• Default Language
  • Arabic
  • Basque
  • Bengali
  • Bulgaria
  • Catalan
  • Croatian
  • Czech
  • Chinese
  • Danish
  • Dutch
  • English (UK)
  • English (US)
  • Estonian
  • Filipino
  • Finnish
  • French
  • German
  • Greek
  • Hindi
  • Hungarian
  • Icelandic
  • Indonesian
  • Italian
  • Japanese
  • Kannada
  • Korean
  • Latvian
  • Lithuanian
  • Malay
  • Norwegian
  • Polish
  • Portugal
  • Romanian
  • Russian
  • Serbian
  • Taiwan
  • Slovak
  • Slovenian
  • liish
  • Swahili
  • Swedish
  • Tamil
  • Thailand
  • Ukrainian
  • Urdu
  • Vietnamese
  • Welsh
Hari

Your cart

Price
SUBTOTAL:
Rp.0

Kentongan Nangka Pahit Bersejarah

img

Menulis 1.jpg

Cerita Kentongan Nangkapait bukan seperti halnya legenda Cheng Ho dari Cina sewaktu mengadakan perjalanan dengan misi keagamaannya menemukan kentongan sebagai alat ritual keagamaan, atau kentongan untuk mengumpulkan massa yang ditemukan sekira abad ke-XIX ketika Raja Anak Agung Gede Ngurah berkuasa di Nusa Tenggara Barat (NTT), maupun kentongan Kiyai Gorobangsa di Yogyakarta sebagai pengumpul warga pada masa kerajaan Majapahit. Cerita Kentongan Nangkapait sendiri adalah suatu bukti nyata untuk meyakinkan asal usul cerita munculnya nama Kampung Nangkapait, katanya pada waktu dulu, antara Kampung Sudalarang dan Pasangrahan ada pohon nangka yang menjulang tinggi sebesar badan kerbau. Masyarakat kala itu menyebutnya pohon nangkapait.

Dikemudian hari tatkala Pemerintahan Belanda berkuasa, pohon nangkapait itu malah ditebangnya. Namun sebagai kenang-kenangan, oleh pemangku agama, sebagian pohon nangkapait tersebut dibikin bedug, dan beberapa kentongan yang familiar disebut Kentongan Nangkapait.

Berdasarkan informasi, bedug yang dibikin dari pohon nangkapait tersebut, katanya dibawa ke mesjid Kaum Agung Garut. Sedangkan sebagiannya dibikin kentongan- kentongan, diantaranya Kentongan Nangkapait yang ditaro di Mesjid Al-Ikhsan, Mulabaruk dan Mesjid Agung Kaum Kecamatan. “Kini Kentongan Nangkapait di Mesjid Al-Ikhsan sudah rusak tidak ada,” kata Purin Supriadi Pjs Kades Sukawening yang menjabat pada tahun 1994 selama 7 bulan.

“Begitupun Kentongan Nangkapait yang ada di Mesjid Agung Mulabaruk. Sama seperti Kentongan Nangkapait yang ada di Mesjid Al-Ikhsan, sudah rusak tidak ada wujud fisiknya,” kata H. Aan Nurwijaya Sastra (putra ke-2 dari Endat Pjs Kades Sukawening tahun 1948–1949).

“Seingat saya, ketika berusia 4 tahun, saya selalu ikut shalat berjemaah ke Mesjid Besar Al-Barokah di pinggir sebelah barat Kantor KUA Kecamatan Sukawening, kentongan yang digantungakan di mesjid itu, hingga saat ini, bentuk dan rupanya tetap seperti yang pernah dilihatnya sewaktu saya masih kecil, kemungkinan itu Kentongan Nangkapait,” ujar H. Aan Nurwijaya Sastra.

“Kentongan yang ada di Mesjid Besar Al-Barokah, menurut informasi dari leluhur saya, itu asli Kentongan Nangkapait,” kata Didin (Anggota BPD Sukawening) menguatkan penyampaian H. Aan mengenai Kentongan Nangka Pait.

