Batu Bertulis di Makam Centring Manik Masih Misteri Tertutup Akar Ara

🅼︎em-follow up atas permintaan Kades Cintamanik, Cecep Supriadi, kepada Penulis untuk merilis Legenda Eyang Mukarom. Tak lama kemudian penulis langsung menelusuri keberadaan makam keramat yang ada di lokasi pemakanan Cikiruh Desa Cintamanik, Kecamatan Karangtengah, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Indonesian, bersama Idrus Ketua RW.05 Kampung tersebut, dan Sohib Kasi Perencanaan Desa Cintamanik, ternyata di pusara Embah Gaber alias Eyang Mukarom, terlihat jelas batu nisannya sebagai saksi bisu sudah tidak asli lagi. Hanya di pusara Eyang Centring Manik (Eyang Buyut Gelis) yang nampak masih utuh. Sayangnya pusara Eyang Centring Manik sudah tertutup akar kiara. Di tempat pusara Eyang Centring Manik, Idrus Ketua RW.05 Kampung Cikiruh mengaku, pernah melihat batu bertulis. Namun saat ini sudah tertutup akar pohon kiara (Ara).
Berdasarkan kabar lisan dari tutur para leluhur yang kembali dituturkan secara turun temurun, bercerita, konon Eyang Centring Manik semasa hidupnya terkenal dengan parasnya yang cantik jelita. Rambutnya begitu panjang hingga menjurai menyapu tanah, sehingga Eyang Centring Manik ini, karena wajahnya yang sangat cantik sekali, maka lebih terkenal dengan nama Eyang Buyut Geulis.
Konon semasa lanjangnya, banyak pria yang jatuh cinta, dan ada pula yang langsung melamarnya kepada orangtua Eyang Buyut Geulis, namun tidak ada seorang pria pun yang diterima orang tuanya sebagai pendamping putrinya yang cantik nan jelita.
Tak lama kemudian orangtua Eyang Buyut Geulis mengadakan sayembara untuk menyeleksi calon-calon menantunya yang sesuai dengan harapannya. Alhasil dari saembara itu, terpilihlah sosok pria yang sesuai dengan harapan orang tua dari Eyang Buyut Grulis alias Eyang Centring Manik, yakni Eyang Mukarom alias Syeh Qubro, atau yang lebih familiar hingga saat ini dengan sebutan nama Embah Gaber.
Singkat cerita, Eyang Centring Manik, atau Eyang Buyut Geulis, setelah mengarungi bahtera kehidupan dengan menorehkan kisah bersejarah semasa hidupnya, akhirnya kedua sosok itu menutup riwayat hidupnya dan dimakamkan di Makam Cikiruh. Namun, pusaranya tidak berdampingan. Jarak Pusara Bah Gaber dan Eyang Buyut Geulis sekira 30 m, dengan posisinya, makam Embah Gaber di sebelah atas, dan makam Eyang Buyut Geulis terletak di sebelah bawahnya dengan kondisi pusaranya terkurung akar pohon Kiara.
Menurut Idrus dan Sohib, batu nisan di makam keramat Eyang Mukarom, sewaktu ada yang membangunnya, diganti. Batu Nisan aslinya di taro di bawah pinggir jalan setapak. Kini sudah tertimbun tanah.
Selanjutnya, selain Penulis mengunjungi makam Embah Gaber, juga menyambangi pusara Eyang Buyut Geulis yang langsung didampingi oleh Idrus Ketua RW.05 Kampung Cikiruh, dan Sohib Kasi Prasarana Desa Cintamanik, kemudian penulis turun ke bawah menuju pusara Eyang Centring Manik. Nampak pusara keramat itu sudah tertutup akar-akar pohon kiara (Ara) yang menjulang tinggi.
"Di makam Eyang Buyut Geulis saya sempat melihat ada batu bertulis. Akan tetapi yang pernah saya lihat, jenis hurufnya entah huruf apa? Saya tidak mengerti. Tapi kelihatannya seperti huruf Sunda Hanacaraka. Namun tulisan tahunnya, saya lihat berupa angka huruf Arab," kata Idrus sewaktu ditanya Penulis, "Apakah ada batu bertulis di sekitar makam keramat ini?" tanya penulis kepada dua sosok utusan Kades Cintamanik.
Ternyata tanpa ekspresi merenung dulu, Ketua RW.05 Kampung Cikiruh, Idrus langsung menjawabnya dengan lancar.
"Ketika saya masih bujangan pernah melihatnya. Sampai saat ini masih terbayang dalam ingatanku. Ya, batu bertulis itu ada di lokasi makam Eyang Buyut Geulis. Waktu itu batu bertulis yang pernah saya lihat, ukuran tingginya sekira 30 cm, dan lebarnya ada 20 cm," tutur Idrus.
Setelah itu, Idrus pun melangkahkan kakinya mendekati pohon kiara (Ara) yang tumbuh menjulang tinggi, lantas jari telunjuknya menunjukan ke arah bawah pohon tersebut.
Idrus lagi menunjukan tempat Batu Bertulis.
"Di sekitar akar pohon ini, saya pernah melihat batu bertulis itu. Benar waktu itu saya pernah melihatnya," ujar Idrus, seraya ia menunjukan, dimana posisi batu bertulis yang pernah ia lihat waktu itu.
"Di sini posisinya. Sayangnya sudah tertutup akar pohon kiara!" seru Idrus Ketua RW.05 yang didampingi Sohib Kasi Prasarana Desa Cintamanik, saat mengantar Penulis mengunjungi makam Embah Gaber atas permintaan Kades Cintamanik untuk menulis legenda Eyang Mukarom.
Tentunya dari kabar yang masih misteri yang diunggah pada Media Online ini, agar terungkap keabsahannya, tinggal tim arkeolog yang terjun langsung untuk mengeksplorasi keberadaan dari batu bertulis yang ada di makam Eyang Buyut Geulis tersebut. (DM).
✦ Tanya AI