Peradaban Cahaya adalah Menyalanya Nilai Budi dan Membawa Bumi Sejahtera Terhubung pada Gunung Padang

Untuk kita memahami apakah peradaban cahaya maka kita akan lebih dahulu memahami peradaban zaman prasejarah yaitu zaman dimana manusia dalam keadaan tidak mengenal tulisan dan bahasa. Secara umum kita mengenal zaman prasejarah hanya mengenal berupa peninggalan berupa fosil, alat bantu berupa batu, lukisan di gua dan sisa hunian. Pada zaman prasejarah saat itu manusia berkomunikasi dengan bahasa tubuh, suara, isyarat seperti merunduk, mengangguk, teriak, berubah dari mimik wajah serupa dengan anak balita. Selain itu komunikasi manusia zaman prasejarah lewat gambar yang di lukisan dinding gua yang dapat terlihat pada gua Mora, Sulawesi yang berupa gambar hewan buruan seperti gambar hewan rusa. Komunikasi melalui alat dan simbol yang berbentuk kapak, gelang, manik-manik yang menjadi ciri suatu kelompok manusia.
Manusia zaman prasejarah berpikir dan percaya pada semua benda, bahwa semua benda memilik roh, pohon, batu, sungai (Animisme), Percaya pada kekuatan gaib di benda tertentu yang dapat kita lihat nyata adanya batu menhir dan dolman yang diperkirakan tahun kurang lebih 2.500 SM - 500 M (zaman batu besar, bikinbangun dari batu tanpa air mani). Batu menhir adalah batu tunggal yang didirikan tegak sebagai tanda penghormatan leluhur, penanda tempat suci, penanda kuburan. Dolmen berbentuk meja batu yang 2-4 batu tegah ditutup batu datar di atasnya, fungsinya untuk meletakan sesajen, batu sebagai penghubung, roh leluhur ada di batu. Batu menhir dan dolmen berada pada zaman megalitikum yaitu zaman batu-batu neolitikum yang seterusnya berlanjut zaman logam.
Peradaban tulisan tanpa, semua ilmu diturunkan melalui cerita, nyanyian dan praktek nyata. Kakek mengajarkan cucu bikin api, mengambil batu, mengambil mengomel dan lain-lain. Dukun atau tabib mengajarkan mantra lewat hafalan. Kapan manusia menemukan dan mengenal tulisan kurang lebih sekitar 3.200 SM yang membuka sejarah baru yang dapat di rekam dan di tulis dan tidak hilang.
Ada peradaban cahaya yang kita akan bahas menurut tafsir spiritual. Cahaya merupakan simbol kesadaran, kebenaran, dan keseimbangan. Peradaban cahaya Merujuk pada zaman keemasan. Zaman keemasan manusia saat ini hidup selaras dengan alam yang tidak serakah, tidak menipu, tidak berbohong dan tidak dengki. Pada zaman cahaya merupakan zaman dimana manusia berada pada keluhuran budi pekerti, sifat kebenaran, kebaikan, kejujuran yang menjadi penyangga hidup, menurut budaya Sunda memiliki sifat "Siliwangi" yaitu sifat yang menggunakan hati nurani yang bersih dan suci. Pada peradaban cahaya manusia di pimpin oleh hati nurani. Aturan dibuat bukan karena takut manusia akan hukum, tetapi karena budi pekerti berupa nilai-nilai kebaikan, kesabaran, kesopanan, adab dan adat seperti nilai Dasapananta dan Dasa marga, Patikrama yang terdapat dalam naskah kuno Sunda menjadi dasar hukum pengaturan dan menjadi pedoman hidup berupa sifat-sifat yang harus ditumbuhkan dalam diri itu sendiri seperti bijaksana, penuh kasih, ramah, memikat hati, hati bersih, hidup bermoral, jujur. Pada peradaban Cahaya tata cara hidup aturan teknologi yang di pakai adalah tatacara yang selaras dengan alam, tidak merusak alam. Hidup dengan energi alam, energi di ambil dari matahari, udara, tanah, angin bahkan bulan dan bintang yang dijadikan ilmu pengetahuan.
