• Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh
Hari

Your cart

Price
SUBTOTAL:
Rp.0

SANG SEWAKA DARMA,  Ajaran Luhur Budaya Sunda Selaras dengan Agama

img

Menulis (2).jpg

Pada abad ini dengan kemajuan teknologi dan modernisasi, adanya perdagangan bebas telah membawa dampak pada sendi-sendi kehidupan sosial masyarakat bangsa kita menjadi tidak menentu. Teknologi modernisasi membuat kemudahan dalam penyelesaian pekerjaan, sangat membantu sekali dalam hal dunia industri, ekonomi, bahkan dunia pendidikan.

Kenyataannya ada dampak tidak baik dalam moral dan budi terhadap kehidupan manusia baik tua dan muda. Kemajuan teknologi dalam komunikasi sangat cepat sehingga akses berita apapun dan di belahan dunia manapun sangat mudah informasi di dapatkan, aplikasi tersedia, bahkan aplikasi judi online yang marak akhir-akhir ini telah membuat perubahan kehidupan manusia dari anak-anak, dewasa dan para pejabat pun melakukan budaya judi yang akhirnya merubah moral dan mental manusia.

Kehidupan manusia pada zaman ini semua sangat tergantung pada teknologi, tapi teknologi kenyataanya dapat membuat mundur karakter baik, watak baik, kejiwan baik, moral baik, adat baik, adab baik manusia sehingga manusia banyak yang kehilangan kesadaran diri, bahkan tidak ingat pada jati diri (purwadaksi), bahkan lupa akan Tuhan Sang Pencipta.

Kondisi ini adalah kondisi yang kritis karena manusia tidak lagi berprilaku sesuai tuntunan agama dan budaya leluhur dan ini akan membuat munculnya kejahatan, dan hilangnya akal sehat, hal ini akan mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat jauh dari ketentraman, keamanan, kedamaian, keselarasan dan hal ini memicu ada bencana-bencana alam di sekitar kita. Kondisi ini akan membuat keburukkan pada kehidupan manusia dan makhluk lainnya.

Dalam kondisi ini sangatlah penting nilai kebudayaan, kearifan lokal, ajaran leluhur bumi pertiwi di bangkitkan dan kembali menjadi konsep dan rumus untuk menjadi pagar untuk mencegah kondisi yang lebih buruk lagi. Perlunya ajaran kebudayaan Sunda disampaikan lagi sebagai edukasi, pembelajaran. Sunda sebagai suatu ajaran diri untuk mengenal diri, guru sejati, yang menjadi dasar adanya kehidupan alam semesta dan makhluknya harus segera diwariskan pada generasi muda. Ajaran yang merupakan hasil olah rasa dari nenek moyang kita yang berlaku kehidupan dalam kesucian lahir batin, laku prihatin untuk meminta petunjuk pada Sang Hyang Wisesa Agung harus di gemakan kembali.

Oleh : Ambu Rita Laraswati (Penulis & Budayawati)

Sang Sewaka Darma merupakan ajaran pegangan moral, nilai budi pekerti warisan leluhur Sunda yang tertulis dalam naskah Sunda.

"Sang Sewaka Darma" dapat jadikan rumus hidup manusia dalam menjalani kehidupan dalam dunia dengan tugas dan darma kehidupan diri masing-masing.

Tujuan ajaran ini untuk mendapatkan kebaikan dan kesempurnaan mencapai kesejahteraan hidup dengan menggunakan dan menjadikan nilai budi pekerti adalah ilmu yang menjadi bekal kehidupan sehari-hari, pitutur bijak, aturan kehidupan di dunia baik berbangsa, bernegara dan bermasyarakat.

Ajaran Sang Sewaka Darma berupa bait kawih (Kidung) sebagai pitutur untuk membangun rasa pribadi para siswa. Bait kidung ajaran Sang Sewaka Darma 67 bait. Naskah kuno kropak 408 adalah bukti bahwa di Jawa Barat adanya ajaran Tantrayana pada masa dahulu. Kerajaan Talaga (Majalengka) berdiri pada abad ke-14 adalah kerajaan budis ungsur dewata, adalah hyang yang berada di kahiyangan.

