• Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh
Hari

Your cart

Price
SUBTOTAL:
Rp.0

Hujan Uang di Cimobol

img

Menulis 1.jpg

Siapapun ketika mendengar ada kabar peristiwa hujan uang, tentunya akan merasa aneh dan mungkin tidak akan percaya, pasti itu kabar hoax. Akan tetapi, menurut pengakuan Endang Mahdi (asal Kampung Panyosogan, Desa Wanakerta, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Indonesia) bahwa peristiwa hujan uang itu benar-benar terjadi. Pasalnya ia pernah menyaksikan secara kasat mata ada hujan uang kertas asli. Bahkan menurut pengakuannya, ia sendiri sempat mengambilnya uang itu 3(tiga) lembar dan langsung dibelanjakan ke warung yang ada di lokasi Kampung Pacul, Desa Sukasono masih di wilayah Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Indonesia.

Terkait dengan hujan uang tersebut, Endang Mahdi mengisahkan seputar pengalaman pribadinya sekitar tahun 1960-an. Waktu itu ia pernah bertapa 4(empat) bulan lamanya mengasingkan diri di Astana Gede (di wilayah Desa Wanakerta, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Indonesia) dan Cibatu Agung (masuk wilayah Desa Sukaluyu, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Indonesia). Sewaktu bertapa di lokasi tersebut ia mengaku selama melakoni puasa hanya berbuka dengan singkong, dan minum air kelapa, namun tatkala menjalankan kegiatan spiritualnya di tempat-tempat tersebut ada kejadian-kejadian yang unik dan ajaib tidak masuk akal sehatnya.

993078cc-bcb0-4243-b29e-8d1003aac7e5.jpgEndang Mahdi

Ketika bertapa (bersemedi) di Astana Gede, Endang menuturkan, waktu itu pada tahun 1960-an, kondisi Astana Gede masih dihiasi dua pohon klumpit (terminalia macrocarpa) yang tinggi menjulang, dan pohon klumpit sebelah Selatan pas di kaki makam keramat Eyang Dalem Prabumas, di gapit pohon jingah (gluta renghas), dan sebelah atasnya ada pemakaman umum petilasan orang dulu, dan sesekali dipakai untuk menguburkan mayat sewaktu ada yang meninggal dunia (antaralain, warga dari Kampung Babakankandang Desa Wanakerta, atau warga dari Kampung Cikelepu, dan Warung Kaler Desa Sukaluyu). Saat itu keadaan makam Keramat Eyang Dalem Prabumas begitu angker. Bahkan hingga kini oleh sebagian masyarakat yang masih meyakininya masih disakralkannya.

Bagi Endang di tempat Astana Gede di lingkungan Makam Keramat Eyang Dalem Prabumas Emas, meskipun sepi menyeramkan dan angker tetap bertapa. Akan tetapi kewajiban sholat lima waktu tak pernah ditinggalkannya, lantas setelah menunaikan shalat, ia mendawamkan do'a pemberian dari leluhurnya di lokasi makam keramat tersebut.

Setiap mengambil air wudu, Endang tak pergi ke Situ Cibatu Agung (tepatnya di carik milik Desa Sukaluyu Kecamatan Sukawening Kabupaten Garut) meskipun jaraknya hanya sekira 300 m, melainkan ia memilih mengambil air wudhu di sungai Cikadu di aliran sungai di bawah makam keramat Eyang Jaya Diningrat (Eyang Jangkung) yang lokasinya sejauh 500 m, melalui jalan setapak bermedan menanjak. Makam Eyang Jangkung itu masuk ke wilayah Desa Wanakerta Kecamatan Cibatu Kabupaten Garut.

Di sana, setiap tiba untuk mengambil air wudhu, di kebun milik Abdul, selalu ada dua sosok berbaju putih seperti lagi bersemedi menunggunya. Namun dua sosok putih itu dibiarkannya tak pernah disapanya.

Sedangkan tatkala Endang diam bertapa di lokasi Cibatu Agung, suasana di tempat ini masih sunyi sepi dihiasi pepohonan besar yang masih banyak berdiri menjulang tinggi. Keadaanpun menjadi seram dan angker. Akan tetapi ia terus bertapa.

Tatkala di Cibatu Agung, di alam bawah sadar Endang, sempat melihat bangunan masjid Djami. Posisinya di pinggir makam Eyang Nyimas Siti Ningrum (masih di lokasi carik desa). Bangunan itu konstruksi pinggir-pinggir dindingnya bagaikan batu yang disusun seperti batu hitam Candi Borobudur dengan dihiasi sejumlah pintu jendela.