Peradaban cahaya di Indonesia ada pada peradaban yang ada di gunung Padang, Dimana sangat jelas bukti peninggalan batu menhir sebagai bahan untuk menemukan pengetahuan. Pada hari Minggu tanggal 5 Juli 2026, penulis melakukan perjalanan spiritual ke gunung Padang untuk melakukan ritual alam, bersama saudara dari pulau Bali, timur tanah Jawa. Ritual alam untuk mendekatkan diri pada alam dan Sang Maha Agung di gunung Padang. Penulis mendapat pencerahan secara spiritual berupa informasi melalui intuisi yang masuk pada rasa penulis bahwa gunung Padang adalah peradaban cahaya, zaman belum ada tulisan dan bahasa, oleh karena itu pesan yang disampaikan bila gunung Padang di gali, di bongkar untuk tujuan informasi mendapatkan berupa artefak tertulis tidak akan pernah ditemukan, justru akan merusak struktur yang sangat sakral yang berakibat terganggunya energi alam maka akan terjadi ketidak seimbangan kehidupan.
Gunung Padang merupakan kawasan di zaman dulu sebagai tempat leluhur mendapatkan pengetahuan dan pengetahuan itu berasal dari cahaya, cahaya yang bersuara dalam batin manusia yang mendapatkan petunjuk melalui cahaya adalah orang yang sudah tumbuh seimbang cahaya dalam dirinya, cahaya alam yang suci, terang dan Padang. Cahaya Padang akan menyambung pada manusia yang lahir batinnya memiliki cahaya yang sama di dalam dirinya (Bagaimana manusia mengakses cahaya susi, penulis akan membuat artikel khusus untuk hal tersebut). Informasi yang diperoleh bahwa gunung Padang tidak boleh rusak karena gunung Padang tempat sakral para leluhur mencari pengetahuan dan ilmu yang benar, karena cahaya sebagai sumber kesadaran yang sejati.
Batu pada punden berundak ke 5 terdapat batu yang umum disebut "Batu Singgasana", hasil Spiritual penulis batu singgasan merupakan batu puser/pusat. Batu puser/pusat ibaratkan dalam tubuh kita adalah puser (udel) yang berfungsi sebagai penyalur kita mendapatkan energi yang di salurkan oleh puser berupa saripati makan yang berasal dari ibu kita. Dalam budaya Spiritual Sunda Buhun puser dianggap sebagai energi utama dalam tubuh manusia. Fungsi puser dalam ilmu spiritual merupakan titik tengah atau pancer yang berfungsi sebagai pusat keseimbangan. Puser ada di tengah tubuh, menjadi poros antara atas dan bawah, kiri dan kanan, lahir dan batin. Jika puser bergerak, puser terganggu maka akan terjadi ketidakstabilan. Puser merupakan puser bumi yang berfungsi sebagai penghubung ke ibu bumi. Nenek moyang dahulu menyebukan puser itu saluran kita menyambung di bumi, jika kita bersemedi tangan menempel pada puser, puser menempel ke tanah artinya sedang proses pengisian. Puser merupakan "Tali Gaib" penghubung ke ibu dan leluhur. Pada saat kita di kandung ibu kita hidup lewat puser, setelah lahir fisik putus, tetapi tali goib masih tersambung. Lewat puserlah doa ke leluhur dan kepada Tuhan Yang Maha Esa tersambung. Puser merupakan Cakra Manipura yang berfungsi sebagai pusat tenaga (pusat cahaya) yang berfungsi menyimpan daya hidup agar muncul kebenaran, kewibawaan dan wibawa kebaikan dan kerahayuan. Puser sebagai penyaring energi yang berfungsi masuk dan keluarnya energi sebagai pengantar membuang sial, membuang penyakit di sapu lewat puser dan puser sebagai pintu pengisian energi. Pitutur leluhur Sunda puser adalah
"Puser teh tali panghulu hirup, tempat urang sumping ka alam, ulah di sepirakeun sebab dinya aya cahaya"
Artinya:
“Puser itu tali pemimpin hidup, tempat asal kita datang ke alam, jangan di sepelekan karena di sana ada cahaya”.
Posisi semedi yang sangat baik sesuai dengan ilmu leluhur Gunung Padang adalah duduk "Ngabumi" yaitu duduk di tengah pusar dengan niat suci menyambung pada energi alam. Cara menjaga puser utama adalah bersyukur atas hadirnya ibu, karena dari puser ibu lahir batin kita ada dan disambungkan pada ibu alam langit dan ibu alam bumi.