Naskah Sang Sewaka Darma di susun oleh Buyut Ni Dawit yang lokasinya di Kuta Wawatan. Penulis akan menuliskan beberapa bait saya, yaitu: Anaking mulah mo yatna-yatna reungeu sabda sang pandita ingetkeun hayuwa lali teher nging ngenak-ngenak rasa ngarana ngapakeun tali

Ingetkeun na dasa sila

iseuskeun na panca sakit iyan taningkah

keun raga mayahkeun sarira

ngalekaskeun suku tangan

Suku milang awak urang

lamun salah lengkah

eta matak urang papa

leungeun lamun salah cokot

eta matak urang papa

ceuli lamun salah denge

eta matak urang salah jeueung

eta matak urang papa

irung lamun salah ambeu

eta matak urang papa

sungut lamun salah hakan salah inum

manguni salah na sabda

lamun sabda teu tuhu

lamun lain sabda jati

lamunna hamo rahayu

lamun tiis bawara

eta nu disasalahkeun

nu maka papa kalesa

sanyarah na angen-angen.

Sapamilang pangeusi raga

nu dipiawak sarira

eta nu matak malalatti

eta nu ngindit ngarampid

nu maanan kanah kawah

Artinya:

Anakku harus waspada

dengarkan sabda sang pandita

ingat-ingat jangan lupa

lalu nikmatilah dalam hati

namanya merentang tali

Ingat dalam dasa sila

perhatikan dalam panca sakit

bahwa menggerakkan tubuh dan melelahkan diri itu

memperlancar kaki dan tangan

kaki menjadi bagian badan kita, bila salah langkah

akan menyebabkan kita sengsara

tangan bila salah ambil

akan menyebabkan kita sengsara

telinga kalau salah mendengar

akan menyebabkan kita

sengsara

mata kalau salah lihat

akan menyebabkan kita

sengsara

hidung kalau salah cium

akan menyebabkan kita

sengsara

Mulut bila salah makan dan minum apalagi salah ucap

kalau ucap tidak benar

kalau ucap tidak jujur

kalau berakibat tidak baik

kalau naas bawaannya

itulah yang harus disalahkan

yang membawa kesengsaraan dan noda

ia bersarang dalam angan- angan.

Seluruh bagian pengisi tubuh yang membentuk diri kita

itulah yang menyebabkan kita terseret menjerumuskan yang membawa kita dalam neraka.

Kidung di atas adalah isi dari bait 1 sampai bait 3. Kidung nasehat untuk anak-anak yang disampaikan oleh pandita dan orang tua.

Makna dan nilai-nilai yang terkandung merupakan ajaran alat panca indra dalam menjalani kehidupan harus selalu dalam kondisi suci dan digunakan untuk yang baik. Bagian tubuh kita merupakan sumber petaka yang membawa sengsara jika di gerakan untuk kegiatan yang jahat, merusak. Jika tubuh tidak digerakkan hanya diam saja akan menyebabkan tidak lancarnya sistem tubuh, tapi tubuh akan membawa hal yang kita dapatkan baik jika digunakan untuk kebaikan. Suatu hal yang salah pasti akan membawa kesengsaraan.

Ajaran budi leluhur Sunda sudah begitu luhur dan mulia, mendidik untuk kita berlaku penuh cinta kasih, berbudi baik dalam kehidupan.

Ajaran Sunda Sang Sewaka Darma ini selaras dengan Gurindam Dua Belas karya dari toko sastrawan dari tanah melayu yaitu pulau Penyengat, propinsi Riau yaitu Raja Ali Haji. Gurindam merupakan perkataan bersajak yang mengandung makna, syair sajak yang berisi petuah untuk kebaikan hidup.

Gurindam Dua Belas terdiri dari dua belas pasal, pasal yang selaras makna dengan Ajaran Sunda Sang Sewaka Darma bait satu sampai tiga adalah pasal yang keenam yaitu:

Apabila terpelihara mata

sedikit cita-cita

Apabila terpelihara kuping

kabar yang jahat tidaklah damping.

