Jin Gunung Cihurang Berjuluk Jaya Wisnu Ngaku Penanam Bambu di Jurang-jurang

🅱︎iasanya khalayak ramai, jika suatu saat pas melihat pohon bambu yang tumbuh di jurang-jurang (ngarai-ngarai) maupun di tempat-tempat yang curam, akan menyangka, bahwa pohon bambu itu tumbuh dengan sendirinya. Hal itu sangat kontroversi sekali dengan dongeng tutur sepuh Bah Oman yang didengar langsung dari Ki Sarnasik. Menurut cerita Ki Sarnasik, bambu yang tumbuh di jurang-jurang itu, ada yang menanamnya, yakni bangsa jin yang bertubuh raksasa bernama Jaya Wisnu.
“Bangsa jin yang berwujud makhluk raksasa penghuni Gunung Cihurang itu, katanya mengaku sebagai penanam bambu,” tutur Bah Oman yang lahir tahun 1952 di Kampung Talaga, Desa Talagasari, Kecamatan Banjarwangi, Kabupaten Garut Jawa Barat, sewaktu bersua di Panti Ghorim Babakan Kandang Desa Wanakerta, Kecamatan Cibatu-Garut Jawa Barat.

Biasanya Ki Sarnasik mencari daun pisang untuk dijual ke Pasar Samarang pergi ke Gunung Cihurang sehabis Shalat Subuh. Namun pada suatu saat, entah apa yang terjadi? Ki Sarnasik pergi ke hutan tersebut sekira jam 2 malam. Ia menyangka, waktu itu kesiangan. Maka dari itu ia bergegas pergi untuk mencari daun ke hutan Gunung Cihurang.
Langkahnya begitu tergesa-gesa menuju ke hutan tersebut. Padahal kala itu malam hari pukul 02.00 WIB. Akan tetapi suasananya terang bulan. Sehingga kesannya seperti waktu subuh.
Sesampainya di Gunung Cihurang, sebelum Ki Sarnasik mencari daun pisang, ia mendengar tangisan bayi, dan suara ibunya lagi membujuk anaknya supaya tangisannya mereda. Sayangnya, bayi itu masih terus tak henti menangis.
Saking penasaran, Ki Sarnasik terus melangkah perlahan menuju dimana tempat suara bayi menangis dan ibunya yang lagi membujuk dengan sayangnya.
Di luar kesadarannya, Ki Sarnasik sambil melangkah malah berbicara sendiri, “Mengapa ada tangis bayi dan ibunya di hutan belantara ini. Apakah ada seorang isteri yang dibuang? Lalu ia melahirkannya?” guman Ki Sarnasik dengan langkah kaki mengintip mendekati ke posisi suara tangis bayi yang terdengar kian keras menangis.
Seketika tubuh Kakek separuh baya itu, mendadak bergemetar. Parasnya berubah menjadi pucat pasi. Ekspresinya diselimuti rasa takut. Bulu romanya berdiri merinding. Matanya melongo memandang hampa ke arah seorang wanita bertubuh raksasa lagi menimang-nimang bayinya.
Tiba-tiba wanita bertubuh raksasa itu berkata: “Hey Ki Sarnasik, cepat ke sini! Tolonglah aku!” Suaranya bergema menggetarkan wilayah Gunung Hurang.
Perasaan Kakek separuh baya itu benar-benar semakin ketakutan. Rasanya ingin menjauh dengan berlari kencang, dan menjerit keras meminta tolong. Namun kakinya terasa berat untuk dilangkahkan, dan bibirnya kelu seperti terkunci. Akhirnya ia terdiam seperti patung.
Jangan takut, Ki Sarnasik! Lekas kesini! Tolonglah aku!” ujar wanita itu.
Anehnya setelah kedua kalinya sesosok wanita raksasa bangsa jin itu memanggil namanya, perasaan Ki Sarnasik tidak lagi dihantui rasa takut.
Ia segera mendekatinya, lantas berucap, “Apa yang bisa aku bantu, Nyimas?” tanya Ki Sarnasik, wajahnya tengadah melihat paras wanita tersebut.
Sambil jongkok wanita raksasa itu berkata: “Ki Sarnasik, tolong temui suamiku! Namanya Jaya Wisnu. Kini suamiku lagi berada di Pasar Samarang. Beritahukanlah, bahwa aku baru saja melahirkan,” pesannya menyuruh Ki Sarnasik.
