• Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh
Hari

Your cart

Price
SUBTOTAL:
Rp.0

PR Tantangan Besar: Jembatan Penghubung Banyuresmi-Karangpawitan Masih Diputus Aliran Sungai Cimanuk, Butuh 150 Milyar

img

420a6eb9-e9f4-4b73-a917-3cd8bf3daa7b.jpg

Kabupaten Garut terus berupaya mengurai simpul kemacetan kronis melalui pengembangan jaringan jalan alternatif. Di bawah kepemimpinan Bupati ke-26, Rudy Gunawan, sejumlah proyek strategis seperti Jalan Ibrahim Adji dan Jalan KH. Musaddad telah berhasil memecah arus kendaraan. Namun, sebuah tantangan besar kini membentang di wilayah Utara; jalur penghubung Banyuresmi-Karangpawitan masih terputus oleh aliran Sungai Cimanuk, menyisakan Pekerjaan Rumah (PR) yang belum tuntas menjelang musim mudik Lebaran 2026.


Pembangunan jalan penghubung yang membentang dari Kampung Bojong Salam (Kecamatan Banyuresmi) menuju Kampung Copong (Kecamatan Karangpawitan) hingga kini belum bisa dinikmati masyarakat. Kendala utamanya adalah belum dibangunnya jembatan di atas Sungai Cimanuk yang memisahkan kedua wilayah tersebut. Alhasil, jalur ini dipastikan belum bisa digunakan untuk menampung arus lalu lintas pada Lebaran tahun ini.


Kepala Dinas PUPR Garut, Agus Ismail, menjelaskan bahwa titik krusial atau handicap pembangunan ini terletak pada konstruksi jembatan yang memerlukan anggaran besar.


"Pemasangan jembatan ini membutuhkan dana sekitar Rp150 miliar karena bentangannya yang sangat lebar, sehingga diperlukan konstruksi khusus. Kami sudah mengajukan ini ke kementerian. Sebenarnya proyek ini masuk dalam program Perpres tahun 2021, namun hingga kini belum ada tindak lanjutnya," ungkap Agus Ismail, Jumat kemarin (06/03/2026).


de8b2d8e-9b16-40cf-bc48-47139e8a67b3.jpg

Terkait penyelesaian jembatan sepanjang 90 meter tersebut, pria yang akrab disapa Agis ini belum bisa memberikan kepastian waktu. Saat ini, pihaknya tengah berkoordinasi dengan pemerintah pusat untuk bantuan tenaga teknis. Fokus utama Dinas PUPR saat ini adalah memastikan kesiapan jalur utama dan jalur alternatif lainnya demi kelancaran arus mudik dan balik.


"Kami sedang menangani 10 jalur alternatif dan 5 jalur wisata, baik di wilayah Selatan maupun Utara, untuk menghadapi Lebaran 2026," imbuhnya.


Selain kendala di jembatan Copong, Agis juga memaparkan rencana pengembangan jalur di wilayah Garut Selatan, yakni ruas Cimahi–Cikarang (12 km) dan Cikarang–Pamalayan (11 km) dengan total panjang 23 km. Jalur Pamalayan–Cikarang sebelumnya telah ditangani pada 2024 melalui Dana Alokasi Khusus (DAK), namun kelanjutan di tahun 2025 sempat tertunda karena adanya pembatalan anggaran dari pusat.


Kini, Pemerintah Kabupaten Garut kembali mengusulkan anggaran sebesar Rp47 miliar kepada Kementerian Pekerjaan Umum melalui program Inpres Jalan Daerah (IJD). Rinciannya, Rp33 miliar untuk ruas Cimahi–Cikarang dan Rp14 miliar untuk ruas Cikarang–Pamalayan.


Meski lahan yang tersedia rata-rata sudah memiliki lebar empat hingga sembilan meter, Agis mengakui masih ada beberapa titik yang bersinggungan dengan lahan Perhutani dan pemukiman warga.


"Perlu sosialisasi lebih lanjut kepada masyarakat. Jika jalur ini tuntas, jarak tempuh dari Talegong menuju Caringin bisa dipangkas secara signifikan. Dari yang tadinya memakan waktu lebih dari 2 jam, nantinya bisa ditempuh hanya dalam waktu sekitar 1 jam," pungkasnya. (Ajay).


© Copyright 2024 - Mahkotaindonesia.com
Added Successfully

Type above and press Enter to search.