• Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh
Hari

Your cart

Price
SUBTOTAL:
Rp.0

Goa Cikaracak di Sungai Cimanuk Garut Masih Misteri

img


Menulis 1.jpg

Juli 1971, langit cerah menghiasi suasana musim kemarau panjang. Saat itu Nandang Rosadi bersama 5 kawannya, sekira pukul 13.00 WIB, sehabis sekolah bergegas pergi bermain menuju Sungai Cimanuk. Mereka sesekali meloncat-loncat berpijak di atas batu dari bantaran Sungai Cimanuk pinggir Pasiripis Desa Sindangsuka menyebrang Sungai Cimanuk ke lokasi bantaran Leuwi Itit di lokasi Desa Cibiuk Kidul, Kecamatan Cibiuk, Kabupaten Garut Jawa Barat. Bocah-bocah ingusan itu,  tatkala tidak ada batu untuk berpijak menuju ke lokasi tersebut, seraya mereka membuka baju dan celananya, lalu   berenang. Masing-masing tangan kirinya diacungkan dengan menggenggam baju dan celananya agar jangan basah tersentuh air. Setibanya di hamparan pasir pantai Leuwi Itit, lalu mereka  bergegas mencari buah golodog disekitar lokasi Goa Cikaracak itu berada

Semula kelima bocah itu tak mengira di sekitar pohon buah gelodog ada goa. Soalnya di tempat tersebut, selain mendinding tebing, juga tertutup dengan semak belukar dan pohon kayu yang berjanggut panjang. Namun dengan tiba-tiba, sebelum Nandang mencari buah golodog, secara mendadak melihat ada lubang pada tebing yang ketinggiannya sekitar 100 m diselimuti oleh semak belukar, dan akar pepohonan. Nampak keberadaan lubang yang ada pada dinding tebing itu hingga ke bantaran  sungai, diperkirakan tingginya sejauh 50 m.

Selanjutnya Nandang berteriak : “Ada lubang besar, ada lubang besar, disitu ada lubang besar,” teriakannya nyaring memanggil  teman-temannya.

“Mana?” tanya dua kawan-kawannya dari Kampung Jatijajar dan dua rekannya dari Kampung Cigalumpit, Desa Sindangsuka,  Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut Jawa Barat.

“Itu…itu… pas ada satu pohon pada dinding tebing yang terhalangi sedikit semak belukar,” jawab Nandang, sambil telunjuknya menunjuk ke posisi dimana lubang itu berada.

Keempat kawan-kawannya, setelah melihat posisi lubang goa itu, kemudian mereka dari kejauhan memandangnya dengan penuh sejumlah tanda tanya.

Ketika bocah-bocah ingusan itu lagi serius memandang posisi gua di tebing yang mendiding, tiba-tiba ada seorang anak dari Kampung Serang Desa Cibiuk Kidul Kecamatan Cibiuk bergegas menghampiri Nandang, seraya bertanya, “Mana lubang besar itu?” tanyanya penasaran.

“Itu pas ada satu pohon pada dinding tebing yang terhalangi sedikit semak belukar,” jawab Nandang dengan menunjukan telunjuknya ke arah objek lubang yang dilihatnya.

“Oh, Iya,” ucap bocah asal Kampung Serang.

“Itu sepertinya lubang goa. Mari kita kesana,” ajaknya.

“Ah, kita takut! Lagi pula kemana kita jalannya?” ujar Nandang.

“Kita Jalan lewat bukit sana aja! Selanjutnya kita tinggal turun melalui pohon yang ada di dekat lubang itu. Mari kita pergi kesana!” seru anak Kampung Serang, seraya melangkahkan kakinya diikuti oleh kelima anak yang berasal dari wilayah Desa Sindangsuka Kecamatan Cibatu.

Langkah kaki bocah-bocah ingusan itu begitu tangkas menelusuri jalan setapak melalui kebun-kebun milik petani, dan menerobos semak belukar menuju tempat lubang yang ada pada dinding tebing tersebut.

