RATU ADIL Ramalan Jangka Jayabaya

MERDEKA. !!!
Membahas persoalan Ratu Adil di wilayah Nusantara sampai saat ini dan detik ini masih sangat hangat dan menjadi pembicaraan dari masyarakat golongan pejabat sampai masyarakat kecil, bahkan di golongan para budayawan, dukun. Apa sebabnya rakyat sangat percaya dan sangat menunggu-nunggu datangnya Ratu Adil dan apa sebabnya sabda Prabu Jayabaya sampai detik ini masih menjadi cerita dan harapan rakyat. Rakyat sangat berharap Ratu Adil, Imam Mahdi atau Heru Cokro turun ke muka bumi untuk menyelamatkan rakyat.
Seiring dengan sekapur sirih pada prolog tulisan ini, Penulis selalu teringat kepada sosok tokoh Nasional, yaitu Almarhum Romo Permadi, SH yang kebetulan Penulis sangat dekat dengan almarhum tersebut. Beliau senantiasa menceritakan datangnya Ratu Adil yang merupakan kehendak Gusti Allah.
Seminggu sebelum beliau wafat, Romo Permadi berada di kediaman Penulis selama tiga hari di kota Bandung. Beliau banyak menceritakan soal perjuangan bahkan menceritakan tentang ramalan Jangka Jayabaya. Yang masih terngiang dan sangat teringat kata-kata beliau "Goro-Goro akan datang, pertanda Satria Piningit akan datang".
Penulis sangat kagum pada beliau dengan sikap dan pemikiran seorang negarawan dalam ideologi Pancasila dan nilai-nilai leluhur Nusantara sangat cinta sekali.
Bung Karno menafsirkan tentang Ratu Adil yaitu: "Tak lain tak bukan oleh karena hati rakyat yang menangis tak berhenti-henti, menunggu-nunggu berharap-harap datangnya pertolongan, sebagaimana orang yang ada dalam kegelapan, setiap jam, setiap menit berharap kapan matahari terbit. oh siapa yang mengerti akan dasar yang dalam ini, siapa yang mengerti kesedihan rakyat, pilu mendengar suara rakyat menangislah hati rakyat setiap rakyat berharap akan datangnya pertolongan, sampai rakyat menyebut "Heru Cokro atau Ratu Adil".
Pada masa penjajahan pemberontakan Jepang rakyat sangat menderita, ratap tangis, keluh kesah rakyat, menderita kelaparan dan kerja paksa, siksaan terjadi. Rakyat Pasundan menyindir dengan syair betapa menderita rakyat saat itu:
"Cau Raja, cau Ambon, cau Lampung cau Batu, Boga raja urang Nippon, urang kampung hente nyatu" Artinya: "Pisang raja, pisang Ambon, pisang Lampung, pisang BatuPunya raja orang Nippon, orang kampung tidak makan,"
Jangka Jayabaya yang berupa Sabda Prabu Jayabaya yang berasal dari Kediri yang sangat fenomenal merupakan ramalan yang senantiasa hidup dalam sanubari rakyat Indonesia terutama di pulau Jawa. Prabu Jayabaya adalah seorang pendeta, yang memerintah di Kediri dalam tahun SANGA KUDA SUDDHA TJANDRAMA atau tahun 1079 Caka (1157 tahun Masehi).
Nama asli beliau yaitu Sang Mapandji Jayabaya Cri Dharmaishwara Madhusudana Wartanindita. Sri Prabu Jayabaya adalah putra mahkota Sri Erlangga, raja Kahuripan yang sangat terkenal. Beliau meletakkan tahta kerajaan lalu Jayabaya menjadi pendeta, dengan berganti nama Mpu Pigawat yang sangat terkenal ilmunya dan ahli ilmu falak (astrologi). Dengan laku puja semedi, tirakat yang kuat beliau mendapatkan ilham dari Yang Maha Esa. Beliau dapat meneropong masa kedepan dan tahu apa yang akan terjadi. Ramalan Jangka Jayabaya selalu sejalan dengan perjalan sejarah di Indonesia.