Di samping nangkapait itu dibikin bedug dan kentongan, tatkala Pemerintah Belanda mengadakan perubahan nama dan wilayah administrasi, yakni mengenai Pembagian Distrik (Kewadanaan) dan Onderdistrik (Kecamatan). Waktu itu Pemerintahan Belanda dalam rangka menetapkan Afdeeling Limbangan yang meliputi Distrik Wanakerta, serta onderdistriknya bukan mencantumkan nama Sudalarang, Jamberea, Sukabarang, Pasangrahan, Sukasono, Mariuk maupun Mulabaruk sebagai nama wilayah administrasinya, malah nama Nangkapait yang disyahkan dengan statusnya menjadi Onderdistrik Nangkapait.

Dengan demikian, selain pohon nangkapait itu dikenang dengan dibikin bedug dan kentongan, juga diabadikan oleh Pemerintah Belanda menjadi nama Onderdistrik Nangkapait. Sehingga nama Nangkapait pada masa itu dikenal oleh masyarakat umum yang ada di wilayah Afdeeling Limbangan. Bahkan nama Nangkapait, ketika ngobrol mengenai asal-usul sebelum lahirnya Sukawening, sampai saat ini masih menjadi buah bibir masyarakat.

Ternyata mengenai cerita pohon nangkapait dari lisan ke lisan yang dikabarkan pohonnya menjulang tinggi sebesar badan kerbau, lalu para orangtua kala itu untuk mengenangnya membikin kentongan, bukan hanya sebatas dongeng belaka, atau cuma seuntai kisah fiksi, namun wujud fisik dari Kentongan Nangkapait itu, saat sekarang wujudnya masih ada di depan Mesjid Besar Al-Barokah Kecamatan Sukawening, dan di Masjid Agung Kaum Cibatu (Mesjid Al-Muhsin) yang beralamat di Kampung Kaum RT.02, RW.05 Desa Keresek Kecamatan Cibatu Kabupaten Garut Jawa Barat.

Berdasarkan informasi, bahwa kentongan yang ada di Mesjid Kaum Cibatu, kata narasumber (Rd. H. Ayi Somaskara bin Rd. H. Muhsin), bahwa kentongan yang ada dimesjid tersebut, menurut Uyutnya (Rd. H. Abdul halim) terbuat dari kayu nangkapait Sukawening.

“Yang jelas Uyut sempat mengatakan kepada para putranya serta kepada cucu-cucunya mengenai kentongan itu, katanya, kentongan itu terbuat dari kayu nangkapait. Akan tetapi, saya tidak mengetahuinya. Entah siapa yang membikinnya? Dan kapan kentongan itu ada di Masjid Kaum Cibatu?” ungkap Rd. H. Ayi Somaskara.

Terkait dengan kentongan tersebut, supaya lebih menguatkan, bahwa pohon nangkapait itu bukanlah sebatas buah bibir belaka yang dijadikan nama kampung, nama kantor pemerintahan onderdistrik jaman Hindia Belanda, serta dibikinnya bedug, dan sejumlah kentongan, mari kita simak dulu mengenai titimangsa berdirinya Mesjid Kaum Cibatu.

Perlu diketahui, sebelum dibangunnya Mesjid Agung Kaum Cibatu, terlebih dahulu Rd. H. Muhsin (putra Rd. H. Abdul Halim) mengikrarkan wakaf dari ayah handanya (Rd. H. Abdul Halim) seluas 4.070 m² untuk mesjid Kaum Cibatu, waktu itu tahun 1890 Masehi, Rd. H. Muhsin sebagai Naib untuk wilayah Onderdistrik Cibatu, Distrik Wanakerta, Afdeeling Limbangan, Bupatinya jaman Adipati Wiratanudatar VIII (1871-1915).

Ternyata pada masa Adipati Wiratanudatar VIII (1871-1915), Mesjid Agung Kaum Cibatu belum dibangunnya. Otomatis kentongan Nangkapaitpun waktu itu tidak ada.

