Ada Jin H. Kewoh, Semua Kereta Harus Berhenti Dulu di Stasiun Cipeundeuy
Sebenarnya dengan dibangunnya Stasiun Cipeundeuy yang berada di wilayah Desa Cinagara, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, Provinsi Jawa Barat, oleh bangsa Belanda pada tahun 1893, tujuannya bukan hanya sebatas difungsikan untuk menaikturunkan penumpang. Akan tetapi setiap kereta di stasiun tersebut harus berhenti. Hal itu guna pemeriksaan secara seksama terhadap lokomotif. Soalnya Stasiun Cipeundeuy yang merupakan bagian dari Daerah Operasi II Bandung (Daop II Bandung) itu memiliki ketinggian +772 m di atas permukaan laut (dpl), ditambah lagi jalur setelah dan sesudah Stasiun Cipeundeuy kondisi medan jalannya naik-turun cukup menanjak.
Akan tetapi di sisi lain terkait dengan setiap kereta harus berhenti di stasiun tersebut, tersiar pula kabar mistik yang masih melekat menjadi buah bibir masyarakat. Katanya di wilayah antara Stasiun Ciawi, Cirahayu, Cipeundeuy, hingga ke Stasiun Bumiwaluya ada penguasa bangsa jin. Makanya setiap kereta api harus berhenti. Konon, andaikata tidak berhenti, katanya bakal ada saja kejadian kecelakaan kereta api di sekitar wilayah tersebut.
Atas Cerita Mistik dan Realita Stasiun Cipeundeuy itu, seorang warga asli dari Kampung Cipeundeuy Desa Cikarag yang akrab disapa Mamat menuturkan, menurut cerita dari ayahandanya, yakni almarhum Hadi sewaktu bekerja di Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA), memang sejak jaman penjajahan Belanda sudah diperintahkan, bahwa di Stasiun Cipeundeuy kereta api harus berhenti. Namun dibalik hal itu malah tersebar isu berbau mistik yang kian hari semakin diyakininya, Isu tersebut menyatakan, bahwa disekitar Stasiun Cipeundeuy ada penguasa bangsa jin.
“Masyarakat awam yang masih kental dengan kepercayaan terhadap bangsa jin, dan menduganya antara stasiun Ciawi, Cirahayu, Cipeundeuy, hingga ke Stasiun Bumiwaluya, ada bangsa jin yang menguasainya. Salahsatu buktinya, mereka menganggap dengan dirubahnya nama Stasiun Malangbong menjadi Stasiun Bumi Waluya, dan Stasiun Torowek diubah menjadi Stasiun Cirahayu, sehubungan disepanjang jalan rel kereta api dari ke-4 stasiun itu sering terjadi kecelakaan, karena ulah bangsa jin,” kata pria kelahiran 1954 yang akrab disapa Mamat.
Berdasarkan cerita mistik yang telah tersebar dikalangan masyarakat dari ahli spiritual menyebutkan, bangsa jin yang menguasai wilayah antara stasiun Ciawi, Cirahayu, dan Cipeundeuy, hingga ke Stasiun Bumiwaluya itu katanya bernama H. Kewoh. Konon ulahnya akan mengakibatkan malapetaka yang menimpa kereta api. Salahsatunya sewaktu jaman kereta api lokomotif dengan bahan bakar batu bara pernah mengalami kejadian lokomotif maupun gerbongnya anjlok terguling, dan sempat gerbongnya putus dari Lokomotif mundur lagi ke Torowek Stasiun Cirahayu di sekitar Kampung Wage.
Selain itu pada tahun 1995, setelah digantinya lokomotif dengan mesin disel, sewaktu tengah malam, selepas dari Stasiun Cipeundeuy di dekat jembatan Trowek ada peristiwa kecelakaan Kereta Api (KA) gabungan Galuh dan Kahuripan mengalami kecelakaan terperosok ke dalam jurang yang cukup dalam.
“Sehubungan disepanjang jalan tersebut rawan kecelakaan, maka sekitar tahun 1960-an ada sesepuh dari Kampung Wage bernama H. Komar menganjurkan untuk mengadakan selamatan upacara ritual menyembelih kerbau bule yang sekaligus menggelar ritual ruwatan Wayang Golek dengan dalangnya adalah Ki Uca dari Ciawi Tasik. Lokasi ritualnya harus di wilayah Kampung Wage Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasik,” tutur Mamat.
