Wayang dan Tokoh Wali Songo

Siapa yang tidak kenal dengan Wali Songo di Nusantara kita ini. Wali Songo adalah pelopor dalam penyebaran agama Islam di pulau Jawa dahulu. Wali Songo dalam penyebaran agama Islam mampu beradaptasi terhadap budaya lokal daerah setempat, salahsatunya adalah sarana dan prasarana Wali Songo untuk menyebarkan Islam di pulau Jawa adalah menggunakan "WAYANG" dengan menggunakan bahasa Jawa, para Wali menggelar pertunjukkan Wayang, kidung, suluk dengan diiringi alat musik gamelan Jawa, maka terjadi pergerakan dakwah Islam.
Wali Songo hadir sekitar abad ke-15, semasa kerajaan Demak. Bukti-bukti bahwa benar adanya Wali Songo, yakni Masjid Demak yang kini masih berdiri sebagai bukti situs, dan dijadikannya cagar budaya.
Menurut naskah kuno yang menceritakan bab tahun Jawa, menerangkan bahwa masjid Demak didirikan pada tahun Saka 1388 berdasarkan Candrasengkala dengan gambar naga salira wani, yang ada di pintu tengah. Pendapat lain mengatakan masjid Demak didirikan tahun Saka 1401, berdasarkan ornamen gambar binatang bulus yang terdapat di dalam pengimaman masjid. Artinya perkiraan 623 tahun atau 636 tahun bila kita hitung sampai tahun 2024 saat ini, kita sudah melewati 6 abad sejarah Wali Songo.
Wali Songo adalah tokoh mubaligh Islam yang menyampaikan dakwah di daerah-daerah yang belum memeluk Islam. Di pulau Jawa sebelum Islam masuk agama yang menjadi keyakinan adalah Buddha dan Hindu.
Wali Songo memiliki arti "Wali Sembilan" yang memiliki arti penjaga yang terpuji, karena Wali Songo merupakan tokoh yang diasumsikan sebagai utusan, tokoh waliyaallah sebagai orang-orang yang dekat dengan Allah dan terpelihara dari kotoran lahir batin dan jauh dari kehidupan maksiat.
Dalam Al-quran di jelaskan wali Allah adalah orang yang mendekat dan selalu menolong agama Allah atau orang yang didekati Allah.
Menurut sejarah leluhur Wali Songo, Syekh Jumadil Kubra merupakan seorang tokoh yang sangat taat pada Allah. Berdasarkan sumber sejarah, Beliau ayah dari Sunan Ampel, dan Sunan Giri.

