Tolong, Tolong, Aduh! Rutilahu Lansia Sebatang Kara di Desa Cigadog Sangat Memprihatinkan dan Berbahaya

Kali ini nasib malang dialami Bah Tatang yang sudah Lansia hidupnya sebatang kara dari Kampung Pasir RT 03, RW 10 Desa Cigadog, Kecamatan Sucinaraja, benar-benar nasibnya malang selalu terlewat tidak menerima bantuan Program Pembangunan Rutilahu, baik bantuan dari Provinsi maupun pembangunan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) untuk 200 warga yang diluncurkan oleh Bupati Garut yang diserahkan secara simbolis oleh Bupati Syakur Amin di Lapangan Sekretariat Daerah Kabupaten Garut pada 16 Juni 2025. Padahal rumah Bah Tatang ini sangat memprihatinkan dan berbahaya. Tentunya hal itu menggugah Ketua RW dan RT untuk menggerakan Pembangunan dengan swadaya murni. Sedangkan Ketua BPD Cigadog minta tolong kepada pemerintah, pasalnya Rutilahu ini telah diajukan, tapi tidak mendapat bantuan, “Tolong…tolong,” keluhnya.

Berdasarkan kunjungan langsung ke lokasi, nampak Rumah panggung milik Tatang berukuran 6x7 m sangat menyedihkan. Kata Tatang rumahnya dibangun pada tahun 1990-an. Secara kasat mata, terlihat, rumahnya sudah tua. Saat ini kondisinya benar-benar menjadi Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) yang sangat memprihatinkan dan berbahaya.

Konstruksi Rutilahu itu tampak sudah pada rusak parah, atap gentingnya sebagian sudah tidak utuh lagi yang menyebabkan, usuk-usuk atapnya sudah pada lapuk, maka ketika musim penghujan, air hujan leluasa menembus langit-langit bilik yang lama-kelamaan menjadi rusak, terus masuk ke tengah rumah, dapur, dan kamar tempat tidurnya, otomatis lantai kayu menjadi rapuh keropos, begitupun dinding biliknya sebagian besar sudah lapuk hancur, tiang-tiang penyangga rumahnya sudah pada keropos dimakan rayap. Realita itu sungguh memprihatinkan dan sangat berbahaya bagi yang menghuninya.

“Sampai dengan tahun ini saya sudah menempatinya selama 35 tahun,” aku Bah Tatang sosok lansia yang mengaku sudah sejak tahun 1970-an (semasa kepala desanya adalah Pak Aman) hingga saat ini tahun 2025 masih mengabdikan diri menjadi Linmas di Desa Cigadog, Kecamatan Sucinaraja Garut.
Namun ketika Ketua RW, dan RT serta BPD ke rumah Bah Tatang dengan tujuannya ingin membangun rumah dengan cara swadaya murni, lantas menanyakan barangkali ada uang simpanan, meskipun hanya sedikit untuk membangun rumah. “Kalaupun tidak punya, tidak apa-apa, tetap rumah Pak Tatang akan saya usahakan dibangun dengan swadaya murni masyarakat,” kata Aep Awaludin Ketua RW 10 yang didampingi Ketua RT Kampung Pasir dan Ketua BPD Desa Cigadog.
“Saya tidak punya uang sepeserpun. Saya tinggal di rumah sendiri, kalau makan hanya mengandalkan pemberian dari anak saya. Jadi Saya tidak punya uang serupiah pun,” jawab Bah Tatang, suaranya parau, nadanya sedih diiringi air mata yang membasahi kelopak matanya yang perlahan mengalir membasahi kulit pipinya yang keriput.
Sementara itu ketika Ketua RW 10 ditanya, Apa yang menjadi dasar Ketua RW ingin membangun rumah Rumah Pak Tatang?
“Rumah milik Pak Tatang ini sudah tidak layak huni, bahkan sangat berbahaya, maka saya selaku Ketua RW bersama Ketua RT merasa khawatir apabila ada gempa, hujan angin, rumah itu roboh mengancam keselamatan penghuninya,” jawabnya.
“Untuk itu saya sebagai Ketua RW tergugah hati ingin mengupayakan pembangunan rumah tidak layak huni milik Pak Tatang menjadi rumah yang layak dihuni. Makanya saya menghubungi Ketua BPD dan Pjs Kades Cigadog untuk meninjau rumah Pak Tatang,” imbuhnya.