Batu puser yang ada di tingkatan 5 merupakan pusat, penghubung, dan pembangkit tenaga. Puser sebagai jembatan antara kita, ibu, bumi dan Sang Pencipta oleh karena itu di gunung Padang terdapat situs batu "Sunan Ambu" yang berjarak 3 meter ke arah atas dari singgasana atau batu puser. Keterangan di atas merupakan hasil pengalaman pribadi penulis dapat dipercaya tidak dapat dipercaya oleh pembaca, namun itu kenyataan hasil dari intuisi yang masuk. Pengalaman hasil ritual melalui laku spiritual penulis berkeyakinan bahwa gunung Padang adalah peradaban cahaya, peradaban belum hadir tulisan dan bahasa tetapi ilmu pengetahuan hadir melalui jalur cahaya yang menjadi frekuensi yang masuk pada rasa manusia dan menjadi petunjuk yang dilakukan atas kesadaran tinggi.
Peradaban cahaya terdapat dalam ramalan Jayabaya dan leluhur kuno. Banyak sesepuh yang disampaikan yaitu sebelum zaman "Kalabendu" yang saat ini terjadi (zaman kehidupan manusia sekarang). Kalabendu yang terdapat pada ramalan Jayabaya yaitu Kalabendu artinya gelap, sulit, dan kacau. Kalabendu zaman kegelapan. Kutipan naskah Jayabaya tentang Kalabendu
"Ing besuk yen wis tekan mangsane, jagad bakal Kalabendu, wong cilik mangan susah, wong gede mangan penak, pajek mubeng ora ono entekne"
Artinya:
"Kelak kalau sudah tiba waktunya dunia akan gelap gulata, orang kecil makan susah, orang besar makan enak, pajak berputar-putar tidak ada habisnya".
Kutipan dari Jayabaya kondisi saat ini sedang berlangsung terutama kondisi rakyat kecil yang semakin sulit mencari uang hanya sekedar untuk makan sedangkan para pejabat makan dengan kenyang tanpa susah payah berusaha terbukti termuat para pejabat yang korupsi uang negara dengan uang hasil korupsi dapat dengan kenyangnya mengisi perut tapi rakyat kecil mencari sesuap nasi harus bekerja keras dan susah payah. Kondisi saat pajak ini semakin mencekik rakyat dan berbagai macam pajak semakin muncul semua roda kehidupan masyarakat yang terkena pajak, rumah sendiri harus membayar pajak, tanah sendiri harus membayar pajak bahkan kegiatan apapun yang terkena pajak. Artinya zaman sekarang ini kehidupan manusia di bumi masuk pada zaman kegelapan artinya hilang nilai budi dalam kehidupan manusia zaman ini. Kondisi Kalabendu pada zaman ini jelas sedang berlangsung, rakyat kecil semakin terjepit, kehancuran moral berupa kejujuran kalah dengan uang, agama sudah bukan aturan hidup yang baik tetapi berubah menjadi aturan buat perdagangan, kekuasan dan penguasa ekonomi. Alam semakin rusak karena keserakahan manusia. Apa solusi untuk merombak dan menghentikan zaman Kalabendu tidak ada yang lain adalah perbaikan ahlak dengan nilai-nilai budi pekerti luhur yang menjadi ajaran para leluhur negeri kita sendiri. Dengan menghidupkan nilai-nilai budi pekerti maka akan menumbuhkan kembali keseburan tanah dengan alamiah, manusia kembali jujur dan saling silih asih, silih asuh dan silih asah. Pemimpin kembali menjadi pelayan rakyat, ilmu bukan untuk sombong, kembali pada manusia beradab, kembali pada zaman keemasan.
Pernah ada zaman keemasan atau zaman " Satya" yang memiliki ciri-ciri sebagai berikut, bumi pinggiran kota tanpa dipaksa seperti kondisi saat ini tanah di paksa pinggiran kota dengan memberikan pupuk. Manusia zaman satya manusia bersifat jujur, silih asih, silih asuh, silih asah artinya kekuatan nilai budi pekerti sangat dijunjung tinggi, pemimpin zaman emas atau satya adalah pelayan rakyat atau pengabdi rakyat bukan pemimpin bergantung pada kekuasaan yang otoriter dan diktator mengikuti keinginan diri sendiri, zaman emas orang yang memiliki ilmu tinggi tidak untuk meninggikan derajat dan tidak digunakan untuk merebut kekuasan dan perang. Manusia zaman Kalabendu saat ini yang berpendidikan tinggi dan mengantongi gelar merasa paling pintar dan derajat paling tinggi, pada zaman keemasan manusia berilmu tinggi adalah orang yang tinggi nilai budi pekertinya dan baik prilaku dan penuh adab kesopanan. Dalam ajaran Sunda manusia yang baik prilaku budi pekertinya adalah bangsawan.
