Wartawan Tempo Dulu Ternama dari Cibatu Garut

Begitu luar biasa di wilayah Cibatu Kabupaten Garut, sebelum Indonesia merdeka, telah lahir sosok Achdiat Karta Mihardja menjadi wartawan dan karyawan Balai Pustaka, bahkan seiring namanya terkenal sebagai Sastrawan Indonesia berkat novel karangannya berjudul Atheis pada tahun 1949, muncul pula dari wilayah tersebut wartawan berbakat bernama H. KS. Kostaman. Ia dikenal sebagai wartawan, pengarang, serta ahli padalangan.
Talenta H. KS. Kostaman sebelum dikenal sebagai wartawan, pengarang, serta ahli padalangan dalam hal bakat menulisnya sudah terlihat sejak usia remaja ketika Ia duduk di bangku SMP dan Pondok Pesantren. Hal itu terbukti sewaktu mencuatnya novel Atheis karya Achdiat Karta Mihardja pada tahun 1949, tulisan perdananya H. KS. Kostaman pun tayang di Surat Kabar Harian Pelajar. Realita itu sebagai pertanda, bahwa kelak talentanya dalam karir tulis menulis dan dunia wartawan akan terkenal.
Saat H. KS. Kostaman menginjak dewasa, mengawali kegiatan jurnalistiknya bekerja di Surat Kabar Harian Indonesia yang dipimpin oleh R. H. Moh. Koerdie, maupun semasa Rachdi Parta Atmadja. Selanjutnya sampai awal tahun 1965, ia bekerja di Harian Sipatahunan yang dipimpin oleh H. Atje Bastaman, hingga H. Moh. Kerdana.
Dikemudian hari dengan kecerdasannya menekuni profesi wartawan di dunia pers, karirnya meningkat menjadi Redaktur Harian Karya, Harian Gala, dan Harian Bandung Pos. Tak lama kemudian Wartawan Karuhun Cibatu kelahiran 27 Maret 1932 yang dibesarkan di Kampung Babakan Cau Desa Wanakerta Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut itu, didaulat menjadi Pimpinan Redaksi "Mimbar Pedesaan" dan Surat Kabar berbahasa Sunda yang terkenal dengan "Surat Kabar Giwangkara".
Pada waktu itu kendatipun H. KS. Kostaman kesehariannya disibukan dengan pekerjaan sebagai redaktur, akan tetapi beliau tidak melupakan pengabdiannya sebagai Karyawan Radio Republik Indonesia (RRI) Bandung yang ditekuninya sejak menjadi pembantu siaran pada tahun 1956. Beliau selalu tetap eksis mengabdikan dirinya menyusun berita berbahasa Sunda dan komentar siaran padalangan untuk RRI Bandung.
Setelah 5 tahun H. KS. Kostaman mengabdikan dirinya menjadi tenaga honor sebagai Karyawan RRI Bandung, terhitung semenjak menjadi pembantu siaran pada tahun 1956, barulah ia diangkat menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada tahun 1961, dan purna tugas pada tahun 1987.
Salahsatu buah penanya yang paling memikat hati pembaca, yakni ketika H. KS. Kostaman menjadi Redaktur Harian Bandung Pos. Ia selalu menuangkan tulisannya pada surat kabar tersebut dengan rubriknya berjudul "Catatan Sang Redaktur Harian Bandung Pos". Ternyata tulisan-tulisannya yang dituangkan pada rubrik tersebut, pada zaman itu selalu menjadi tauladan bagi mereka yang berprofesi sebagai wartawan khususnya, umumnya bagi para pembaca.
Selain itu, semasa hidupnya, H. KS. Kostaman di tengah sibuknya menekuni dunia jurnalistik, dan bekerja sebagai karyawan RRI Bandung, Ia aktif diberbagai organisasi, diantaranya Organisasi Persatuan Wartawan Indonesia (PWI), Ikatan Seniman Sunda Indonesia (ISSI), dan Yayasan Padalangan Jawa Barat (YPJB).
Semasa dirinya bergabung dalam Yayasan YPJB, dan selama berganti kepemimpinan di yayasan tersebut, dari R.A. Darya diganti R.U. Parta Suwanda, lantas diangkat M. Suhaya Atmadja, sosok H. KS. Kostaman tetap dikukuhkan memangku jabatan sebagai Sekretaris Yayasan Padalangan Jawa Barat hingga menjabat selama 14 tahun.
Sayangnya H. KS. Kostaman yang telah mengabdikan dirinya selama 45 tahun di dalam dunia penerbitan pers, juga dikenal sebagai tokoh pedalangan dan penyiar RRI Bandung yang akrab disapa “Mang Koko Kostaman” serta begitu familiar dipanggil “Ua Kostaman” oleh rekan-rekan wartawan dan tokoh pedalangan, kini Sang Jurnalis tempo dulu sebagai karuhun para wartawan Cibatu itu, telah tiada untuk selama-lamanya, Beliau meninggal dunia pada Selasa 12 Desember 1995.
Tentunya kehadiran dari kedua wartawan tempo dulu, Achdiat Karta Mihardja dan H. KS. Kostaman yang terkenal dengan karya tulisnya itu benar-benar menjadi suatu kebanggaan yang luar biasa bagi setiap insan pers, terutama bagi insan pers yang ada di wilayah Cibatu. (DM).
Referensi: HM. Rahmat/berbagai sumber.
✦ Tanya AI