Pada masa perjuangan untuk merebut kemerdekan pada masa penjajahan kolonial, penjajahan mengerti bahwa rakyat sangat percaya dengan ramalan Jangka Jayabaya dan berharap datangnya zaman kemenangan dan keemasan. Penjajah melarang ramalan Jayabaya diberitakan, dilarang untuk membicarakan, bahkan kitab-kitab kuno di rampas. Pada masa penjajahan Jepang tidak boleh menyebut ramalan Jayabaya, dari hal itu sampai saat ini ramalan disebut dosa dan haram hukumnya.
Jayabaya berasal dari kata JAYA berarti MENANG, dan BAYA berarti JANJI. Jayabaya artinya "Kemenangan yang dijanjikan" atau bisa juga di artikan "dapat mengatasi bahaya".
Sebenarnya banyak ramalan semacam Jangka Jayabaya tentang peperangan melawan penjajah dan harapan untuk merdeka. Ramalan dari Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur bahkan di wilayah di luar Jawa, akan kita bahas dalam tulis berikutnya.
Ramalan Jayabaya ini betul terjadi namun tidak boleh kita menyandarkan nasib kita dan nasib negara kita pada ramalan saja, yang pasti untuk mendapatkan kemerdekan dan terlepas dari cengkraman penjajah harus berani berkorban bercucur keringat dan bermandi darah, Istilah Jawa "Jer basuki momo bejo" (sebab untuk mencapai keselamatan kita harus berkorban).
Naskah Ramalan Jangka Jayabaya sangat panjang jika harus dituliskan dengan bahasa Jawa yang halus sulit penulis memahami, tapi garis besarnya isi adalah: Adanya perubahan zaman yang terjadi adalah Kiamat Kubro yang merupakan zaman Kalabendu. Kiamat Kubro datang pada akhir zaman Kalabendu yaitu penghabisan Herucakra Asmara Kingkin. Tanah Jawa lebarnya tinggal sebesar ijub, rindangannya payung karena efek dari bumi menyempit. Kiamat Kubro akan menghancurkan tanah Jawa berserta isinya semua. Pemomong tanah Jawa menerima keadaan siksa zaman, tapi pemomong tidak bisa membiarkan keadaan anak turunan terkena bencana yang sudah menjadi takdir bumi. Pemomong berusaha menyelamatkan yang diasuh dari siksa dunia.
Dalam ramalan disebutkan juga "Musuh akan takut dengan orang yang makan sirih, maknanya makan sirih dengan segala serba-serbi nya adalah lambang "PERSATUAN". Bangsa Indonesia dapat mengalahkan belanda hanya dengan persatuan nasional. Artinya rakyat bangsa kita harus bersatu padu, kokoh erat. Daun sirih, kapur, pinang, gambir, tembakau, jika dimakan akan menghasilkan warna merah pada bibir. Merah adalah lambang keberanian. Jika kita bersatu maka musuh akan kalah dan pergi dari tanah air kita. Jika kita tidak bersatu jangan harap kita akan mencapai merdeka dan mencapai zaman kejayaan dan keemasan.
Eyang Syech Walangsungsang berkata: "Titennana, jen wong Jawa-Jawi wis mata siji, ing kono kamardikaning bangsa kita nembe lestari" artinya, "Perhatikanlah! dikemudian hari bilamana orang Jawa-Jawi sudah bermata satu, kemerdekaan bangsa kita tetap abadi."
Mata satu mengandung makna adalah satu tujuan, satu pandangan. Artinya sabda sakti itu adalah "bila Indonesia menjadi satu, kemerdekaan akan datang, di sebabkan rakyat Indonesia merasa satu kebangsaan yang akhirnya rakyat harus melakukan persatuan. Jadi persatuan adalah senjata kita yang paling ampuh untuk melawan imperialisme.
Mata satu di zaman sekarang banyak yang memaknai adalah "Dajal" yang merupakan sosok bermata satu yang membawa pada kesesatan dan kehancuran, kita harus waspada atas doktrin yang berkembang, dikuatirkan doktrin dari penjajah yang juga menyesatkan dan untuk mengadu domba dan menghapus falsafah rakyat kita pada ilmu ilmu dari leluhur bangsa kita.