Setelah selesai mengasingkan diri selama empat bulan, Endang memutuskan akan melanjutkan lagi perjalanannya menuju tempat-tempat keramat yang ada di bawah kaki Gunung Sadakeling. Lalu melalui jalan setapak melintasi petilasan Kampung Bantut, terus lewat Kampung Cikelepu Desa Sukaluyu Kecamatan Sukawening Kabupaten Garut.

Menurut Endang, sewaktu tiba di lokasi pemakaman Cimobol Eureunsono, sekitar jam 5(lima) sore keadaan perutnya terasa lapar sekali. Maklum ia lagi berpuasa. Lantas ia berdo'a memohon kepada Allah SWT, selama berbulan-bulan mengasingkan diri, perutnya ketika buka puasa hanyalah sebatas diisi dengan singkong dan jagung bakar belum pernah sekalipun makan nasi.

Lokasi Cimobol saat ini.

"Ya Allah, ingin rasanya hamba ini, bila buka puasa makan kupat tahu, merokok dan beli kopi gula," jerit hati Endang memohon kepada Allah SWT di jalan setapak depan makam Cimobol Kampung Eureunsono Desa Sukaluyu, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut, Jawa Barat-Indonesia.

Tak diduga sekira pukul 5(lima) sore, ada kejadian aneh bin ajaib (aheng), tiba-tiba tanah yang diinjak seperti bergoyang seiring angin berhembus kencang dari arah Gunung Sadakeling suaranya bergemuruh. Terlihat angin bertiup melibas pepohonan, sehingga nampak jelas pepohonan yang tinggi besar, seperti akan tumbang, dan dedaunan bambu mengeluarkan suara gaduh berderik ditiup angin, dan pepohonannya nampak meliuk-liuk, seperti akan roboh terbang tersapu angin.

Waktu itu, perasaan hati Endang mendadak menjadi galau bercampur rasa takut dan khawatir, bulu kuduknya merinding saking ketakutan.

Setelah angin yang bertiup kencang itu perlahan mereda, nampak terlihat ada yang berterbangan. Semula Endang mengira, bahwa yang berterbangan itu dedaunan kering melayang-layang terbawa angin. Semakin dekat dedaunan tersebut berjatuhan.

Dedaunan yang terbawa angin itu berjatuhan ke atas tanah, setelah secara kasat mata dilihatnya, ia langsung tertegun saking tak percaya dengan penglihatan mata kepalanya sendiri. Endang-pun berulang kali memejamkan mata dan mengusap wajahnya. Soalnya pas ia melihatnya, ternyata bukan daun-daun kering yang berserakan, melainkan uang kertas 100 rupiah berwarna merah bergambar Presiden Soekarno.

Waktu itu ia merasa tak percaya dengan penglihatannya, apakah halusinasi atau mimpi, tapi ketika dicubit bagian anggota badannya, jelas sekali terasa sakit.

"Ya, Aku memang tidak tidur, atau lagi bermimpi, tapi Aku ingin sekali berbuka puasa beli kupat tahu, merokok dan minum kopi," guman Endang.

Alhamdilulillah, ucapnya, "Ya Allah, semoga uang ini uang beneran, hamba akan belikan uang ini sesuai dengan apa yang hamba mohonkan kepada-Mu, Ya Allah!" ujar Endang bermonolog sendiri di tengah sepinya sore di ambang senja di wilayah makam Cimobol Kampung Eureunsono, Desa Sukaluyu, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut.

Setelah itu, lalu tangan Endang mengambil 3 lembar uang kertas 100 rupiah yang bergambar Soekarno, sambil berbicara seorang diri sendiri.

"Aku ambil uang ini 3 lembar sesuai dengan permohonanku buat membeli kupat tahu, rokok dan kopi. Uang yang banyak ini, Aku ikrarkan buat orang lain. Karena masih banyak orang yang sangat membutuhkannya," tutur Endang, seraya uang yang tiga lembar itu dimasukan ke dalam saku bajunya, dan bergegas menuju Kampung Pacul, Desa Sukasono, Kecamatan Sukawening, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat untuk membeli kupat tahu, rokok dan kopi.

Menurutnya apabila uang yang menghampar kala itu diambilnya, pasti ia bakal kaya mendadak.

Tak lama kemudian, setelah Endang berbuka puasa, ia langsung melanjutkan perjalanannya menuju ke makam-makam keramat yang ada di wilayah Desa Sukasono, hingga bermalam di puncak Gunung Sadakeling, yakni di makam keramat Eyang Surya Kencana.(DM).

© Copyright 2024 - Mahkotaindonesia.com
Added Successfully

Type above and press Enter to search.