“Disamping kisah-kisah Mitos Stasiun Cipeundeuy tersebut, ternyata kata orang tua saya, semenjak bukannya stasiun itu pada tahun 1893, ahli teknis kereta api dari kebangsaan Belanda telah memerintahkan, bahwa setiap kereta api diwajibkan berhenti di stasiun ini. Waktu itu bukan untuk menaikkan dan menurunkan penumpang, melainkan untuk pemeriksaan rem, atau penambahan lokomotif dengan lama istirahat sekitar 2 jam,” ujar Mamat ketika bersua dengan penulis di rumah kediamannya.
Sampai saat ini perintah Belanda yang menganjurkan harus berhenti di Stasiun Cipeundeuy masih tetap diberlakukan. Kalau dulu hanya sebatas pemeriksaan, tapi untuk saat ini, disamping pemeriksaan, bisa menaikan dan menurunkan penumpang dengan lamanya berhenti selama 15 menit. Pasalnya jalur setelah dan sesudah Stasiun Cipeundeuy kondisi medan jalannya naik-turun cukup terjal. Ditambah lagi kondisi tanah yang dilintasi rel kereta api rawan longsor. Hal itu terbukti pada akhir Februari 2009 pernah terjadi longsor yang mengakibatkan perjalanan kereta api dari Bandung ke arah timur terpaksa untuk sementara dialihkan melalui Stasiun Cikampek dan Cirebon.
Sedangkan mengenai jalur kereta api sebelum dan sesudah Stasiun Cipeundeuy medan jalannya naik turun dan terjal, kita bisa melihat posisi masing-masing stasiun berdasarkan letak ketinggian diatas permukaan laut (dpl).
Stasiun Cibatu memiliki letak ketinggian +612 m dpl, Stasiun Bumiwaluya terletak pada ketinggian +541 m dpl, Stasiun Cipeundeuy berada pada ketinggian +772 m dpl, Cirahayu terletak pada ketinggian +525 m dpl, dan Ciawi posisi ketinggiannya +510 m dpl.
Dengan demikian, perjalanan kereta api dari Stasiun Cibatu posisinya akan menurun menuju Stasiun Bumiwaluya, kemudian akan melintasi jalan menanjak dengan membawa beban hingga ke Stasiun Cipeundeuy. Oleh karena itu dari jaman penjajahan Belanda sampai Indonesia merdeka masih diberlakukan, bahwa di Stasiun Cipeundeuy diwajibkan setiap kereta diperiksa dahulu. Makanya, hingga saat ini baik kereta kelas eksekutif, bisnis, dan ekonomi diwajibkan berhenti.
Begitu juga perjalanan kereta api dari Ciawi Tasik menuju Stasiun Cipeundeuy harus diperiksa dulu. Soalnya lokomotif kereta api itu telah menempuh jalan rel yang menanjak dengan membawa beban berat. Oleh karena itu setiap kereta api tetap harus diperiksa.
Pemeriksaan itu tiada lain untuk menghindari jangan sampai ada hal-hal yang tidak diharapkan, seperti kecelakaan Kereta Api Lodaya Malam jurusan Stasiun Bandung Hall-Solo Balapan yang ditarik lokomotif CC206 13 86 milik depot lokomotif JNG, pada tanggal 5 Oktober 2015. Kecelakaan terjadi pada lintasan antara Stasiun Cirahayu dan Stasiun Ciawi akibat as rodanya tergelincir. Sehingga sejumlah KA yang lewat jalur selatan terpaksa lewat jalur utara.
Wallahu A'lam Bishawab. Itulah ceritera mistik mengenai Jin H. Kewoh yang menguasai wilayah Stasiun Cipeundeuy dan sekitarnya yang mendatangkan malapetaka. Bisa jadi cerita mistik itu adalah sebuah mitos saja. Yang jelas, secara logika, jalur setelah dan sesudah Stasiun Cipeundeuy kondisi medan jalannya naik-turun cukup terjal. Ditambah lagi kondisi yang dilintasi rel kereta api tanahnya labil, serta rawan longsor. (DM).
✦ Tanya AI