Apabila terpelihara lidah,

niscaya dapat daripadanya faedah

Bersungguh-sungguh engkau memelihara tangan, daripada segala berat dan ringan

Apabila perut terlalu penuh keluarkanlah fiil yang tiada senonoh.

Anggota tangan hendaklah ingat, disitulah banyak orang yang hilang semangat.

Hendak peliharakan kaki daripada berjalan yang membawa rugi.

Ajaran Agama Islam mengenai petuah ajaran budi ini pun tertuang dalam salah satu kitab yang berjudul

"Minhajul Abidin" dijelaskan oleh Iman Al-Ghazali yaitu:

Siapa pun yang ingin bertakwa kepada Allah SWT hendaknya menjaga mata, telinga, lidah, hati, perut dari perbuatan dosa.

Penjelasan Imam al-Ghazali, yaitu:

Mata merupakan sebab dari setiap keburukan dan sumber dari jenis penyakit. Mata lebih baik digunakan untuk melihat keagungan Rabb Semesta Alam, tidak ada kemuliaan yang tinggi dari pada itu, oleh karena sangat baik untuk memelihara dan memuliakan serta menghormatinya.

Telinga agar dilindungi dari mendengar hal yang tidak bermanfaat, karena orang yang mendengar dianggap bersekutu dengan orang yang berbicara.

Lidah merupakan anggota tubuh yang paling sulit untuk dikendalikan dan gampang durhaka. Sufyan bin Abdullah pernah bertanya pada Rasulullah SWT. Apa yang paling ditakuti dari dirinya, Rasulullah menjawab, lidah ini.

Dalam kitab " Bidayatul Hidayah" Imam Al-Ghazali menyebutkan, anggota badan yang harus di hindari dari dosa adalah mata, tangan, dan kaki, kemaluan. Kitab "Bidayatul Hidayah" merupakan kitab yang berisi nilai-nilai adab, etika, untuk membentuk karakter ahlak yang baik.

Alkitab Yesaya ayat 16:

Basuhlah, bersihkan dirimu, jauhkan perbuatan-perbuatan mu yang jahat dari depan mata Ku. Berhentilah berbuat jahat, belajarlah berbuat baik.

Alkitab kisah Rasul 28:27 :

Sebab hati bangsa ini telah menebal dan telinganya berat mendengar, dan matanya melekat tertutup, supaya jangan mereka melihat dengan matanya dan mendengar dengan telinganya dan mengerti dengan hatinya, lalu berbalij sehingga Aku menyembuhkan mereka.

Ajaran Budaya sunda lebih dahulu ada sebagai pedoman kehidupan masyarakat kuno, artinya sudah sangat beradab, berbudaya, yakin, percaya bahwa ada yang menghidupkan. Ajaran berupa naskah kuno Sunda selaras dengan ajaran agama yang banyak diikuti oleh umat di dunia, dengan berbeda sebutan agamanya ternyata memiliki nilai dan ajaran pengetahuan yang sama. Ajaran agama siapa dan budaya siapa yang lebih tua sejarah telah mencatatnya, kita sebagai manusia hidup dalam zaman ini harus mempercayai, meyakini, dan mengamalkan ajaran kebaikan yang disampaikan oleh kitab-kitab dan petuah siapapun jika adalah ajaran, ilmu, pengetahuan untuk menuju kebaikan hidup kita.

Marilah kita tumbuhkan kesadaran diri untuk dapat menghargai agama dan budaya siapapun, menghargai manusia dari bangsa manapun, ingat kita diciptakan dari Tuhan Yang Satu.Tuhan menciptakan perbedaan adalah karya besar Tuhan dan Kuasa Nya yang harus disyukuri dan di jaga, lestarikan oleh kita semua manusia.

Q.S. Ali Imran Ayat 3-4:

Dia menurunkan kepadamu Nabi Muhammad kitab Al-Qur'an dengan hak, membenarkan kitab-kitab sebelumnya serta telah menurunkan Taurat dan Injil.

Perjuangan Walisongo Laskar Sabilillah Jawa Barat 
Yayasan Sunda Tigabelas Buhun 

Ket. Penulis.jpg

© Copyright 2024 - Mahkotaindonesia.com
Added Successfully

Type above and press Enter to search.