Tanda-tanda datangnya zaman Kalabendu (Goro-goro) terdiri dari 48 tanda, tidak semua penulis menuliskan: "Jika orang tidak malu bersumpah, manusia menjadi malas, menjauhi agama dan pendidikan yang baik, tiap jengkal tanah dikenai pajak, kebaikan lenyap dan kekeluargaan lenyap, banyak pekerjaan terbengkalai, anak kecil sudah mengerti gunanya uang, lelaki berkasih-kasih sama lelaki, banyak terjadi pertukaran istri, manusia tidak tahan bertapa, hasil bumi berkurang, rejeki hilang berkatnya, hujan turun tidak pada musimnya, hukum negara tidak adil, manusia lupa batas haram dan halal, pecah tempur hebat dari selatan, timur dan barat, ada perang dalam sangkar, banyak orang mati konyol, huru-hara di tanah Jawa, banyak orang bingung, agama di abaikan, sopan satun tak di indahkan, semua mengabdi pada hawa nafsu, orang engan kawin, yang kawin minta talak, sakit menjadi sembuh bila di tambah darah, banyak orang tidak tetap pendiriannya, banyak orang makan orang, kaum pedagang menderita rugi, banyak umat menyiarkan ilmu tular menular, bupati jadi rakyat biasa, orang biasa jadi priyayi, orang desa bersenang-senang karena banyak mendapatkan harta, yang bingung tambah bingung dan terombang-ambing, yang sakit tidak mendapat obat dan biaya besar, si kikir terjepit, buruh mengeluh, si penolong malah di pukul, tak percaya pada hukum kodrat, penipu dan pembohong di terima, yang buruk mengaku baik, yang baik di anggap buruk, muncul perang sengit angkat senjata dan hancur-hancuran, negara tidak adil dalam penegakan hukum, akhirnya Tuhan menciptakan Ratu Adil."
Dari penjajahan yang membuat rakyat menderita dan sengsara, para kyai dan dukun yang menyampaikan harapan akan datang pertolongan dari Tuhan yang dapat menumpas penjajah dan harapan datang penolong Ratu Adil atau Heru Cokro.
Kapan Ratu Adil akan muncul?
Mengenai munculnya Ratu Adil banyak ramalan-ramalan dari berbagai daerah yang menyampaikan.
Eyang Ronggowarsito yang merupakan pujangga Keraton Surakarta menyampaikan tentang Ratu Adil: "Bergantilah zaman kalabendu itu dengan zaman kemulian Raja, datanglah kebahagian bagi tanah Jawlenyaplah penyakit bumi. Sebab padam oleh datangnya Ratu Ginaib. Beliau adalah seorang Raja keturunan orang utama, diberi nama Ratu Amisan. Beliau dalam keadaan miskin. Dinobatkan menjadi Raja dengan tidak memakai syarat secarikpun. Sifatnya ngadam maksum, bersemayam di istananya suryanuri (baik hati). Waktu di sembunyikan oleh Tuhan tidak ada seorang yang tahu, beliau kesampar kesandung. Beliau menjadi Raja Pandita Adil Paramarta, tidak suka pada harta nama beliau "HERU COKRO". Beliau bukan tentara perang nyata, tetapi prajurit Sirollah, dengan menggunakan panji-panji dikir, namun musuh bertekuk lutut. Musuh yang berani melawan akan rebah, yang tidak mengakuinya akan lebur sampai habis. Beliau memerintah hanya untuk tujuan kemakmuran negara dan keselamatan seluruh Dunia. Rakyat akan senang karena pajak dihapuskan, murah sandang pangan, negara aman, penjahat berbuat baik takut akan tulah Ratu Adil."
Eyang Sunan Ngatas Angin seorang wali tafsirannya terhadap datangnya Ratu Adil yaitu: Ratu adil yang ketiga akan datang lima abad lagi. Sifat keajaiban Ratu Adil hilang, di sebabkan orang-orang pada zaman ini lebih mengutamakan kebendaan dari pada pendidikan rohani, pakai serba bagus, prasangka antara manusia semakin nyata. Bahagia lah orang yang masih baik budi pekertinya yang didasarkan atas ilmu kebatinan. Karena orang yang memiliki budi baik yang akan mendapat karunia Tuhan dan orang yang "Waskita" awas, eling lan waspada. Sesungguhnya Ratu Adil yang ahir zaman ini akan muncul hakikatnya hanyalah kiasan, lebih nyata adalah manusia yang berbudi. Ratu Adil Amisan artinya pungkasan. Zaman ini rakyat menantikan Ratu Adil yang ke tiga.