Sayangnya ketika Awak Media ini turut serta meninjau Rutilahu Pak Tatang, yang hadir hanya Ketua RW dan Ketua BPD. Padahal Pjs Kades sudah sejak kemarin dan hari ini (Minggu !7 Agustus 2025) akan bersama Awak Media meninjau ke lokasi. Waktu kemarin (Sabtu/16/08/2025) ketika di hubungi via telephone, Pjs Kades, meminta maaf, ia tidak akan hadir meninjau ke lokasi, tapi Pjs Kades Cigadog telah siap akan mengajukan Rutilahu milik Pak Tatang ke Baznas. Sedangkan waktu hari ini (Minggu !7 Agustus 2025), Pjs Kades Cigadog tidak hadir, sepertinya ada halangan acara dadakan. Namun Ia akan meninjau langsung ke lokasi rumah milik Pak Tatang.
Sewaktu di lokasi Rutilahu milik Bah Tatang, selanjutnya Ketua RW diwawancara, dari mana saja sumber anggaran swadaya murni untuk membangun Rumah Pak Tatang? Ketua RW Aep Awaludin mengatakan, “Sumber anggarannya, kami akan mengumpulkan dari hasil gerakan gotong royong masyarakat melalui borongan mencangkul sawah, akan bikin kencleng, dan meminta bantuan dari para tokoh agama dari keropak masjid,” ungkapnya.
Selain itu, imbuhnya, “Saya mengharapkan kepada Bupati Garut, supaya rumah Pak Tatang lebih layak ditempati, selain ada swadaya masyarakat, diharapkan ada bantuan dari pemerintah, supaya Rumah Pak Tatang segera dibangun. Karena rumah ini sudah tidak layak dihuni dan sangat berbahaya,” kata Ketua RW 10.
Sedangkan Ketua BPD Cigadog, Sahidin, S.Ag saat diwawancara, ia mengatakan, “Alhamdulillah saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak RW dan RT kepeduliannya sangat tinggi, dan gotong royongnya masih solid di lingkungan RW 10,” ucapnya.

“Memang rumah milik Pak Tatang sangat memprihatinkan. Tentunya saya bersama masyarakat sangat mengkhawatirkan, apabila ada gempa, hujan angin.karena Pak Tatang tidak punya rumah lagi hanya rumah ini yang ditempatinya, maka ketika Pak Tatang yang usianya sudah Lansia lagi tidur, tiba-tiba rumahnya roboh, Itu yang dikhawatirkan,” ungkapnya dengan ekspresi sedih.
Oleh karena itu, kata Ketua BPD Cigadog, “harapan kami sebagai wakil Pemerintahan Desa Cigadog, selain bantuan dari warga yang terbatas sesuai dengan kemampuannya, tentunya kami mengharapkan sekali bantuan dari pemerintah, terutama dari Pihak Kabupaten, baik dari Bupati, maupun dari Wakil Bupati, dan siapa saja yang tergugah untuk membantunya. Karena kondisi rumah ini sangat-sangat memprihatinkan dan membahayakan terhadap penghuninya,” ujarnya.
“Tolong…tolong…dengan kerja nyatanya KDM Gubernur Jawa Barat, kalau melihat kondisi rumah yang memprihatinkan ini, tentunya KDM akan segera membangunnya,” ungkapnya.
“Tolong…tolong… rumah Pak Tatang ini sebenarnya sudah diajukan beberapa tahun yang lalu, tapi sampai kini belum menerima bantuan. Akhirnya rumah Pak Tatang jadi begini memprihatinkan,” keluh Sahidin dengan nadanya penuh kesedihan.
Mudah-mudahan saja, ucapnya, “terutama kepada Bu Putri dan Bupati Garut ada kepedulian langsung, baik dari uang pribadinya atau uang anggaran dari pemerintah dengan lapang dada mengulurkan tangannya, untuk segera membangun Rutilahu Pak Tatang yang sangat memprihatinkan, dan membahayakan,” ungkap Sahidin mengakhiri pembicaraannya. (IM).
✦ Tanya AI