Peradaban cahaya dan peradaban prasejarah memiliki ciri-ciri yang sama, apakah peradaban kedua sezaman masih perlu diteliti. Peradaban cahaya runtuh karena manusia mulai hilang perilaku budi pekerti baik, manusia sudah tidak jujur, berbohong, manusia mengejar menjadi pemimpin zaman saat ini dengan cara-cara berbohong, menipu sana sini, penuh keserakahan, manipulatif, setelah menjadi pemimpin berkarakter pemimpin yang mementingkan diri sendiri dari kepentingan rakyat. Dengan serakah gunung di bongkar, hutan digunduli, udara dikuasai untuk kepentingan ekonomi dan rakyat terkena akibat atas keserakahan pemimpin dan kondisi ini terjadi di zaman sekarang ini. Kondisi dunia saat ini manusia jauh dari budi pekerti dan nilai-nilai luhur artinya zaman ini adalah zaman kegelapan atau kala bedu.
Dalam ajaran tradisi lisan Sunda dalam carita pantun/ wawacan di sebutkan:
"Bumi Sunda bakal poek heula, tuluy aya nu nyalakeun suluh, cahaya ti jero diri sorangan"
Artinya:
"Bumi Sunda bakal gelap dulu, lalu ada yang menyalakan obor, cahaya dari dalam diri sendiri"
Makna dari tradisi lisan Sunda bila manusia memiliki cahaya dalam diri masing-masing dan cahaya itu terwujud menjadi sikap perilaku yang penuh kebaikan dan kebenaran maka bumi Sunda akan kembali pada zaman keemasan dan gelap hilang terbitlah terang.
Dalam ajaran Sunda buhun zaman cahaya adalah zaman dunia dalam keadaan penuh cahaya dengan cahaya dunia akan sejahtera. Dalam naskah kuno Sanghyang Siksakandang Keresian ada kutipan:
“Lamun manusa geus cageur, bageur, bener lan pinter bumi oge jadi raharja, cai herang, tangkal buahan, manusia hirup silih asih, silih asuh, silih asah”.
Artinya:
“Jika manusia sudah sehat, baik, benar, pinter maka bumi sejahtera, air jernih, pohon berbuah, manusia hidup saling mencintai, mengasuh dan berkembang”.
“Dina zaman Satya, manusia teu boga dengki, teu boga serakah, rejeki ngalir sorangan, para dewa nurunkeun karaharjaan”.
Artinya:
Di zaman kebenaran, manusia tidak punya dengki, tidak punya serakah, rejeki datang sendiri, leluhur menurunkan kesejahteraan".
Untuk kembali bumi dalam emas kembali kita manusia "ngamumule budaya, ngajaga marwah leluhur" artinya kembali pada ajaran leluhur yang penuh kekuatan cahaya yang dapat membawa Padang, terang- benerangan sealam jagat semesta. Dalam ajaran Sunda buhun tidak berbicara pembangunan gedung dan teknologi canggih tetapi berbicara dengan cahaya penuh welas asih, kebenaran yang berupa perilaku budi pekerti yang membentuk karakter manusia menjadi manusi mulia dan paripurna. Sangat penting ajaran leluhur yang terdapat dalam naskah-naskah kuno yang ada di Nusantara kita ini menjadi kompas kehidupan seperti nilai ajaran Dasa Pasanta, Dasa marga, patikrama yang terdapat dalam naskah kuno Sunda di hidupkan kembali untuk meruat Kalabendu agar sirna di bumi kita kembali pada zaman penuh cahaya, zaman keemasan, kembalikan manusia ada dalam damai sejahtera.
Kembali kita ke gunung Padang sebagai situs punden berundak/Piramida bertingkat dari zaman megalitikum. Fungsi Padang gunung menurut Arkeologi sebagai tempat pemujaan leluhur, tempat upacara sesajian, komunikasi dengan dunia atas, pusat spiritual, karena posisi di puncak bukit menghadap matahari terbit, menandakan bahwa peradaban orang Sunda zaman dahulu sudah memiliki teknik susun batu tanpa semen. Gunung Padang dengan 5 teras berundak keatas puncak yang terdapat batu altar.