Roman kakek separuh baya itu mendadak kebingungan. Ia tak memberikan jawaban sepatah katapun. Soalnya jarak tempuh ke Pasar Samarang itu sangat jauh sekali. Ki Sarnasikpun diam seribu basa.
“Jangan bingung, Ki Sarnasik!” seru wanita bertubuh raksasa, seraya berkata: “Pakailah cincinku ini! Cepat susulah suamiku!” titahnya sambil menaruh cincin dihadapan Ki Sarnasik.
Begitu ajaib sekali. Sewaktu cincin itu dilepasnya. Lantas ditaruhnya dihadapan Ki Sarnasik, tiba-tiba cicin yang sangat besar itu seketika berubah menjadi mengecil sebagaimana cicin yang umumnya dipakai oleh bangsa manusia.
“Cepat pakailah cincin itu, Ki Sarnasik. Sesungguhnya cincin itu bisa mengantarkanmu, kemana saja yang kau kehendaki. Asal kau perintah si penghuni cincin itu,” serunya.
Ki Sarnasik pun segera memakainya. Lantas berseru: “Hey penghuni cincin, antarkanlah Aku ke Pasar Samarang untuk menemui, Jaya Wisnu,” ucapnya.
Dengan sekejap mata Ki Sarnasik tiba dihadapan jin bernama Jaya Wisnu yang sosoknya menjulang tinggi. Hingga tinggi tubuh si Kakek paruh baya hanya sebatas pergelangan kaki bangsa jin itu.
Herannya tatkala Ki Sarnasik berada di hadapan Jaya Wisnu, ternyata bangsa jin tersebut sudah tahu nama panggilan si Kakek.
Lalu bangsa jin yang berjuluk Jaya Wisnu berucap: “Hey Ki Sarnasik, ada apa kau datang kemari,” sapa bangsa jin yang bernama Jaya Wisnu. Suaranya bergema.
Ki Sarnasik: “Aku disuruh oleh istrimu, untuk mengabarkan, bahwa istrimu sudah melahirkan,” jawab Ki Sarnasik. Suaranya begitu nyaring sekali.
Jaya Wisnu mendengar kabar dari Ki Sarnasik, langsung girang tertawa terbahak. Membuat tubuh Ki Sarnasik bergetar ketakutan.
“Jangan takut, Ki Sarnasik! Mari kita pergi ke Gunung Cihurang! Disana istriku lagi menunggu. Mari kita pergi, Ki!” ajak Jaya Wisnu. Seraya memegang tubuh Ki Sarnasik. Lalu dimasukan ke dalam saku bajunya.
Bagaikan kilat gerakan tubuh bangsa jin itu. Hanya sekejap saja, Jaya Wisnu dan Ki Sarnasik tiba ke suatu tempat di Gunung Cihurang.
Setibanya Jaya Wisnu dan Ki Sarnasik di gunung tersebut, lalu bertemu dengan istrinya. Namun saat itu tak ada kisah yang diceritakan.
Selanjutnya dipengujung pertemuan antara Ki Sarnasik dengan Jaya Wisnu, kemudian Ki Sarnasik dibawa oleh Jaya Wisnu keliling Indonesia menuju lembah-lembah dan jurang-jurang curam untuk melihat pohon-pohon bambu, serta mengajak orang tua separuh baya itu menanam bambu, seperti di kepulauan Sumatra.
Foto Bambu. Sumber Net.
Kepada Ki Sarnasik, bangsa jin bernama Jaya Wisnu itu lalu memberitahukan dan sekali gus mengaku, bahwa pohon-pohon bambu yang tumbuh di lembah-lembah, dan jurang-jurang curam di Indonesia, bukan serta merta tumbuh dengan sendirinya, melainkan sengaja ditanami oleh Jaya Wisnu.
“Selain itu, kata Ki Sarnasik kepada Bah Oman, jika satu saat kamu ke Sumatra, coba lihat di jurang, seperti di jurang Kwali Palembang Sumatra. Di jurang tersebut, Aki pernah ikut menanam bambu dengan Kang Jaya,” ujar Bah Oman yang kembali mengutip dongeng pengalaman dari Ki Sarnasik, tatkala bertemu dan bersahabat dengan bangsa jin. “Bahkan saking akrabnya, Kisarnasik, menyebut kepada bangsa jin yang bernama Jaya Wisnu dengan sebutan, Kang Jaya,” pungkas Bah Oman. (DM).
✦ Tanya AI