Prosesi Ngalunsurken Pusaka Indung ke-X: Sinergi Tokoh Adat dan Pemerintah Jaga Titipan Karuhun di Limbangan

Guna memperkuat akar tradisi dan menjaga warisan leluhur agar tidak tergerus zaman, perhelatan akbar Sawala Budaya Sunda ke-X resmi digelar. Acara yang mengusung misi besar Ngalunsurken Pusaka Indung ini berlangsung khidmat di Museum Nyai Tangulun, Kecamatan Limbangan, Kabupaten Garut, pada Senin (6/7/2026).
Kegiatan tahunan ini menjadi momentum penting sekaligus ruang dialog (sawala) interaktif. Acara ini mempertemukan para pemangku kebijakan, akademisi, organisasi kemasyarakatan, hingga barisan pemangku adat di Keraton Sumedang Larang.
Sejumlah tokoh lintas sektor tampak hadir memadati lokasi acara. Dari jajaran Persaudaraan Masyarakat Garut Utara (PM GATRA), hadir Ketua Umum Rd. H. Holil Aksan Umarzen bersama Waketum IV Bidang Pendidikan, Sosial & Budaya, Aep Saepudin, S.Ag. Hadir pula delegasi Wanoja GATRA, yaitu Enok Sopiah, Lia Mulyanawati, Purwita, Elin Marlina, serta tim Humas yang terdiri dari Lely Heliawati, Rachmansyah, dan Shinta Firgiani, dengan dipandu oleh Ridho selaku pembawa acara.
Dari unsur pemerintah dan sejarawan, hadir Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Garut Ir. H. Beni Yoga Gunawan, Kepala Desa Ciwangi Marfu Nandar, perwakilan Danramil serta Kapolsek Limbangan. Hadir pula Guru Besar UPI sekaligus Dewan Pakar KPWI Prof. Dr. Retty Isnendes, S.Pd., M.Hum., dan Dewan Adat Kang Cepi Kusumah.
Suasana sakral semakin terasa dengan hadirnya tokoh-tokoh besar kebudayaan. Diantaranya Ibu Agung Keraton Sumedang Larang yang juga Panglima Barisan Adat Raja Sultan, YM. NR. Rulany Indra Gartika Rusadi. Hadir pula Ketua Majelis Cendikiawan Karaton Nusantara (MCKN) Provinsi Jawa Barat, Prof. H. Raden Asep Kadar Soleh, Mantri Luar Keraton Rd. Asep Sulaeman Fadil Adiwinata, serta kawalan ketat dari Garda Yuda Balapati Keraton Sumedang Larang.
Rangkaian acara diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur'an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta lantunan kawih dan pepeling Sunda yang menyentuh kalbu.
Pemilik sekaligus tuan rumah Museum Nyai Tangulun, Ani Suhartini yang akrab disapa Nyai Tangulun, menyampaikan apresiasi mendalam kepada seluruh pihak. Ia berharap momentum ini melahirkan komitmen yang kuat dari semua elemen untuk menjaga kelestarian budaya Sunda. Menurutnya, wilayah Limbangan menyimpan kekayaan sejarah luar biasa yang menjadi corak utama identitas leluhur.
Apresiasi senada datang dari Kepala Desa Ciwangi, Marfu Nandar. Meski mengakui dukungan fasilitas dari desa belum sepenuhnya optimal, ia mengaku sangat bangga atas eksistensi Museum Nyai Tangulun di wilayahnya. Ia berharap sarana dan agenda kegiatan di museum ini terus berkembang di masa depan.
Sementara itu, Ketua Umum PM GATRA, Rd. H. Holil Aksan Umarzen, menegaskan bahwa menghadiri agenda ini merupakan sebuah kewajiban moral. Di hadapan Kadisparbud Garut, H. Holil blak-blakan menyoroti tantangan pembiayaan kebudayaan yang dihadapi organisasi dan masyarakat adat saat ini. Ia berharap Pemerintah Kabupaten Garut dapat memberikan perhatian konkret pada agenda Sawala Budaya ini ke depan.
“Hari ini saya melihat urang Sunda tidak baik-baik saja dalam konteks budaya. Kita harus lebih maju, serius, dan berani bergerak mempertahankan adat istiadat. Mari jadikan Sawala Budaya Sunda ini sebagai pemantik kebangkitan budaya leluhur kita,” tegas H. Holil dalam pidatonya yang membakar semangat.
Merespons hal tersebut, Kadisparbud Garut Ir. H. Beni Yoga Gunawan, menyampaikan permohonan maaf Bupati Garut yang berhalangan hadir karena agenda Rapat Paripurna DPRD. Pemerintah Kabupaten Garut secara terbuka memuji konsistensi Nyai Tangulun dalam merawat nilai-nilai kesundaan.
“Insya Allah, ke depan Disparbud Garut siap berkolaborasi dan bekerja sama secara sinergis untuk meningkatkan skala kegiatan rutin tahunan Ngalunsurken Pusaka Indung ini agar dampaknya lebih luas,” ungkap H. Beni.
Usai seremonial sambutan, acara memasuki inti prosesi ritual Ngalunsurken Pusaka Indung. Berbagai benda pusaka peninggalan leluhur seperti keris, kujang, mushaf Al-Qur'an kuno, Binokasih, dan artefak bersejarah lainnya dikeluarkan untuk dibersihkan dan Dirawat.
Sebagai penutup yang sarat makna ekologis, Nyai Tangulun memberikan beberapa bibit pohon kepada para tamu undangan yang hadir sebagai simbol dan isyarat kepada para pengambil keputusan baik eksekutif, legislatif dan para tokoh masyarakat untuk bersama-sama menanam bibit pohon kelapa, bibit bunga dan pohon lainnya, yang insya Allah nantinya akan dipanen oleh anak cucu kita. (AS).
✦ Tanya AI