IMG_20220111_144849.jpg

Goa Cikaracak di Sungai Cimanuk Sebuah Misteri yang Belum Terungkap di Garut

Setibanya disana, Nandang bersama kawannya terpaku seperti patung. Matanya tak berkedip memandang dari atas tebing ke arah lubang yang pertama dilihatnya.  Seketika perasaan Nandang ciut dihinggapi kemelut rasa takut turun ke bawah mendekat ke lubang yang menganga. Namun rasa penasaran pun mendadak bangkit menghapus rasa takut yang menghantui di dalam dadanya. Seketika rasa takutnya sirna tersingkirkan dengan  rasa penasaran yang memicu keberaniannya untuk melihat dari kedekatan lubang itu.

Awalnya Nandang dan kawan-kawannya, tatkala di ajak oleh sosok bocah pemberani dari Kampung Serang tidak mau diajak turun melalui dulu cabang pohon, lalu merayap melalui batang pohon, karena takut. Soalnya suasana di tempat itu menyeramkan. “Jangan takut!” serunya,”Biar nanti aku yang duluan turun dan masuk ke dalam goa tersebut,” ujarnya, “Mari kita bikin dulu obor dari daun kelapa yang kering,” ajak anak pemberani itu kepada teman mainnya.

Setelah obor itu dibuatnya, mereka turun merayap ke bawah.  lalu anak dari Kampung Serang itu memberikan penyulut api mirip zippo untuk membakar obor dari daun kelapa kering agar dinyalakan oleh Nandang. Penyulut api itu selalu dibawanya oleh anak asal dari Kampung serang guna memasak singgkong dibawah abu api unggun.

Perlahan keenam bocah ingusan itu memasuki lubang gua dengan cara bagian kakinya yang dijulurkan masuk ke dalam lubang tersebut. Satu per satu anak-anak itu masuk ke dalam lubang goa. Hentakan-hentakan irama kakinya begitu kaku. Setiap langkah menerobos masuk ke dalam goa diiringi rasa gundah. Sehubungan jalan yang dilewatinya berlumut dan licin. Tak lama kemudian, mereka berada di dalam ruangan goa.

Ekspresi wajah dari keenam anak itu mendadak berubah. Sikap tubuhnya pada diam dipenuhi rasa heran. Matanya liar melirik kesana kemari melihat keadaan ruangan goa sambil menyaksikan benda-benda unik yang disinari cahaya kurang terang dari obor daun kelapa kering.

Sekilas mereka melihat perkakas berupa periuk (tempat menanak nasi liwet), wajan,  teko berbahan tembaga, dan piring seng. Terus mereka sama-sama  merasakan apa yang diinjaknya, seperti tulang belulang, dan dirabanya seperti benda-benda logam.

Saat itu  rasa takut mereka pudar, ketika di dalam goa itu menemukan perkakas dapur, dan sesuatu yang diraba oleh masing-masing tangannya.  Suasana di dalam Goa Cikaracak yang asalnya sepi menjadi bergema suara anak-anak saling bertanya, sewaktu, menginjak,  meraba sejumlah keunikan lalu diambilnya, dan didekatkan kepada cahaya obor yang kurang terang, diantaranya tulang belulang, atau barang berupa besi.

“Coba kita lihat! Ini barang apa?” kata seorang anak, jika tangannya meraba sesuatu, kemudian diambilnya, lalu memberi tahu kepada kawannya, sambil didekatkan kepada cahaya obor.

Seiring dengan cahaya obor daun kelapa kering perlahan mulai redup, Nandang segera mengajak untuk keluar dari dalam goa. Keenam bocah ingusan itu, segera bergegas keluar menembus lorong jalan dengan hati-hati karena jalannya licin berlumut.