Tokoh Wali Songo yang umum dikenal di kalangan masyarakat yaitu Maulana Malik Ibrahim, Sunan Ampel, Sunan Bonang, Sunan Giri, Sunan Kudus, Sunan Muria, Sunan Gunung jati.
Wali Songo dalam penyebaran agama Islam mampu beradaptasi terhadap budaya lokal daerah setempat, Wali Songo menyebarkan Islam dengan memakai alat musik tradisional dan nilai-nilai Jawa pun di masukan, sehingga masyarakat dengan mudah memahami dan menerima ajaran Islam, karena makna dan nilai keyakinan tidak jauh berbeda dengan keyakinan masyarakat Jawa.
Wali Songo berhasil menciptakan harmonisasi yang lembut, tidak ada unsur memaksa, doktrin-doktrin yang menyesatkan dan ancaman.
Berkembangnya agama Islam di pulau Jawa dengan menyatu dengan budaya adalah bukti nyata bahwa agama dan budaya bersanding sebagai pegangan dalam kehidupan untuk membawa manusia dalam kehidupan yang lebih baik.
Sarana dan prasarana Wali Songo untuk menyebarkan Islam di pulau Jawa adalah menggunakan "WAYANG" dengan menggunakan bahasa Jawa, para Wali menggelar pertunjukkan Wayang, kidung, suluk dengan diiringi alat musik gamelan Jawa, maka terjadi pergerakan dakwah Islam.
Bagaimana makna Wayang, sejarah wayang dipergunakan oleh tokoh Wali Songo untuk dakwah agama islam dan nilai filosofi Wayang?
Wayang berasal dari kata "Wayangan" yang memiliki arti adalah "Bayangan" yang di tujukan untuk di pertontonkan dalam pentas lakon cerita. Menurut bahasa kawi kuno Wayang adalah
" Hamayang" artinya bayang-bayang. Wayang di iringi musik gamelan yang kompleks terdiri dari Rebab, Gendang, Saron, Bonang, Goog, Gender, Suling. Wayang yang di pakai oleh Wali Songo adalah Wayang kulit, yang terbuat dari kulit kambing, sapi, kerbau yang dibentuk dan di warnai lalu di pasang pada tongkat dari bambu yang di letakan di belakang kain putih yang di sinari lampu minyak menghasilkan cahaya-cahaya agar terlihat bayangan Wayang.
Wayang di mainkan oleh seorang dalang yang mengatur alur cerita, di iringi kidung, suluk yang di tembangkan oleh sinden dan diiringi gamelan.
Prof. K.H.R. Moh. Adnan berpendapat wayang kulit bukan berasal dari India, tetapi pada zaman Wali Songo yang membuat wayang kulit yaitu Sunan Kalijaga. Sumber sejarah meringkas sejarah Wayang. Seorang peneliti Dr. G. H. J. Hazeu dan R. M. Mangkudimedja mengatakan:
Mulai ada pertunjukan Wayang dan Wayang diciptakan ialah Sang Prabu Jayabaya pada tahun Surya 861. Raden Panji Kasatriyan bergelar Prabu Suryamisesa di kerajaan Jenggala, mengelar wayang purwa, pada tahun Surya 1145 yang menjadi dalang adalah Prabu Suryamisesa.
Setelah kerajaan Jenggala tengelam yang menjadi raja ialah Prabu Maesakanderemen, berkedudukan di kerajan Pajajaran juga menciptakan wayang yang di buat pada tahun Surya 1166. Pada waktu Raden Jakasesuruh menjadi raja Majapahit yang bergelar Prabu Branta, membuat wayang purwa yang di gambar di atas kertas lebar, disebut wayang beber pada tahun Surya 1283. Prabu Brawijaya l terpilih menjadi raja Majapahit membuat wayang beber wayang bercorak warna pada tahun Surya 1301. Sunan Kalijaga menciptakan wayang purwa di buat satu-satu, dari kulit kambing pada tahun 1443. Kerajaan Bintoro Demak di masa R.Trenggono menjadi Sultan III menciptakan wayang purwa dengan menatah mulut, mata dan telinganya pada tahun 1447.
Susuhunan Ratu Tunggul di Giri Demak membuat wayang dari kulit dengan ukuran di perkecil dengan di beri ating, kroncong, rambut di konde pada tahun Candra 1480. Pada jaman Jaka Tingkir menjadi Sultan panjang bergelar Sultan Hadiwijaya menciptakan wayang purwa pada tahun Candra 1505. Pada saat Panembahan Senopati menjadi raja Pajang, membuat wayang purwa yang di sebut wayang Pajang pada tahun 1542. Prabu Nyakrawati di Mataram membuat wayang purwa dengan mengambil induk wayang kidang kencana di rubah sedikit pada tahun 1552. Kanjeng Sultan Agung Hanyokrokusumo menjadi raja Mataram III, membuat wayang purwa.
Sekelumit evolusi perkembangan wayang purwa di tanah air kita, mengalami beberapa periode dari zaman kewalian dan kerajaan. Bukti nyata catatan sejarah bahwa wayang memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat Jawa menjadi instrumen pembentukan karakter menuju nilai budi pekerti lebih baik.
Bukti nyata bahwa tokoh para Wali Songo adalah pelopor terciptanya wayang dan Wali Songo mengunakan wayang untuk mendidik moral dan membentuk watak masyarakat Indonesia untuk memahami nilai agama dan budaya.
Dengan pendekatan tradisional penuh kelembutan adab dan kebijaksanaan, sesuai dengan ayat Alquran "Hendaklah kau ajak orang ke jalan Allah dengan Hikmah (bijaksana) dengan peringatan yang ramah tamah, dan bertukar pikiran dengan mereka, dengan cara yang sebaik- baiknya" (Al quran An Nahl:125), sehingga agama Islam dapat di terima dan agama islam menjadi besar di Indonesia.
Tulisan ini masih sangat kurang sempurna untuk menjabarkan perjalan sejarah Wali Songo dan wayang, kesempurnaan hanya milik Allah, penulis hanya berjuang agar sejarah leluhur bumi Pertiwi ini tidak di belokan oleh orang-orang yang memilik kepentingan di tanah air kita.
Maka Perlunya untuk menggali dan menyelusuri sejarah dan budaya Nusantara kita, sebagai bukti bahwa kita peduli pada agama, budaya dan sejarah yang ada di tanah air tercinta kita.
Sebagai Warga Negara Indonesia harus bangga bahwa wayang sudah di akui oleh UNESCO sebagai warisan budaya dunia yang tanggal 7 November 2003. Mari kita jaga dan lestarikan seni budaya wayang bahwa merupakan hasil cipta karya nenek moyang kita yaitu oleh para raja di pulau Jawa dan para Wali Songo bukan dari leluhur bangsa lain dan bukan pula berasal dari negara lain. Semoga tulisan ini membuka kesadaran kita semua terutama bagi generasi kedepan.
Wayang memiliki nilai filosofi yaitu melambangkan manusia sebagai mahluk Tuhan yang merupakan refleksi dari budaya Jawa dalam mencerminkan lakon kehidupan seperti apa tujuan hidup, kenyataan hidup, harapan dalam hidup, cita-cita hidup, kemana hidup berahir. Nilai filosofi Jawa wayang merupakan bayangan diri manusia, bayang pribadi kita yang memiliki sifat murka, pelit, serakah, bijak, baik, tulus, sabar, penasehat, dan sebagainya.Tokoh pewayangan tertua adalah Yudhistira bergelar Punta Dewa yaitu lima pendawa yang memilik karater watak yang berbeda yang baik menjadi panutan, yang buruk tidak di contoh, artinya wayang adalah gambaran dua sisi kehidupan manusia yang kedua sisi itu manusia harus mengetahui.
Demikian tulisan ini di persembahan untuk masyarakat Indonesia terutama generasi muda ke depan. Perjuangan Wali Songo harus kita lanjutkan, menjadi bukti sejarah yang harus diberitakan. Demikian sekelumit tulisan tentang Wali Songo dan peran Wayang.
Perjuangan Walisongo Indonesia Jawa Barat
Yayasan Sunda Tigabelas Buhun

✦ Tanya AI