• Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh
Hari

Your cart

Price
SUBTOTAL:
Rp.0

Duka di Balik Tebing Cigadog: Rumah Mak Popon Jebol Dihantam Longsor

img


cc00386a-d95a-44f9-883e-e9b467da1707.jpg


Bentang alam Desa Cigadog di Kecamatan Sucinaraja memang memanjakan mata dengan perbukitannya yang hijau. Namun, di balik keindahan itu, tersimpan ancaman nyata bagi warga. Struktur tanah yang labil dan kemiringan tebing yang ekstrim membuat kawasan ini menjadi langganan bencana setiap kali langit Garut mulai menumpahkan hujan deras. Bagi warga setempat, gemericik air hujan bukan lagi sekadar berkah, melainkan lonceng peringatan akan bahaya longsor yang bisa datang kapan saja.


Hujan deras dengan intensitas tinggi kembali membawa duka bagi warga Desa Cigadog, Kecamatan Sucinaraja, Kabupaten Garut. Pada Kamis (9/4/2026) sekitar pukul 17.30 WIB, warga Kampung Cigadog, RT 02/RW 04, Dusun 2, dikejutkan oleh ambruknya tebing setinggi 15 meter yang menimpa rumah milik Mak Popon.


Hantaman material tanah tersebut mengakibatkan dinding bagian dapur dan kamar mandi jebol seketika. Lumpur dan bebatuan pun masuk mengisi ruang-ruang di dalam rumah. Beruntung, Mak Popon selamat dari musibah tersebut karena sedang mengungsi di rumah anaknya.


eff2f83b-cc68-4d62-9fbb-1a66d1a89600.jpg

Firasat kuat rupanya telah menyelamatkan nyawa lansia tersebut. "Hati saya selalu risih dan gelisah setiap kali hujan turun. Takut kalau tebing di belakang rumah longsor, jadi saya memilih mengungsi ke rumah anak. Ternyata benar, gawir (tebing) itu longsor. Saya sangat reuwas (terkejut), sampai tensi darah naik saat diperiksa oleh Pak Mantri kesehatan dari Puskesmas," tutur Mak Popon dengan nada lirih.


Kini, Mak Popon yang hidup sebatang kara setelah suaminya meninggal dunia, hanya bisa berharap pada uluran tangan pemerintah. Kerusakan rumah yang berukuran 5 x 7 m cukup parah membuatnya kesulitan untuk kembali menempati huniannya dengan tenang.


Longsor Menghanram Rumah Ma Popon.jpg

Merespons kejadian ini, Kepala Dusun II, Darus, menyatakan keprihatinan yang mendalam. Ia segera menggerakkan warga bersama Ketua RW 04 dan Babinsa Desa Cigadog (Kopda Agus Tustiaji dari Koramil 1103 Sucinaraja)  untuk bergotong-royong membersihkan sisa-sisa material longsor yang menimbun rumah Mak Popon.


Longsor Menghanram Rumah Ma Popon (a).jpg

“Kami sangat mengharapkan bantuan, baik dari swadaya masyarakat maupun perhatian serius dari pemerintah tingkat kecamatan hingga Pemerintah Daerah Kabupaten Garut. Mak Popon sangat membutuhkan bantuan untuk memperbaiki tempat tinggalnya,” ujar Darus.


Senada dengan itu, Ketua RW 04 Kampung Cigadog juga menekankan pentingnya langkah preventif ke depan. Selain bantuan perbaikan rumah, pihak Dusun dan RW mengharapkan adanya opsi relokasi bagi rumah yang berada di zona merah.


b5c701e3-db0f-42ee-9159-4557144b232d.jpg

"Kami berharap ada solusi jangka panjang, seperti pembangunan Tembok Penahan Tanah (TPT) di titik-titik rawan yang berdekatan dengan pemukiman penduduk. Ini penting untuk meminimalisir risiko longsor susulan dan memberikan rasa aman bagi warga kami," ungkapnya. (IM). 

© Copyright 2024 - Mahkotaindonesia.com
Added Successfully

Type above and press Enter to search.