Setibanya di luar goa, satu persatu memanjat lagi pohon menuju ke atas dataran tebing meninggalkan lubang yang ada pada tebing Cikaracak. Sesampainya mereka di atas dataran tebing, nampak masing-masing dada bocah ingusan itu berdebar dipicu detak jantungnya yang bertalu kencang.  Suara nafasnya berirama tersengal-sengal. Sekujur tubuhnya basah bermandikan keringat.

Setelah rasa lelahnya reda ditiup semilir angin yang menerpa tubuhnya dengan penuh kesejukan, baru keenam anak-anak itu saling bercerita serasi dengan apa yang dirasakannya, serta apa yang dilihatnya tatkala berada di dalam Goa Cikaracak.

Terkait dengan peristiwa pengalamannya tersebut, Nandang menuturkan, hingga saat ini kisah nyata pada tahun 1971 itu masih terbayang dalam ingatannya. Untuk masuk ke dalam Goa Cikaracak ada dua pintu masuk. Pintu pertama lewat jalan yang diperkirakan tembus ke lokasi sebidang kebun milik seseorang, dan pintu kedua posisinya harus masuk dengan cara menyelam dulu ke dalam sungai dan menerobos lorong gua yang penuh dengan air sejauh 2 Meter.

“Sedangkan lubang yang saya terobos sewaktu duduk di bangku sekolah dasar, menurut cerita orang tua, itu tempat lubang pengintaian gerombolan Jendral Abidin untuk memantau pasukan TNI ketika patroli bersama Organisasi Keamanan Desa (OKD). Pasalnya dari lubang itu, jika melihat ke arah jalan di wilayah Desa Cibunar Kecamatan Cibatu yang sekarang ada patung kuda putih, ternyata lalu-lalang kendaraan, atau seseorang yang berjalan kaki terlihat jelas,” kata Nandang.

 

Nandang, saksi hidup yang pernah masuk kedalam Gua Cikaracak

Pria kelahiran tahun 1962 itu mengatakan, Di dalam Goa Cikaracak,  terdapat 3 ruangan yang terdiri dari 2 ruangan kamar, dan 1 ruangan tengah seperti tempat pertemuan. Diperkirakan ukuran setiap ruangan kamar, masing-masing berukuran 2,5 x 2 m² dengan tingginya 3 m, dan di atas ruangan tempat berserakan perkakas untuk  menanak nasi serta mendidihkan air minum, keadaan    ruangannya lebih luas dari ruangan kamar.

Mengingat sewaktu di dalam goa diiringi dengan perasaan takut, ia bersama kawan-kawannya hanya sebentar berada di dalam ruangan Goa Cikaracak. Akan tetapi . Nandang sempat melihat dengan mata kepalanya sendiri, pada salahsatu ruangan goa,  sempat ia meraba suatu benda, setelah diambil dan diterangi oleh obor, adalah logam besi seperti besi ranjang. Rupa-rupanya di ruangan itu ada katil besi (ranjang besi) tempat tidur.

Sedangkan di depan dua ruangan goa, di sekitar air yang menggenang dari lorong jalan rahasia masuk ke dalam goa, terdapat tulang belulang dan perkakas dapur.

Kata orang tua saya, goa tersebut adalah tempat persembunyian Gerombolan DI/TII Kartosoewirjo. Soalnya, setiap ada pertempuran, antara pejuang dari  OKD melawan DI/TII di bawah kepemimpinan Jendral Abidin, apabila pasukan gerombolan itu terdesak, selalu pada lari pontang-panting ke arah lokasi tersebut, seraya meloncat terjun menceburkan diri ke Sungai Cimanuk. Anehnya, ia langsung menghilang begitu saja. Ternyata baru terpikir, sepertinya para gerombolan yang menceburkan diri ke sungai, masing-masing langsung masuk melalui pintu goa yang tertutup dengan aliran air Sungai Cimanuk dan kemudian masuk melintasi lorong Goa Cikaracak yang dipenuhi air,” tutur Nandang.