Sebelum Ratu Adil hadir, zaman kalabendu akan terjadi dengan dibukanya Goro-Goro berupa bumi-bumi gonjang-ganjing, hujan angin, kilat yang menyambar, banjir bandang, sumber air pada kering, hujan debu dan lahar, kali-kali pada cetek, tanah longsor, banyak orang celaka, orang-orang perlakuannya menjadi jahat, lupa pada jati diri, lupa pada ayah dan ibu, rasa kasih sayang hilang, banyak penyakit pada badan, banyak kisruh keributan dengan saudara sendiri, pada merebut benar sendiri.
Ratu Adil akan datang di Cirikan "Zaman Edan" atau " Zaman Pancaroba" di tulis dalam bait kitab Kalatida karangan Pujangga Raden Ngabehi Ronggowarsito di Solo. Ramalan ditulis dalam bentuk tembang Gambuh. Zaman Edan bisa disebut revolusi. Pada zaman ini orang lebih mementingkan harta benda. Orang yang menyembah pada harta benda itu akan jatuh dalam kemelaratan, harta benda akan musnah akibat bencana alam. Zaman Edan banyak beban yang di pikul oleh rakyat. Pembayaran pajak di tarik dua dan tiga kali lipat, barang kebutuhan terus naik, negara dalam keadaan tidak baik, kejahatan merajalela, para cerdik pandai tak berdaya, koruptor merajalela, siapa yang curang dialah yang memegang uang besar. Pada zaman Edan banyak orang yang jatuh tidak tahan uji, yang berbuat tidak jujur banyak memperoleh keuntungan besar, orang yang tetap lurus menderita kelaparan. Pada era zaman sekarang negara kita dan manusia dan alamnya apakah kondisinya sesuai dengan ramalan di atas? Kita sama-sama melihat berita di tanah air kita tentang bencana banjir, tanah terbelah, banjir dari air laut, tanah longsor, kerusuhan antara masyarakat, gunung meletus dan lainnya. Saya sebagai penulis mengembalikan pada pembaca semua apakah di kondisi sekarang hal-hal yang disebut di atas sedang terjadi?
Makna dari Ramalan Jangka Jayabaya dengan ramalan dari berbagai sudut pandang hakekatnya adalah rumus untuk rakyat tetap semangat berjuang dan membawa nasehat untuk pribadi kita agar tetap eling lan waspada dan tetep berbudi pekerti.Tujuan para leluhur kita makna dari ramalan dapat dipahami dan dijadikan pedoman dan falsafah agar anak bangsa Nusantara harus selalu menjaga persatuan dan tetap dalam akhlak yang luhur agar tercipta kedamaian dan kemerdekaan yang di idamkan. Pesan utama dari leluhur tanah Jawa adalah bangkitkan ajaran budi baik yang berupa sikap memakai tatanan leluhur Nusantara.
Penulis jadi ingat ucapan dari tokoh nasional Romo Permadi.SH bahwa suatu saat Indonesia akan datang kembali masa keemasan setelah Ratu Adil muncul menata kembali dan menjadi negara mercusuar Dunia tetapi harus ada "Revolusi" terlebih dahulu. Revolusi akhlak yang utama, namun bila sulit orang -orang di Nusantara tidak ada kesadaran yang kolektif, maka alam yang akan merevolusi. Harapan Ratu Adil hadir untuk membawa perubahan yang menyelesaikan penderitaan rakyat dengan wujud nyata hadirnya pemimpin bangsa yang baik.
Sekian tulisan ini, semoga menambah semangat kita untuk berjuang untuk mencapai kehidupan gemah ripah loh jinawi, negara aman, tentram, rakyat sejahtera lahir batin. Aamiin.
Bandung, 06 Februari 2025
Yayasan Sunda Tigabelas Buhun 
✦ Tanya AI