Gunung Padang menurut hasil penelitian beberapa versi, menurut Arkeologi konvensional perkiraan tahun kurang lebih 2.000 SM - 500 M, zaman Megalitikum dengan batu-batu permukaan berumur kurang lebih 2.000 SM - 500 M ada juga yang menyebut kan 20.000 M - 10.000 SM yang menerangkan lapis paling bawah mungkin struktur bantuan di buat oleh manusia artinya ada pada zaman es (paleolitikum ahir). Jika data yang di pakai 10.000 - 20.000 tahun artinya lebih tua dari Piramida Mesir artinya gunung Padang merupakan tempat berkumpul, memiliki energi medan magnet dan akuatik khusus, batu yang disusun tanpa perekat. Dalam kutipan naskah Sunda Buhun gunung Padang merupakan tempat tertinggi.
"Nu ngadeukeunna ka Maha Agung"
Artinya
"Tempat terdekat Sang Maha Agung".
Gunung Padang dalam cerita Parahyangan yaitu naskah yang membahas raja-raja Sunda dan tempat suci
.
“Di luhur bukit batu, tempat para resi tapa, ngadeuketkeun diri ka nu Maha Agung, tempat nurunkeun Wahyu Jeung pengajaran”.
Artinya:
“Di atas bukit batu, tempat para resi bertapa mendekatkan diri pada Yang Maha Agung, tempat turunnya wahyu dan ajaran”.
Dari naskah Sanghyang Siksakandang Keresian yang membahas tentang tempat suci:
“Gunung pamujaan, tempat silih asih jeung alam batuan tersusun ku gotong royong, ulah di robih, ulah di rusak”.
Artinya:
“Gunung pamujaan, tempat harmoni dengan alam, batunya disusun dengan gotong royong, jangan dirubah, jangan dirusak”.
Tafsir kutipan dari kedua naskah di atas menjelaskan bahwa struktur gunung Padang yang merupakan jenis batu andesit disusun bertingkat tanpa semen dan di kerjakan oleh banyak orang. Ada tradisi lisan dari kampung adat sekitar gunung Padang menyebutkan:
"Di dinya Aya gunung anu 5 undak tempat ngumpulkeun cahaya, saha nu leumpang ka dinya hatena bakal caang".
Artinya:
“Di sana ada gunung yang 5 tingkat, tempat berkumpulnya cahaya, siapa yang berjalan ke sana hatinya akan terang”.
Gunung Pandang memanggil manusia untuk kembali menghidupkan cahaya dalam dirinya, kembali melihat diri dengan cahaya hati, karena cahaya merupakan pengantar informasi yang suci, untuk kita dapat menyerap cahaya suci ilahi penting diri membangun tirakat untuk menumbuhkan dan mendapatkan pencerahan sejati dari diri sendiri. Cahaya adalah pengantar ilmu yang tidak tertulis namun sampai dalam rasa manusia melalui cahaya batin dan ilmu titen, leluhur menyebutnya "Sastro Jendro Hanyuningrat Pangruat Diyu" yaitu ilmu agung yang mengubah manusia dari keangkaramurkaan dan menaklukan keangkaramurkaan. Ingat pesan nenek moyang ilmu bukan di kepala tetapi ilmu ada pada kesadaran. Gunung Padang bukti nyata bahwa masyarakat Sunda sudah memiliki sistem Spiritual yang lebih luhur. Ilmu cahaya lebih tua karena bersumber dari kosmos. Gunung Padang adalah tempat yang menghubungkan diri manusia dengan penguasaan alam semesta dan tempat menerima pengetahuan suci untuk membentuk kesadaran diri bahwa diri kita tidak bisa lepas dengan alam, dan Sang Pencipta. Cahaya menjadi masuk pada rasa menjadi sensor batin untuk membaca kebenaran, pikiran sebagai mesin memproses data dan pernafasan sebagai koneksi tubuh dan kesadaran. Jika ketiganya bekerja harmoni cahaya akan mengalir, ketika salah satu kacau maka cahaya akan padam. Untuk menciptakan bumi penuh kesejahteraan dan kembali pada keemasannya manusia harus harmonis dan seimbang. Cahaya akan terwaris pada kita jika kesadaran tinggi dengan bukti nyata prilaku hidup yang baik.
"Buhun di junjung, sangkan ngarti kana Purwadaksi"
"Kembalikan nilai budi warisan leluhur Sunda"
Bandung, Senin, 13 Juli 2026
Dinten Soma, kaping 5 K pon, sasih Margasira 1963 Caka Sunda
YAYASAN SUNDA13BUHUN

✦ Tanya AI