Berakhirnya Lelaki Berambut Panjang di Karadenan

Pada masa kini, kaum lelaki yang berambut panjang bisa dihitung dengan jari jemari tangan. Biasanya pada saat sekarang, para lelaki yang memiliki rambut panjang ada pada kalangan seniman, bintang film, pemusik dan pria-pria yang sengaja merawatnya karena menyenanginya. Hal itu sangat berbeda sekali dengan jaman dahulu, yangmana antara pria dan wanita rambutnya sama-sama panjang. Salahsatu buktinya pada masa lalu di Kampung Karadenan, Desa Cimahi Kecamatan Cicantayan, Sukabumi Jawa Barat, Indonesia. Para lelaki di wilayah ini, semuanya berambut panjang.
Di kampung tersebut, semenjak berdirinya Vereenigde Oost Indiche Compagnie (VOC) pada tahun 1602 maupun sebelumnya, semuanya berambut panjang, diantaranya Marsan dan Artas. Keduanya berambut panjang. Rambutnya rata-rata disanggulkan dengan dihiasi bondu dan tusuk konde yang terbikin dari tanduk kerbau.

Waktu itu segala accesories (aksesoris) untuk mengurus rambut kaum lelaki dan kaum wanita di Kampung Karadenan, seperti Sisir, Bondu, dan Tusuk Konde terbuat dari tanduk kerbau. Kecuali minyak rambutnya. Mereka menggunakan minyak rambut yang terbuat dari buah kelapa (minyak keletik).
Produksi accesoris rambut pada jaman VOC yang terkenal adalah produksi Lasinam. Kualitasnya bermutu tinggi. Waktu itu produksi Lasinam banyak yang menggemarinya. Diantaranya ‘Ma Iya, asli dari Kampung Karadenan yang telah pindah ikut dengan suamiya ke Kampung Cibarengkok Desa Cimanggu Kecamatan Cikembar Kabupaten Sukabumi. Saat itu, tatkala bersua dengan penulis ditempat kediamannya, pada 8 November 1994, Ia mengaku menggemari Sisir produksi Lasinam. Bahkan selalu digunakan dan dirawatnya dengan apik.
Foto istimewa sumber Net,Dewasa ini di Kampung Karadenan hanya orang-orang tertentu yang menyenangi rambut panjang bisa ditemukan. Lantas apa yang menyebabkan berakhirnya kaum lelaki di Kampung Karadenan, tiba-tiba tak berambut panjang?
Kata 'Ma Iya, ketika mata uang koin sasen sabengol (satu cent/satu benggol) dan lima cent bolong usianya sudah menginjak 12 tahun. Kala itu Indonesia di jajah Belanda, dengan ratunya adalah Ratu Wilhelmina (lengkapnya, Wilhelmina Helena Pauline Marie van (Orange-Nassau) yang menjadi raja Negara Belanda dari tahun 1890-1948. Kemudian diganti oleh Ratu Juliana (Juliana Louise Marie Wilhelmina Van Oranje-Nassau) menduduki tahta kerajajaan pada tahun 1947-1948.
Terkait dengan keterangan dari ‘Ma Iya yang mengatakan, entah pada tahun berapa kaum pria di Kampung Karadenan masih berambut panjang. Dalam benaknya hanya teringat sebagai tandanya adalah uang satu cent, atau satu benggol, dan lima cent bolong. Kaum lelaki di kampung itu, katanya masih berambut panjang.

Mengacu kepada hal tersebut, sumber lain menjelaskan, bahwa uang 1 Cent dikenal oleh masyarakat dengan sebutan uang benggol, atau gebang. Pada bagian depan bertuliskan Nederlandsch Indie 1 C dilengkapi dengan gambar daun, dan pada bagian belakangnya dikelilingi huruf Arab yang melingkar. Uang itu beredar dari tahun 1855-1945.

Sedangkan uang koin 5 Cent bolong. Koin ini dikenal dengan sebutan Ketip. Pada bagian depan bertuliskan Nederlandsch Indie 5C dilengkapi dengan gambar mahkota kerajaan serta bulir padi, serta pada bagian belakangnya melingkar tulisan huruf Arab dan aksara Jawa. Uang tersebut berlaku dari tahun 1854-1922.
Menurut ‘Ma Iya, di Kampung Karadenan, baik pada masa berkuasanya Ratu Wilhelmina dan Juliana, sebagai tanda pengingatnya, adalah mata uang koin sasen sabengol dan lima cent bolong, kaum lelaki masih berambut panjang. Namun bersamaan dengan munculnya organisasi Serikat Islam, tiba-tiba berambut pendek.

H. Samanhudi
Merujuk kepada pertanyaan ‘Ma Iya tadi, referensi menyebutkan, bahwa ‘Organisasi Serikat Islam itu, merupakan hasil perubahan dari organisiasi Serikat Dagang Islam (SDI) yang didirikan pada tanggal 16 Oktober 1905 atas inisitif saudagar batik dari Solo, yakni H. Samanhudi Kemudian pada tahun 1912, SDI berubah menjadi Serikat Islam (SI).

Jadi berdasarkan keterangan-keterangan tersebut, tersimpulkan, berakhirnya rambut panjang di Kampung Karadenan, bersamaan dengan munculnya organisasi Serikat Islam. Para pria yang berambut panjang di kampung tersebut menutup riwayatnya seiring dengan munculnya Zaman peci. (DM).
✦ Tanya AI