Bukan hanya itu, ketika musim kemarau, atau musim hujan, di wilayah blok serang, konon para anggota OKD sempat dikagetkan secara tiba-tiba dengan kemunculan sesosok perempuan berpayung berjalan sambil membawa bakul dan teko. Entah darimana kemunculannya? Diduga, ada pintu keluar masuk dari suatu lokasi. Akan tetapi, entah dimana gerbang itu  posisinya? Soalnya di dalam Goa Cikaracak ada lorong panjang menembus ke arah blok Serang.

Sayangnya, semenjak Nandang Rosadi pada tahun 1971 bersama kelima kawannya masuk ke dalam Goa Cikaracak, hingga saat ini belum ada yang berani masuk ke dalam goa tersebut. Soalnya telah tersebar isu,  bahwa di dalam Goa Cikaracak ada ular sapi yang begitu besar. Maka dari itu, jangankan ada seseorang yang berani masuk ke dalam goa itu, hanya melintas saja, perasaannya sudah miris tidak bernyali. Apalagi pada saat sekarang, lubang pengintaian yang ada pada dinding tebing itu, kini tak nampak terlihat. Entah terhalang lebatnya semak belukar, atau tertutup longsoran-longsoran tanah? Sehingga sampai saat ini keberadaan Goa Cikaracak masih perawan diselimuti misteri.

Padahal, jika kita mengacu kepada penemuan fosil-fosil manusia purba, tidak menutup kemungkinan, andaikata Goa Cikaracak di wilayah Kampung Serang, Desa Leuwigoong Kecamatan Leuwigoong, Kabupaten Garut Jawa Barat, tepatnya di bawah tebing blok Cikaracak pinggir Sungai Cimanuk yang menghadap ke arah tebing Pasiripis  Kampung Cigalumpit, Desa Padasuka, Kecamatan Cibatu,  Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat. apabila diteliti dan digali oleh tim arkeolog, siapa tahu ditemukan  fosil manusia purba sebagaimana telah ditemukannya fosil-fosil manusia purba di Goa Pawon. Pasalnya, beberapa meter dari Gua Cikaracak, terlihat ada panorama menakjubkan berupa sebongkah batu besar yang dihiasi tulisan-tulisan dan relief-relief unik seperti prasasti. Sejumlah warga Kampung Cigalumpit yang pernah menyaksikannya dengan kasat mata menyebutnya batu bertulis.

Selain itu, bila kita kaji keterangan dari Nandang, mengenai adanya  tulang belulang di goa tersebut, lalu kita kaitkan dengan Teori Human Origin, yakni ada dua alasan yang dijadikan acuan Eugene Dubois, seorang Dokter berkebangsaan Belanda meneliti ke Negara Indonesia,  salahsatunya adalah, di Indonesia banyak ditemukan goa-goa. Realita itu memungkinkan sekali ditemui fosil-fosil atau bekas kehidupan manusia purba. Misalnya, Gua Pawon yang berlokasi di Desa Gunung Masigit, Kecamatan Cipatat - Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Di lokasi itu telah ditemukan kerangka manusia purba yang diyakini sebagai nenek moyang orang Sunda.

Mengacu kepada teori tersebut, mungkin saja di dalam Goa Cikaracak yang masih perawan mengandung sejumlah teka-teki, siapa tahu ketika tirainya telah tersibak, ditemukan fosil-fosil, atau perkakas  sebagai petunjuk, bahwa di lokasi itu ada  bekas kehidupan manusia purba.

Disamping hal tersebut, mungkin saja di dalam Goa Cikaracak dan sekitarnya ditemukan barang-barang penting yang bisa dijadikan sebagai saksi bisu untuk menambah perbendaharaan sejarah di bumi Nusantara guna menggugah supaya generasi muda jangan sekali-kali melupakan sejarah, sehingga bisa mencetak Generasi Muda Jasmerah, atau Generasi Muda Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah. (DM).


© Copyright 2024 - Mahkotaindonesia.com
Added Successfully

Type above and press Enter to search.