Barulah pada tahun 1926 Mesjid Agung Kaum Cibatu dibangunnya dengan ukuran 20x30 m². Kemudian mesjid itu diresmikan oleh Wedana Cibatu Rd. Mardjoen Wirahadikusumah (Ayahandanya Umar Wirahadikusumah) yang langsung disaksikan oleh Bupati Garut Rd. Adipati Aria Surya Kartalegawa (1915-1929).

Mengacu kepada kronologis sebelum berdirinya Mesjid Agung Kaum Cibatu, hingga dibangunnya mesjid tersebut, setidaknya dalam benak kita ada gambaran, kapan kentongan yang terbuat dari kayu nangkapait itu ada di Mesjid Agung Kaum Cibatu?

Tentunya berdasarkan logika, kentongan Mesjid Agung Kaum Cibatu yang terbuat dari kayu nangkapait tidak mungkin ada di mesjid itu semasa Adipati Wiratanudatar VIII (1871-1915). Akan tetapi secara logika, Kentongan Nangkapait itu pasti ada di mesjid tersebut pada kurun berkuasanya Bupati Garut Rd. Adipati Aria Surya Kartalegawa (1915-1929).

Soalnya Mesjid Agung Kaum Cibatu dibangunnya pada tahun 1926. Kala itu diresmikan oleh Wedana Cibatu Rd. Mardjoen Wirahadikusumah yang langsung disaksikan oleh Bupati Garut Rd. Adipati Aria Surya Kartalegawa (1915-1929).

Jadi narasi adanya Kentongan Nangkapait di Mesjid Agung Kaum Cibatu, ada dua kemungkinan, yaitu pertama, pada rentang antara tahun 1926 – 1929, yakni semasa berakhirnya kekuasaannya Bupati Garut Rd. Adipati Aria Surya Kartalegawa (1915-1929). Kedua, antara kurun tahun 1926 – 1934, yakni ketika digantinya Onderdistrik Nangkapait pada tahun 1934 menjadi Onderdistrik Sukawening.

Intinya yang dikehendaki dalam tulisan ini menelusuri Kentongan Nangkapait di Mesjid Agung Kaum Cibatu, bukan mepersoalkan, kapan Kentongan Nangkapait ada di mesjid tersebut?

Akan tetapi Penulis sajikan, tiadalain guna meyakinkan, bahwa informasi dari para orangtua dulu mengenai keberadaan pohon nangkapait, berikut kurun waktu dijadikannya nama Onderdistrik Nangkapait, bukanlah sebuah dongeng belaka yang dilagukan merdu demi menina bobokan anak simata wayang.

Kini realitanya terbukti, bahwa pohon nangkapait yang diabadikan sebagai nama kampung, dan kantor pemerintahan, serta dibikin kentongan benar-benar ada secara kasat mata. Saat ini Kentongan Nangkapait sebagai saksi bisu masih bisa dilihat di Mesjid Agung Kaum Cibatu (Mesjid Al-Muhsin) yang beralamat di Kampung Kaum RT.02, RW.05, Desa Keresek, Kecamatan Cibatu, Kabupaten Garut, Jawa Barat, Indonesia.

Untuk lebih meyakinkan, penulis membawa foto kentongan yang ada di masjid Agung Kaum Cibatu dan memperlihatkannya kepada H. Aan Nurwijaya Sastra, setelah mengamati foto Kentongan Nangkapait yang ada di Masjid Agung Kaum Cibatu (Mesjid Al-Muhsin), ia dengan spontanitas menyatakan, benar, bahwa kentongan itu sama dengan bentuk Kentongan Nangkapait pada jaman dulu yang selalu ditabuh Pak Abdul sebelum menunaikan shalat di Mesjid Agung Mulabaruk. Rupanya seperti perahu, kedua ujungnya ada lengkungan.

“Itulah Kentongan Nangkapait yang masih ingat terekam di dalam memory saya. Cuma kentongan yang ada di Mesjid Agung Mulabaruk, kini telah tiada karena rusak,” katanya. (DM).

Sumber: Benang Merah Lahirnya Sukawening-Ali Agus, SE.

© Copyright 2024 - Mahkotaindonesia.com
Added Successfully

Type above and press Enter to search.