka, Kecamatan Cibatu,  Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, Indonesia.

Untuk lebih meyakinkan, Peliput mengajak narasumber mengunjungi lokasi dimana Batu Bertulis itu berada. Sehubungan pada waktu itu musim penghujan, keadaan air pun lagi meluap.  Alhasil, Asep Suhendi pun tak sanggup berenang untuk memotret batu itu dari jarak dekat. Akhirnya penulis berusaha memotret batu tersebut, jaraknya sekitar 5 Meter dengan cara di-zoom-kan dari atas tebing Pasiripis Desa Sindangsuka, Kecamatan Cibatu.

Setelah sebongkah batu hitam yang diduga bertulis dibidik dengan kamera 12  megapixel, kemudian kami sama-sama mengamati gambar batu yang ada di kamera.  Nampak pada batu itu, seperti ada tulisan-tulisan yang dihiasi dengan relief-relief yang menyuguhkan, antaralain pada bagian depan pinggir batu ada pahatan yang melukiskan mirip kepala kerbau, serta pada sebagian tengahnya ada pahatan-pahatan berupa tulisan.  Sedangkan pada bagian samping belakang batu, ada pahatan menyerupai buaya besar lagi menelungkup ditunggangi oleh seekor buaya kecil. Lalu pada bagian belakang samping batu, ada pahatan seekor monyet sembari merangkul erat ekor buaya kecil ditopang buaya lagi yang diikuti dari belakangnya oleh seekor buaya.

2b194a8b-3663-44fb-825e-648fa63c3ab6.jpg

Realita dari relief-relief pada bongkahan batu hitam yang didominasi oleh pahatan-pahatan lukisan buaya tersebut, tanpa disadari malah mengarahkan pikiran Peliput melayang   teringat akan cerita dari orang tuaku yang menuturkan, bahwa pada aliran  Sungai Cimanuk dari Garut sampai ke perbatasan Kabupaten Indramayu, sampai kapanpun tidak akan ada buaya. Karena buaya dari kawasan aliran Sungai Cimanuk yang ada di Kabupaten Indramayu, dikabarkan tidak mampu menyeberang menuju wilayah Garut.

Konon menurut sumber dongeng yang tersiar secara turun temurun, mengisahkan, pada zaman dahulu,  katanya ada dua ekor buaya, yakni buaya jantan dan betina, hendak mengarungi aliran Sungai Cimanuk dari Indramayu menuju ke Daerah Aliran Sungai Cimanuk Garut, atau DAS Cimanuk Garut, di wilayah perbatasan antara DAS Cimanuk Garut dan DAS Cimanuk Indramayu ada bagian badan sungai yang terjal mengalirkan air menjadi air terjun. Otomatis sejoli buaya itu kesulitan berenang untuk memanjat medan badan sungai yang terjal tersebut.

Berdasarkan ujar cerita,  dua ekor buaya itu tetap berusaha berenang menaiki bagian badan  sungai yang terjal. Akan tetapi,  jika buaya jantan bisa memanjat, buaya betina tidak bisa memanjat. Begitu pula, apabila buaya betina bisa memanjat, malah buaya jantan menjadi tak bisa memanjat. Ternyata kedua buaya itu berakhir dengan peribahasa Hasrat Hati Memeluk Gunung Apa daya Tangan Tak Sampai.  Akhirnya karena bagian badan sungai yang terjal sulit untuk dilewati, maka sepasang buaya itu tidak bisa memasuki DAS Cimanuk Garut.

Terkait dengan dongeng tersebut, mungkin saja bongkahan batu hitam dengan relief-relief buaya pada batu bertulis yang ada di DAS Cimanuk antara Desa Sindangsuka Kecamatan Cibatu, dan  DAS Cimanuk Cibiuk Kecamatan Cibiuk, adalah Prasasti Buaya peninggalan nenek moyang kita yang mengisahkan, bahwa di Sungai Cimanuk Garut bebas dari buaya.

41c1565e-03b6-4494-812d-dc14eee3dcf8.jpg

Selain itu mungkin saja relief seperti buaya yang ada di sebongkah batu itu merupakan peninggalan pada masa kerajaan Hindu-Buddha. Relief Buaya dalam budaya Hindu-Buddha dapat dianggap sebagai simbol kekuatan dan keberanian, Relief  Buaya juga dapat dianggap sebagai simbol kesuburan dan kehidupan, serta Relief buaya dapat digunakan sebagai simbol perlindungan atau penjagaan. Ditambah lagi pada beberapa situs arkeologi di Indonesia, kebanyakan prasasti buaya dibikin pada masa kerajaan Hindu-Buddha. 

Iya, atau tidaknya, biarlah dikemudian hari para ahli arkeolog untuk menyibak tirai misteri keberadaan dari batu yang diduga bertulis itu, sehingga terungkap makna yang sebenarnya. Apakah Relief itu dibentuk secara alami, atau sengaja dibikin oleh nenek moyang kita sebagai simbol kekuatan dan keberanian, atau sebagai simbol kesuburan dan kehidupan, maupun sebagai simbol perlindungan atau penjagaan. Siapa tahu disitu ada  peninggalan zaman nenek moyang kita, atau fenomena adanya suatu peninggalan kerajaan di wilayah tersebut. Oleh karena itu, untuk mengungkap sebongkah batu misterius tersebut yang terlihat seperti ada inskripsi dan relief buaya, harus ada tim peneliti untuk mengungkapnya. Sehingga batu penuh teka-teki yang belum terpecahkan, atau membikin  orang penasaran, semoga terungkap menjadi terang benderang.  (DM).

© Copyright 2024 - Mahkotaindonesia.com
Added Successfully

Type above and press Enter to search.